UNTUK INDONESIA
Remaja 14 Tahun Maluku Gantung Diri, Ini Kata Psikolog
Berikut penjelasan Psikolog Institut Agama Kristen Negeri Ambon, Junita Sipahelut terkait remaja 14 tahun gantung diri.
Psikolog Institut Agama Kristen Negeri Ambon, Junita Sipahelut. (Foto: Tagar/Dok. Pribadi Junita)

Ambon - Psikolog Institut Agama Kristen Negeri Ambon, Junita Sipahelut mengatakan, kematian remaja putri Vita Agnes Tuarissa, 14 tahun, dengan cara gantung diri karena adanya kecewaan mendalam terhadap ayahnya.

Dengan begitu, mempengaruhi suasan hati siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, itu sehingga mengakhiri hidupnya dengan cara tidak wajar.

"Permasalahan ini, tidak perlu dianggap sebagai kasus yang biasa, harus ada penanganan khusus," ujar Junita kepada Tagar menanggapi kematian remaja putri tersebut, Rabu, 16 September 2020.

Harus belajar dari kematian Vita ini, sebagai pintu masuk untuk gencar melakukan edukasi bagi kalangan remaja.

Menurutnya, kematian Vita tak hanya dilihat dari persoalan keluarga saja dalam lingkup terbatas. Tapi  minimnya edukasi juga mempengaruhi anak sesuai Vita dapat melakukan bunuh diri akibat emosi yang tidak stabil.

Masalah lain lagi, kurangnya pengetahuan tentang cara mengatasi stres membuat para remaja memandang bahwa kematian adalah hal termuda untuk menyelesaikan suatu masalah.

"Harus belajar dari kematian Vita ini, sebagai pintu masuk untuk gencar melakukan edukasi bagi kalangan remaja," tandasnya.

Semenjak pandemi Covid-19, kata Junita, angka bunuh diri di Maluku meningkat dan ini kurang diperhatikan oleh pemerintah.

Jika Melihat fenomena bunuh diri yang terjadi dari perspektif psikologi sosial. Adanya, anomali jiwa atau ketidaknormalan maupun penyimpangan seseorang.

"Fenomena bunuh diri merupakan salah satu bentuk ekspresi anomali dalam kejiwaan seseorang," katanya.

Junita menambahkan, merujuk ke pendapat dokter Pandey, adanya aktivitas enzim yang disebut protein kinaze C di dalam pikiran manusia yang bisa mempengaruhi suasana hati memicu keinginan mengakhiri nyawa sendiri.

Sebelumnya, Vita Agnes Tuarissa, siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Desa Tihulale, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, akhiri hidupnya dengan gantung diri.

Remaja putri berusia 14 tahun itu meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya. Dalam suratnya berisi kekecewaan terhadap ayahnya yang tega meninggalkan dirinya dan ibunya.

Kejadian itu terjadi pada Kamis 10 September 2020 pukul 17,39 WIT. Vita hanya tinggal bersama ibunya, Fani Tuarissa, karena telah ditinggal pergi ayahnya. []

Berita terkait
Suami Gantung Diri di Depan Istri di Jeneponto
Usai cekcok dengan istri, pria jeneponto gantung diri di depan istrinya. Ini kronologinya.
Kades di Ende NTT Ditemukan Tewas Gantung Diri
Seorang kepala desa di Ende Flores Nusa Tenggara Timur ditemukan tewas gantung diri
Kronologi Kades di Ende Ditemukan Tewas Gantung Diri
Ini kronologi kepala Desa Mbobhenga Kecamatan Nangapanda Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), gantung diri.
0
Bukan Corona, Ternyata Nyamuk Pembunuh Nomor 1 Dunia
Pakar IPB, Prof Upik Kesumawati Hadi menyebut masyarakat harus mewaspadai nyamuk, karena merupakan pembunuh nomor satu di dunia.