UNTUK INDONESIA
Ruhana Kuddus, Wartawati Berjuang di Bawah Patriarki
Ruhana Kuddus, pejuang literasi dan jurnalis, salah satu dari segelintir pejuang perempuan yang berkutat dengan tekanan budaya patriarki
Ruhana Kuddus, pejuang literasi dan jurnalis dari Sumatera Barat (Foto: antaranews.com)

Jakarta - Ruhana Kuddus menjadi salah satu dari segelintir pejuang perempuan yang berkutat dengan tekanan budaya patriarki. Wartawati pertama Indonesia ini gencar menyuarakan berbagai persoalan gender di masanya melalui tulisan-tulisannya yang bertebaran di beberagai surat kabar saat itu.

Meski tak pernah merasakan bangku pendidikan secara formal, perempuan kelahiran Kabupaten Agam, Sumatra Barat, 20 Desember 1884 ini memiliki komitmen yang kuat terhadap pendidikan. Melalui ayahnya, ia didik menjadi seorang yang gemar membaca. Tak butuh waktu lama, di usia muda, ia telah mahir menulis dan membaca, bahkan berbahasa Belanda.

Ambisinya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan membuatnya diganjar berbagai penganugerahan seperti Bronzen Ster (1941), Wartawati Pertama Indonesia (1974), penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto (1987), Penghargaan Kebudayaan Depatemen Kebudayaan dan Pariwisata (2007), dan terakhir ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) (2019).

Berikut sederet fakta tentang Ruhanna Kuddus

1. Karier Jurnalis

Kariernya di dunia jurnalisme ia mulai dengan menjadi penulis di di surat kabar perempuan, Poetri Hindia. Sebelum akhirnya ditutup oleh pemerintah Belanda pada saat itu.

Usai pemberedelan Poetri Hindia, sepupu Agus Salim ini kemudian berinisiatif mendirikan surat kabar perempuan miliknya sendiri yang ia beri nama Sunting Melayau sekaligus menjabat sebagai Pimpinan Redaksi. Sunting Melayu tercatat sebagai surat kabar pertama dengan pimpinan redaksi, redaktur, dan penulisnya seorang perempuan.

2. Mendirikan Sekolah Perempuan

Usai menikah dengan Abdul Kudus, Ruhana kemudian mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan yang diberi nama Perkumpulan Keradjinan (PK) Amai Satia. Sekolah yang didirikannya pada 11 Februari 1911 ini mempelajari berbagai jenis keterampilan seperti, membaca, menulis, mengelola keuangan, Bahasa Belanda, pendidikan agama, hingga budi pekerti.

Di sekolah ini, Ruhana juga mengembangkan bakat bisnisnya. Bermodal kerja sama dengan pemerintahan Belanda, Ruhana berlaku sebagai distributor atas karya-karya dari anak didiknya dan sukses memasarkan karya mereka hingga ke Eropa.

3. Keluarga

Perempuan yang lahir di era Kartini ini merupakan sepupu dari seorang pahlawan nasional, H Agus Salim. Selain itu, ia juga bibi dari Chairil Anwar, seorang penyair terkenal.

Tak hanya itu, ia Ruhana adalah saudara dari Sutan Syahrir.

4. Tutup Usia

Menjelang akhir hayatnya, Ruhana merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Diperantaunnya, Ruhana memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Ia juga pernah menjadi redaktur surat kabar Radio dan Cahaya Sumatra di Padang. Hingga kini, namanya dikenang sebagai pejuang kaum perempuan dan pahlawan bangsa. []

Berita terkait
Pejuang Iklim Greta Thunberg Kena Bully Donald Trump
Greta Thunberg kena bully Presiden Amerika Serikat Donald Trump, lantaran dinobatkan sebagai Person of the Year 2019 versi Majalah Time.
0
Wanita asal Simalungun Tewas di Sungai Asahan
Seorang wanita asal Kabupaten Simalungun, ditemukan tak bernyawa di aliran Sungai Silau, Kabupaten Asahan.