UNTUK INDONESIA
Rumah Sakit USU Periksa 541 Sampel Swab, 50 Positif
Laboratorium Rumah Sakit USU sudah memeriksa 541 sampel swab pasien suspek Covid-19. Sebanyak 50 di antaranya dinyatakan positif.
Ketua Tim Lab Pemeriksa Covid-19 RS USU Dewi Indah Sari Siregar (kanan) dan Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumatera Utara.(Foto: Tagar/Istimewa)

Medan - Laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) Covid-19 Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara sudah memeriksa 541 sampel swab pasien suspek Covid-19. Sebanyak 50 di antaranya dinyatakan positif.

Ketua Tim Laboratorium Pemeriksa Covid-19 RS USU Dewi Indah Sari Siregar mengatakan itu dalam sesi wawancara dengan Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumatera Utara, dr Whiko Irwan di Medan pada Kamis, 7 Mei 2020.

Dewi mengaku sejak awal diresmikan hingga sekarang, Laboratorium RS USU sudah memeriksa 541 sampel atau spesimen yang tersebar di seluruh daerah di Sumatera Utara. Dalam keadaan normal, pihak rumah sakit bisa melakukan pemeriksaan hingga 96 sampel per hari.

“Dengan catatan hingga kini, jumlah pasien yang dinyatakan positif dari sini sebanyak 50-an orang. Ini hasil terbaru yang kami terima,” kata Dewi.

Untuk melakukan pemeriksaan PCR terdiri dari dua langkah. Pertama pemeriksaan pre PCR, yakni ekstraksi. Kemudian menggunakan PCR yang kini alatnya sudah dimiliki RS USU.

“RS USU juga punya alat ekstraksi yang sifatnya otomatis. Jadi itu sangat membantu kami dalam pemeriksaan. Jadi untuk bahan-bahannya sebagian dibeli oleh RS USU, sebagian dengan bantuan dari Menristek Dikti, juga dari Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kemenkes RI dan BNPB,” tuturnya.

Adapun fase pemeriksaan selanjutnya, pertama adalah pengambilan sampel dengan swab yang kemudian dimasukkan ke virus transport media (VTM), selanjutnya ekstraksi virus dan terakhir PCR.

"Untuk metode pemeriksaan sendiri, semuanya hampir sama dengan yang digunakan di seluruh Indonesia. Sebab setiap langkahnya tetap harus berkoordinasi dengan Puslitbangkes Kemenkes, baik dari segi hasil, kualitas pengendalian dan pemantapan kualitas eksternal," tuturnya.

Pemeriksaan spesimen atau sampel yang diambil dari penderita Covid-19, RS USU menggunakan cairan yang diambil dari dua tempat. Pertama nasofaring dan kedua orofaring.

Sampai sekarang RS USU tidak menarik biaya untuk masyarakat

"Nasofaring cairan tenggorokan bagian atas dan orofaring cairan tenggorokan bagian tengah. Kedua cairan ini akan dimasukkan ke dalam VTM. Bila tidak ada kita gunakan universal TM, kemudian nanti dikirimkan ke lab pemeriksa. Pengiriman bekerja sama dengan dinas kesehatan daerah dan provinsi,” jelasnya.

Soal pemeriksaan yang bisa dinyatakan negatif dan berubah menjadi positif untuk kedua kalinya, Dewi menerangkan bahwa ada beberapa hal yang bisa menyebabkan perbedaan antara swab 1, swab 2, dan swab 3.

“Pertama adalah pre analytic, yakni teknik pengambilan sampelnya. Bagaimana penyimpanan VTM dan bagaimana cara pengiriman VTM sangat mempengaruhi hasil yang diperoleh. Kemudian, kapan dilakukan swab. Apakah terlalu awal, atau mungkin terlambat. Bisa saja pasien rapid testnya positif, kemudian beberapa hari baru diperiksa hasilnya bisa negatif. Salah satu yang menyebabkan hasil berbeda, adalah itu tadi, kapan dilakukan pengambilan swab dan lainnya," ungkapnya.

Pemeriksaan PCR sendiri, digunakan gen. Hal ini menurut standar ada beberapa jenis yang direkomendasikan WHO seperti RDRP (RNA-Dependent RNA Polymerase) dan lainnya. Namun bukan hanya untuk melihat Covid-19, tetapi bisa juga untuk SARS atau MERS, di mana pada masa pandemi sekarang ini, pihaknya diminta meningkatkan sensitivitas.

“RS USU juga membuka (diri) bagi pasien atau warga yang mencurigai dirinya terkena Covid-19 ini untuk datang ke sini. Nanti ada tim khusus yang bertugas untuk men-screening, akan ada wawancara di awal, apakah ada keluhan, riwayat kontak. Kemudian dari situ dapat pemilahan apakah pasien masuk dalam kriteria ODP, PDP, OTG atau bahkan kontak erat,” terang Dewi.

Untuk biaya, biasanya bisa mencapai Rp 1 Juta hingga Rp 2 juta per satu spesimen, tergantung produsen yang menghasilkan reagent (reagensia: larutan zat dalam komposisi dan konsentrasi tertentu yang digunakan untuk mengenali zat lain yang belum diketahui sehingga diketahui isi zat lain tersebut).

“Sampai sekarang RS USU tidak menarik biaya untuk masyarakat. Keseluruhan biaya ditanggung USU, Mendikbud dan bantuan pusat serta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara,” tambahnya.

Jubir Gugus Tugas, Whiko mengatakan, Tim Laboratorium Pemeriksa Covid-19 RS USU sudah bekerja dengan maksimal untuk penanganan pandemi ini. "Kita sekarang lebih bersyukur lagi dengan hadirnya Laboratorium RS USU, pekerjaan menjadi lebih efisien," katanya.[]

Berita terkait
Dukungan 225 PTS di Sumut untuk Penanganan Covid-19
Sebanyak 225 perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara, menyatakan dukungan terhadap upaya penanganan dan dampak pandemi Covid-19.
Medan Penyumbang Pasien Covid-19 Terbanyak di Sumut
Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang penyumbang pasien suspek corona terbanyak di Sumatera Utara.
Pasien Covid-19 yang Sembuh di Sumut 43 Orang
Pasien positif Covid-19 yang mengalami kesembuhan di Sumatera Utara bertambah dari 41 menjadi 43 orang.
0
Rumah Sakit USU Periksa 541 Sampel Swab, 50 Positif
Laboratorium Rumah Sakit USU sudah memeriksa 541 sampel swab pasien suspek Covid-19. Sebanyak 50 di antaranya dinyatakan positif.