UNTUK INDONESIA
Sampah Plastik Jadi Minyak Mentah di Banda Aceh
Mengunakan teknologi pirolisis, Pemerintah Banda Aceh mulai mengolah sampah plastik menjadi minyak mentah.
Pegawai Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) mengontrol mesin pengolahan dan pembakaran plastik (Firolisis) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gampong Jawa, Banda Aceh, Aceh, Senin, 31 Agustus 2020. Mesin firolisis milik DLHK3 Kota Banda Aceh yang digunakan untuk membakar sampah plastik dari TPA Gampong Jawa mampu menghasilkan tiga jenis BBM setara solar, bensin dan minyak tanah. (Foto: Antara/Irwansyah Putra)

Banda Aceh - Pemerintah Kota Banda Aceh terus berupaya mengurangi jumlah sampah dari sumbernya, salah satunya dengan teknologi pirolisis untuk mengurangi sampah plastik di komplek tempat pemrosesan akhir (TPA) Gampong Jawa, Banda Aceh, Aceh.

Kepala DLHK3 Banda Aceh Hamdani mengatakan, metode ini dilakukan untuk memusnahkan sampah plastik yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi dengan cara dibakar hingga suhu 400 derajat celcius.

“Keberadaan mesin ini tujuannya untuk menangani sampah-sampah plastik jenis kresek dan asoi yang selama ini tidak termanfaatkan,” kata Hamdani dalam keterangannya, Selasa, 1 September 2020.

Tapi tujuan kami bagaimana menangani sampah plastik yang selama ini tidak teratasi yang terbuang percuma sehingga bisa mengurangi dampak pencemaran lingkungan.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Hendra Gunawan menyebutkan, limbah plastik melalui proses pirolisis mampu diubah menjadi bahan bakar minyak setara bensin, solar dan minyak tanah. Namun tingkat pemurniannya masih tergolong rendah.

“Tingkat pemurniannya masih rendah. Minyak yang dihasilkan setara bensin, solar dan minyak tanah tapi kualiatasnya masih dibawah,” kata Hendra.

Proses pengolahan sampah plastik dengan proses pirolisis memiliki kelemahan yaitu tidak efisien pada pembuatan reaktor dalam skala besar hal ini diakibatkan oleh terjadinya bubling, chanelling, dan kurang ekonomis.

“Tapi tujuan kami bagaimana menangani sampah plastik yang selama ini tidak teratasi yang terbuang percuma sehingga bisa mengurangi dampak pencemaran lingkungan,” katanya.

Menurut Hendra mesin ini mampu membakar sampah plastik mencapai 200 kilogram per bulan. Untuk 30 kilogram sampah plastik saja dibutuhkan sebanyak 30 liter bahan bakar jenis solar. Karena biaya bahan bakar tergolong besar, pihaknya hanya mengoperasikan mesin tersebut di saat tertentu.

“Jadi kita melihat di keadaan tertentu kita mengoperasikannya,” ujarnya. []

Baca juga:

Berita terkait
Cara Warga Nagan Raya Aceh Halau Gajah Liar
Sejumlah warga di Kabupaten Nagan Raya memasang alat kontak kejut di perkebunan sawit guna mencegah adanya gangguan gajah liar.
Seorang Ibu di Aceh Diduga Kuburkan Bayi Hidup-hidup
Warga Kabupaten Aceh Tengah, Aceh digegerkan dengan penemuan seorang bayi yang dikubur hidup-hidup di sekitar rumahnya.
Jawaban Fauzi soal Legalitas BUMD Aceh Tamiang
Direktur PT Kwala Simpang Petroleum mengatakan dirinya tidak berstatus lagi sebagai pengurus Partai Gerindra Aceh Tamiang.
0
Pujian Juri Pop Akademy untuk Chelsea asal Ruteng NTT
Keysilia Dwisulandi Ndagung tampil memukau nyanyikan lagu "Hanya Rindu" saat tampil di grup delapan top 40 pop Akademy Indosiar.