UNTUK INDONESIA
Rasyid Bakri, dari Anak Gawang Kini Pilar PSM
PSM Makassar selalu munculkan gelandang bertahan top. Setelah era Syamsul Chaerudin, kini PSM punya Rasyid Bakri yang sebelumnya anak gawang.
PSM Makassar selalu memunculkan gelandang bertahan andalan. Setelah era Syamsul Chaerudin, kini PSM memiliki Rasyid Bakri. Berawal dari anak gawang, Rasyid telah menjadi andalan tim Juku Eja. (Foto: Instagram/@rasyid_bakri17)

Makassar - PSM Makassar selalu memunculkan gelandang bertahan andalan. Setelah era Syamsul Chaerudin, kini PSM memiliki Rasyid Bakri. Dirinya mengawali kecintaan pada PSM dengan menjadi anak gawang. Kini, Rasyid merupakan pilar tak tergantikan di lini tengah tim Juku Eja. 

Tak mudah bagi seorang Rasyid untuk menjadi pemain bola profesional. Butuh perjuangan panjang dan kerja ekstra keras, yang ditopang bakat. Namun talenta saja tidak cukup bila tidak ada tekad dan kerja keras. 

Tidak ketinggalan dukungan dari kedua orang tua, beserta keluarga. Ini menjadi penopang utama yang sangat berarti bagi Rasyid. Hasilnya, eks pemain tim nasional U-23 ini menjadi pilar kekuatan PSM. 

Saya akhirnya kembali berlatih. Bahkan saya lebih giat lagi berlatih dan menambah porsi latihan. Namun saya tak lagi memikirkan bakal bisa masuk PSM

Pemain bertinggi bertinggi 164 cm ini kerap bermain dengan determinasi tinggi. Tak hanya itu, dia memiliki karakter keras dan lugas serta selalu tepat sasaran saat mengumpan bola. Harus diakui kemampuan passing dia memang akurat. 

Sebagai lini pertama dalam pertahanan, dirinya juga memiliki kemampuan melakukan tackling yang bersih. Rasyid juga memiliki kelincahan saat mengoceh si kulit bundar dan lawan sulit merebut bola di kakinya.

Performa ciamik sebagai gelandang bertahan menjadikan Rasyid dianggap sebagai penerus sang legenda PSM, Syamsul Chaeruddin. Ya, Syamsul merupakan sosok pekerja keras yang tak lain tipikal pemain di posisi 'tukang angkut air'. Dirinya selalu naik membantu serangan dan cepat turun untuk melapis pertahanan. 

Meski demikian Rasyid tetap memiliki ciri khas sendiri. Apalagi, dia memang sosok yang tenang sehingga menampilkan gelandang elegan. Lebih dari itu, dia selalu menunjukkan konsistensinya. Tak heran bila banyak klub besar Liga 1 mengincar tanda tangan pemain asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) ini.

"Hampir setiap tahun selalu ada tawaran dari klub lain. Tetapi saya masih mencintai PSM," kata Rasyid dalam wawancara dengan Tagar, Selasa, 14 September 2020.

Dukungan dari Keluarga

Rasyid sudah menunjukkan kecintaan pada sepak bola sejak masih kecil. Saat itu, Rasyid yang beralaskan kaki kerap bermain bola di jalanan maupun di halaman masjid di kampung halaman di Palangga Kabupaten Gowa.

"Saat kecil saya sudah sering ikut bermain bola dengan teman-teman dekat rumah. Kami biasanya bermain di jalanan atau halaman masjid," kata Rasyid mengenang.  

Sejak umur 9 tahun, Rasyid memang sudah akrab dengan bola. Saat itu pula pasangan Bakri Jalil dan Ibu Supiani mulai melihat bakat dan semangat anaknya bila bermain bola. Bakri Jalil pun mendaftarkan Rasyid di Sekolah Sepak Bola (SSB) yang tak jauh dari rumah.

"Alhamdulilah orang tua selalu mendukung. Kesukaan saya bermain bola bisa disalurkan lewat SSB. Mereka juga mendukung saya meraih cita-cita menjadi pemain sepak bola profesional," tuturnya.

Rasyid BakriGelandang PSM Makassar Rasyid Bakri menuturkan dirinya bisa menjadi pesepak bola profesional karena kemauan dan kerja keras. Namun yang menjadi penopang utama adalah dukungan orang tua. (Foto: Instagram/@rasyid_bakri17)

Dari SSB setempat, ayahnya memasukkan Rasyid ke SSB Kalegowa. Rasyid cukup lama berlatih di SSB itu sebelum pindah ke salah satu sekolah bola ternama di Kota Makassar yaitu Makassar Football School (MFS) 2000.

Bergabung di MFS 2000, Rasyid mendapatkan jam pertandingan yang cukup banyak. Berbagai turnamen skala lokal Makassar hingga nasional diikuti dia. 

Rasid kian berkembang. Saat menginjak remaja, dia pernah menjadi bagian dari Makassar Utama U-15, PSM U-15 dan bahkan terpilih memperkuat Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas). 

Tak sampai di situ, Rasyid juga ikut tim Pra Porda Gowa, dan menjadi pemain Pra Pon Sulsel. Puncaknya, gelandang yang dikenal religius ini pernah mewakili Indonesia pada turnamen Internasional Danone Cup di Lyon, Prancis, 2005.

Rasyid sudah mencicipi berbagai turnamen dan ditangani banyak pelatih. Namun, menurut dia, pelatih pertama dalam karier sepak bola adalah sang ayah. Dia terus memberikan motivasi tinggi saat Rasyid menyatakan keinginan menjadi pemain profesional. 

