Indonesia
Rumah Dinas Wakil Wali Kota Siantar Tidak Terawat
Rumah dinas Wakil Wali Kota Siantar yang ditempati Togar Sitorus tidak terawat.
Kondisi tulisan rumah dinas Wakil Wali Kota Siantar, Togar Sitorus. (Foto: Tagar/Fernandho Pasaribu)

Pematangsiantar - Rumah adalah cermin diri penghuninya. Di mana ketika rumah yang kita miliki rapi dan bersih, begitu jugalah diri penghuninya. Begitu pula sebaliknya, jika rumah yang kita tempati tidak teratur dan jorok, orang pasti menilai kita buruk.

Seperti yang terjadi di rumah dinas Wakil Wali Kota Pematangsiantar Togar Sitorus. Pantauan Tagar, tulisan "Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pematangsiantar"  yang ada di depan rumah itu tak terawat bahkan sebagian besar hurufnya hilang,  hingga tak terbaca. Sudah dua tahun tulisan itu tak terbaca lagi, namun sampai saat ini tak ada perbaikan. 

Ketika dikonfirmasi, Togar mengatakan sejak awal menempati rumah telah meminta kepada ajudannya agar memperbaiki tulisan tulisan yang hilang. Namun, perbaikan itu tidak terealisasi hingga saat ini. "Tapi saya sudah pernah ajukan, tapi belum terealisasi. Sejak saya tempati sudah gak ada lagi (tulisan Rumah Dinas Wakil Wali Kota). Gak ada realisasi (perbaikan) itu," katanya.

Menurutnya, merawat rumah dinas yang digunakannya sehari-hari untuk beristirahat tidak terlalu penting. Karena baginya mengurus masyarakat lebih utama. "Itu (tulisan) ada lepas memang saya lihat. Kita kan perlu ngurus masyarakat, gak perlu urus-urus rumah," ucapnya.

Wali Kota SiantarRumah dinas Wakil Wali Kota Siantar, Togar Sitorus. (Foto: Tagar/Fernandho Pasaribu)

Direktur Eksekutif Study Ekonomi dan Pembangunan Demokrasi (SOPo), Kristian Silitonga, menanggapi perihal tidak terawatnya rumah dinas yang ditempati Togar Sitorus.

"Sesungguhnya menggambarkan tanda-tanda utama dari kondisi yang menerangkan eksistensi pejabat tersebut. Itulah gambaran nyata bagaimana sesungguhnya kinerja beliau," katanya ketika ditemui di salah satu warung kopi di Siantar.

Kristian juga menyimpulkan dari rumah yang merupakan aset negara yang digunakan sehari-hari oleh Togar saja tidak bisa dirawat. Bagaimana kemudian ingin mengurus masyarakat luas, karena sepatutnya tampilan rumah dapat menggambarkan jati diri seseorang.

"Jangankan mengambil kebijakan publik untuk masyarakat luas, memelihara aset negara tak becus. Jadi, gambaran hilangnya simbol-simbol itu sedang menunjukkan, begitulah mutu dan kualitas kinerja pejabat pemerintah ini. Dengan soal-soal kecil saja mereka sudah abai dan tidak fokus, apalagi mengurus masyarakat dan kebijakan publik," katanya.

Terkait pernyataan Togar yang mengatakan tidak perlu mengurus rumah, Kristian mengatakan mereka harus tetap memelihara dan merawat aset negara, terlepas mereka suka atau tidak, karena itu sudah kewajiban pejabat pemerintah.

"Itukan rumah dinas. Artinya itu berada pada aset negara. Inikan bukan soal suka atau tidak tetapi sudah kewajiban untuk memelihara, merawat dan tetap memaintenance wilayah-wilayah sekitarnya. Yang kita lihat dari situ adalah, mereka itu selaku pimpinan memang tidak fokus dan tidak perduli dengan perkembangan itu jadi bagaimana melihat persoalan publik atau warga kalau melihat persoalan di sekitarnya saja dalam konteks perawatan rumah dinas sudah memprihatinkan," tambahnya.

"Gambaran rumah dinas seperti itu sesungguhnya adalah gambaran yang nyata tentang kinerja atau keberadaan mereka sendiri. Bagi saya, gambaran bagi rumah dinas yang tidak terurus itu sesungguhnya adalah menggambarkan bagaimana kinerja mereka, kita prihatin dengan itu," tutupnya. []

Baca juga: 

Berita terkait
0
Uang Makan Napi Rp 20 Ribu, Rupan: Tidak Manusiawi
Besaran anggaran negara untuk narapidana di lembaga pemasyarakatan maupun rumah tahanan sebesar Rp 20 ribu per tiap hari tidak manusiawi.