Sejarah di Balik Tradisi Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) di Indonesia

Pada umumnya, THR dibayarkan oleh pemberi kerja kepada pekerjanya dalam bentuk uang yang diberikan mendekati perayaan agama yang dianut pekerja.
Ilustrasi. (Foto: Tagar/Pinterest)

TAGAR.id, Jakarta - Tunjangan Hari Raya (THR) selalu menjadi pembahasan menjelang lebaran. THR adalah pendapatan non upah yang dibayarkan kepada pekerja atau keluarganya menjelang hari raya dan ini tentu sangay dinantikan para pekerja.

Pada umumnya, THR dibayarkan oleh pemberi kerja kepada pekerjanya dalam bentuk uang yang diberikan mendekati perayaan agama yang dianut pekerja. Besaran THR yang diberikan kepada pekerja yang sudah bekerja selama satu tahun adalah sejumlah satu kali gaji. Sementara bagi pekerja yang kurang dari setahun, THR akan dibayarkan dengan perhitungan secara proporsional. Namun ada beberapa perusahaan membayarkan THR dalam bentuk kebutuhan pokok.

THR di Indonesia sudah seperti tradisi bagi masyarakat saat ingin atau akan menyambut Idul Fitri. Tapi, tahukah Anda Sejak kapan THR itu muncul dan menjadi tradisi bagi masyarakat?

Dilansir dari sptsk-spsi.org, sejarah THR bermula di Indonesia pada 1951. Istilah THR diperkenalkan Perdana Menteri dari Masyumi, Soekiman Wirjosandjojo, sekaligus ketua kabinet yang berkuasa kala itu, Kabinet Sukiman Suwirjo. Salah satu program kerja yang diusung kabinet ini dalam rangka meningkatkan kesejahteraan para pegawai dan aparatur negara (pamong pradja atau PNS) yaitu tunjangan.

Seokiman yang merupakan seorang tokoh politik, seorang pejuang kemerdekaan di Indonesia atau yang dikenal sebagai tokoh Partai Masyumi, dan juga seorang Perdana Menteri sekaligus Menteri Dalam Negeri Indonesia yang ke-6, Ia adalah orang yang dibalik tercetusnya tunjangan hari raya (THR) kepada para pekerja yang ada di Indonesia.

Seokiman kala itu memiliki program program kerja berupa meningkatkan kesejahteraan para pegawai sipil (PNS). Pada masa itu THR yang dibayarkan kepada para pegawai pada saat itu berkisaran Rp125 (USD 11) sampai Rp200 (USD 17,5).

Selain dalam bentuk uang, seokiman juga memberikan THR dalam bentuk beras yang diberikan setiap bulannya kepada para pegawai PNS. Namun pembagian THR sempat menimbulkan protes bagi para pekerja. Pada tahun 1951 yang merupakan tahun pertama terjadinya pembagian THR saat itu pembagian masih dilakukan secara lancar, lalu di tahun berikutnya yaitu tepat pada 1952 bekerja mulai memprotes hal tersebut karena THR hanya dibagikan kepada ada pegawai PNS saja, sehingga mereka merasa tidak adil dengan hal tersebut.

Oleh karena itu, di tahun yang sama pada tanggal 13 Februari 1952 banyak buruh yang melakukan aksi mogok kerja untuk menuntut pemerintah dan memberikan tunjangan juga kepada mereka. Sejak saat itulah kabinet Soekiman juga meminta perusahaan swasta untuk memberikan THR kepada para pekerjanya.

Tidak hanya itu pada tahun 1994 THR pun baru diresmikan secara khusus dan diatur dalam undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan dan peraturan menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 tahun 2016 tentang tunjangan hari raya keagamaan bagi pekerja atau buruh di perusahaan. []


Baca Juga



Berita terkait
Ini Sosok PNS yang Akan Terima THR Terbesar
Setiap aparatur sipil negara (ASN) memiliki hak untuk menerima tunjangan hari raya (THR). Adapun besaran THR yang akan diterima tentu berbeda-beda.
Peraturan Pemerintah Tentang THR dan Gaji Ke-13 ASN dan Pensiunan
THR dan Gaji Ke-13 Tahun sebagai wujud penghargaan atas pengabdian kepada bangsa dan negara dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara
Bunyi Lengkap PP Presiden Jokowi tentang THR Tahun 2022
Bunyi lengkap Peraturan Pemerintah 16/2022 tentang pemberian THR dan gaji ketiga belas kepada pegawai negeri, pensiunan, dan penerima tunjangan.
0
Sejarah di Balik Tradisi Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) di Indonesia
Pada umumnya, THR dibayarkan oleh pemberi kerja kepada pekerjanya dalam bentuk uang yang diberikan mendekati perayaan agama yang dianut pekerja.