"Pelatih pertama saya adalah bapak saya sendiri. Beliau sangat keras dalam melatih saya. Tak hanya itu, bapak juga punya harapan saya menjadi pemain PSM," kata dia menerangkan.

Gagal Seleksi, Ditolak PSM U-21

Rasyid termasuk sudah sarat pengalaman saat berusia remaja dan menjadi pemain yunior. Menurut dia sudah saatnya bergabung dengan PSM U-21. Dirinya pun mengikuti seleksi. 

Sayangnya baru mengikuti tes pertama, Rasyid sudah gugur. Saat itu, dia merasa sangat kecewa karena gagal seleksi dan ditolak bergabung dengan tim muda PSM. Saking sedihnya, Rasyid mengaku menangis sepanjang perjalanan pulang dari Karebosi ke Gowa.

Dirinya sempat putus asa dan menolak latihan. Bagaimana tidak, bagi anak Makassar, mimpi mereka saat bermain bola adalah PSM. Namun ayahnya memberikan motivasi agar terus berlatih. 

"Saya akhirnya kembali berlatih. Bahkan saya lebih giat lagi berlatih dan menambah porsi latihan. Namun saya tak lagi memikirkan bakal bisa masuk PSM. Pasalnya saya pernah tidak lolos," ujarnya. 

Meski demikian tahun berikutnya, dia kembali mengikuti seleksi di tim yunior. Kali ini dia berhasil lolos. Rasyid pun menjadi bagian dari PSM U-21. 

Sukses masuk skuat yunior menjadikan Rasyid ingin melanjutkan mimpi masuk tim senior. Bukan perkara mudah karena PSM merupakan klub besar dan berada di jajaran atas liga. Klub itu tentu menjadi daya tarik pemain asing maupun pemain lokal dari luar Makassar untuk bergabung. 

Namun Rasyid memiliki ketat kuat untuk naik ke level senior. Caranya? Bermain dengan totalitas tinggi di tim U-21. Menurut dia hanya itu satu-satunya cara untuk naik ke tim senior. 

Tim PS MakassarGelandang Rasyid Bakri (depan ke-2 dari kiri) saat bersama tim PSM Makassar. Rasyid telah menjadi andalan tim Juku Eja sejak masuk tim senior. (Foto: Instagram/@rasyid_bakri17)

Tak salah keyakinan suami dari Isnadha Sikrian Zaenuddin ini. Di tim yunior dia bermain bagus sehingga mendapat kesempatan mengikuti seleksi di tim senior. Semua berjalan lancar dan dia pun masuk skuat PSM. Impian pun akhirnya tercapai. 

"Setelah masuk PSM, saya sangat bersyukur dan merasa senang karena bisa membantu orang tua dan keluarga. Menjadi bagian dari tim PSM adalah sebuah kebanggaan bagi saya," katanya.

Ketika tampil mengesankan di PSM, Rasyid mendapat panggilan memperkuat timnas Indonesia. Berseragam Merah Putih memberi kebanggaan tersendiri baginya.

"Semua pemain profesional pasti ingin bermain di timnas. Menurut saya itu prestasi tertinggi. Saya sangat senang bermain untuk negara," ujar dia.

Suporter Cilik dan Anak Gawang

Bagi Rasyid, PSM adalah kisah cinta sejak masih kecil. Saat dirinya masih bermain sepak bola di jalanan, dia sudah menjadi suporter cilik PSM. Hanya Rasyid tak sempat menyaksikan langsung tim kebanggaan saat bermain di stadion.  

"Saya menonton PSM di final Liga Indonesia 2000. Sayangnya PSM kalah," ujar dia lagi. Dirinya menyaksikan pertandingan Pasukan Ramang di televisi setiap akhir pekan. Rasyid juga selalu mendengarkan laga PSM lewat radio.

"Saya menonton PSM di final Liga Indonesia 2000. Sayangnya PSM kalah," ujar dia lagi. 

Cerita menarik lain adalah, Rasyid pernah menjadi anak gawang saat PSM menjamu PSS Sleman pada 2004. Ia juga menyaksikan langsung duel klasik PSM melawan Persebaya Surabaya di Liga Indonesia.

"Saya pernah menjadi anak gawang ketika PSM menghadapi PSS. Saya pernah pula menonton pertandingan di tribun. Kini saya menjadi bagian dari PSM," kata Rasyid yang ingin membawa PSM menjadi juara Liga 1. Musim lalu, PSM diantarnya menjadi juara Piala Indonesia. Mimpi Rasyid, dari seorang anak gawang yang kini menjadi pilar Juku Eja ini memang masih berlanjut. []

Berita terkait
Tak Ada Degradasi di Liga 1, Pemain PSM Tak Santai
Tidak ada degradasi di Liga 1 tak membuat PSM Makassar santai di kompetisi. Pemain memastikan tetap fight memenangkan setiap pertandingan.
Pemain PSM Makassar Tak Sabar Latihan Bareng Tim
PSM Makassar belum memulai latihan meski kompetisi Liga 1 tinggal beberapa pekan lagi. Para pemain pun tak sabar ingin segera berlatih kembali.
Pemain PSM Makassar Senang Piala AFC Batal Digelar
Pemain PSM Makassar menerima dengan senang hati penundaan Piala AFC Cup 2020.
0
Rapid Test Angkasa Pura I Kini Rp 85.000, Cek Yuk
PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I menurunkan biaya layanan rapid test di delapan bandara yang dikelolanya untuk memudahkan para pengguna jasa.