UNTUK INDONESIA
Rwanda, Negara Sarat Konflik Yang Mampu Bangkit
Tragedi genosida yang pecah pada 1994 membuat Rwanda bangkit dan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan paling cepat se-Afrika.
Ibu kota Rwanda, Kigali. (Foto: Pinterest)

Jakarta - Rwanda dikenal sebagai negara yang pernah mengalami konflik horizontal pada dekade 90-an. Berdasarkan catatan Tagar, pada 1994 negara ini menghadapi konflik genosida yang menewaskan sekitar satu juta jiwa. Akibat tragedi kemanusiaan itu, kepercayaan dunia internasional terhadap negara di Afrika Tengah tersebut menjadi surut dan berdampak pada kemerosotan ekonomi.

Berdasarkan laporan Dana Moneter Internasional (IMF) tahun 1994, produk domestik bruto (PDB) Rwanda hanya mencapai 416 dollar Amerika Serikat (AS). Namun setahun kemudian, negara ini mampu bangkit. Ekonomi Rwanda mulai menggeliat lagi setelah mendapat bantuan kemanusiaan dari PBB, AS, Belgia, Belanda, Perancis, China, dan Bank Dunia.

Pembangunan dimulai dengan rehabilitasi infrastruktur pemerintahan seperti gedung pemerintah, lembaga peradilan, fasilitas kesehatan, dan sekolah. Selain membangun infrastruktur dan fasilitas publik, pemerintah Rwanda saat itu mulai mencanangkan pembangunan landasan sistem ekonomi yang dapat menurunkan ketergantungan pendapatan negara dari hasil pertanian.

Pemerintah mulai membuka kegiatan ekonomi baru seperti jasa dan pembangunan sektor industri. Upaya ini mampu mengangkat PDB Rwanda yang bertumbuh hingga 13 persen pada 1996 melalui penerimaan pajak, percepatan privatisasi perusahaan-perusahaan negara untuk menggenjot kompetisi domestik, dan pembangunan sistem pertanian modern yang berkelanjutan di sektor komoditas tanaman pangan seperti kentang, kacang, pisang, sorgum, kopi, dan teh.

Perekonomian Rwanda semakin membaik memasuki dekade 2000-an. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya ekspor sejumlah komoditas pertanian seperti kopi yang mencapai 14,5 juta ton pada tahun 2000 dan teh mencapai 15.000 ton yang menghasilkan sekitar 18 juta dollar AS pada 2002. Pembangunan ekonomi yang membaik berdampak pada pemulangan korban genosida Rwanda yang sebelumnya mengungsi ke negara tertangga seperti Uganda, Burundi, dan Republik Demokratik Kongo.

Tahun 2006 menandai awal masa pertumbuhan pesat ekonomi Rwanda. Saat itu, secara mengejutkan ekonomi Rwanda mampu bertumbuh hingga sembilan persen. Pemerintah Rwanda mengupayakan pertumbuhan ekonomi mereka tetap stabil diatas enam persen. Rwanda tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan paling tinggi di Afrika Selatan.

Sejak 2006 hingga 2011, Rwanda mampu mengurangi angka kemiskinan dari 57 persen menjadi 45 persen. Pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik juga meningkatkan suplai listrik dari 91.000 pada 2006 menjadi 215.000 pada 2011.

Dilansir dari Global International Index, pada 2016 Rwanda menempati urutan ke-42 sebagai negara terbaik di dunia dan posisi kedua di Afrika. Aktivitas ekspor komoditas pertanian dan peternakan ke beberapa negara seperti China, Uganda, India, Kenya, Tanzania, dan Uni Emirat Arab turut menyumbang pendapatan besar kepada negara. Selain di sisi ekspor, Rwanda juga mendapat banyak pemasukan dari sisi pariwisata. Pada 2010, sektor tersebut menyumbang 43,6 persen PDB. Wisata alam dan religi menjadi komoditas utama di negara tersebut.


Berita terkait
Rwanda dan Tragedi PKI
'Tuhan menciptakan peristiwa supaya manusia belajar mengambil makna dan berbuat lebih baik dari yang pernah ada.' - Denny Siregar
Beberapa Negara Afrika Tolak Proyek OBOR China
Meski populer, namun beberapa negara di Afrika tidak tertarik menjajaki kerjasama investasi dengan China melalui proyek OBOR.
Lima Jenis Bisnis Kebal Resesi Ekonomi
Ada beberapa jenis usaha yang mampu bertahan atau bahkan tidak terdampak resesi ekonomi.
0
Pengamat Sebut Gerindra Bisa Jadi Koalisi-Kritis
Apabila Gerindra bergabung ke pemerintahan Jokowi, partai tersebut bisa berperan menjadi koalisi-kritis.