UNTUK INDONESIA
Rumah Tahan Gempa Warisan Nenek Moyang Indonesia
Sesungguhnya nenek moyang Indonesia meninggalkan warisan sangat berharga, yaitu rumah tahan gempa.
Pekerja menyelesaikan pembangunan rumah Kuat Aman Cepat (Kumac) di Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Minggu (21/10/2018). Rumah tipe 36 berbahan dasar styrofoam dan serat fiber tersebut dijual Rp 50 juta per unit dengan keunggulan lebih cepat pembuatannya, anti rayap, anti karat, anti jamur dan tahan gempa hingga 9 SR. (Foto: Antara/Ahmad Subaidi)

Jakarta - Sesungguhnya nenek moyang Indonesia meninggalkan warisan sangat berharga, yaitu rumah tahan gempa. Nenek moyang paham Indonesia memang rawan gempa, sehingga mereka membuat rumah tahan gempa sejak dulu kala. 

Hal tersebut disampaikan Yanuar Haryanto, dosen jurusan teknik sipil, Fakultas Teknik, Universitas Jenderal Soedirman bidang keahlian struktur spesialisasi kegempaan dan perbaikan/perkuatan struktur.

"Hunian tradisional Indonesia ternyata dirancang tahan gempa oleh para nenek moyang kita. Pemakaian struktur kayu dan bambu dengan atap memakai rumbia atau ijuk terbukti dapat bertahan ketika ada goncangan gempa," ujar Yanuar dilansir Antara.

Untuk kondisi sekarang, Yanuar kembali mengingatkan Indonesia rawan gempa sehingga sangat penting bagi masyarakat Tanah Air mendirikan rumah tahan gempa.

Ia menjelaskan tingkat risiko gempa ditentukan dua faktor utama yaitu besarnya tingkat ancaman (hazard) dan besarnya tingkat kerentanan (vulnerability).

Masyarakat tidak perlu khawatir karena pada saat ini sudah banyak material di pasaran yang mendukung perencanaan rumah tahan gempa.

Mengingat besarnya tingkat ancaman tidak dapat dikurangi karena merupakan fenomena alam maka yang bisa dilakukan adalah memperkecil tingkat kerentanan.

Salah satu manifestasi paling konkret dari upaya memperkecil tingkat kerentanan itu adalah mendirikan rumah tahan gempa. 

Lantas, seperti apakah rumah tahan gempa yang dimaksud?

Menurut Yanuar, prinsip utama dalam mendirikan rumah tahan gempa adalah memiliki denah dan struktur bangunan yang simetris.

Dengan denah yang sederhana dan simetris akan memudahkan untuk menentukan letak titik-titik kolom dan pondasi yang akan menjadi rangka struktuk utama pada bangunan.

Misalnya untuk kolom beton bertulang yang ideal untuk rumah tinggal biasanya berjarak 3-4 meter.

Yanuar menjelaskan, struktur bangunan sederhana dan simetris dapat menahan gaya gempa yang lebih baik daripada bangunan dengan bentuk yang tidak beraturan, karena gaya gempa yang terjadi dapat terdistribusi secara merata ke semua elemen struktur.

Yang tidak kalah penting dalam mendirikan rumah tahan gempa adalah pemilihan material yang juga ramah terhadap gempa.

Besarnya gaya gempa yang diterima sebuah bangunan berbanding lurus dengan berat bangunan itu sendiri. Itu sebabnya penting untuk membuat bangunan menjadi lebih ringan dengan menggunakan bahan bangunan yang ringan.

Ia menambahkan, masyarakat tidak perlu khawatir karena pada saat ini sudah banyak material di pasaran yang mendukung perencanaan rumah tahan gempa.

Selain itu, pemakaian dinding beton aerasi atau bata ringan juga lebih baik dari bata dan batako. Untuk atap juga sebaiknya dipakai rangka baja ringan dan genteng aspal atau seng gelombang. Dan pemakaian partisi dari gypsum atau GRC juga dapat membuat massa bangungan menjadi lebih ringan.

Selain itu, sistem konstruksi penahan beban pada rumah tahan gempa harus diperhatikan agar struktur pondasi, kolom, balok dan struktur atap menyatu dengan sambungan yang memadai.

Untuk konstruksi kayu selain perlu tambahan struktur menyilang (bracing) harus dilengkapi dengan plat baja pengikat di setiap pertemuan sehingga menjamin fleksibilitas geraknya dan bangunan dengan struktur beton bertulang harus memakai tulangan yang tepat sesuai dengan perhitungan strukturnya, baik tulangan utama maupun begel atau sengkangnya.

"Sambungan antara kolom, pondasi dan 'sloof' pun harus diperhatikan detailnya agar mempunyai kekuatan yang cukup untuk menahan beban gempa," katanya.

Satu hal yang juga sangat penting terkait pendirian rumah tahan gempa adalah makin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya mitigasi bencana.

Kesadaran akan bahaya gempa atau awarness itu penting, mengingat kejadian gempa tidak dapat dihindari namun risiko yang ditimbulkan dapat diminimalisir. Satu di antaranya dengan cara membuat rumah tahan gempa. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Riza Patria Mundur dari DPR untuk Rebut Wagub DKI
Ahmad Riza Patria telah melayangkan surat pengunduran diri sebagai anggota DPR untuk melengkapi syarat administrasi pemilihan wakil Gubernur DKI.