UNTUK INDONESIA
Ramai Prank Until Tomorrow Challenge di Instagram
Gegagra Coroa, publik mengkarantina diri di rumah. Itu membosankan. Publik menghibur diri dengan prank yang lagi ramai di Instagram.
Prank Until Tomorrow Challenge yang lagi ramai di Instagram untuk mengusir bosan #dirumahaja. (Foto: Dok Instagram/Tagar/Evi Nur Afiah).

Yogyakarta - Lagi ramai digunakan postingan dengan caption Until Tomorrow di media sosial oleh para pemilik akun Instagram. Pengguna membagikan foto wajah gambar komik lucu atau lebih tepatnya memalukan dengan durasi 24 jam.

Maraknya pandemi virus Corona yang mengharuskan masyarakat +62 tinggal #dirumahaja membuat publik bosan. Sementara saat ini semua aktivitas dilakukan di rumah dan monoton. Efeknya timbul kejenuhan.

Sehingga tantangan ini ramai diikuti untuk mengisi luang saat mengkarantina diri di rumah. Tak terkecuali pengguna akun Instagram Anggun Wahyuningsih, 23 tahun, mahasiswa yang sudah berhasil menge-prank puluhan temannya.

"Awalnya saya juga kena prank. Lalu saya juga ikutan melakukan challenge yang menantang orang lain untuk nge-like postingan saya. Banyak yang sudah kena prank. Buat saya sih ini hiburan karena dirumahaja supaya tidak stres dan jenuh," katanya kepada Tagar pada Minggu, 28 Maret 2020.

Lalu bagaimana kerja prank Until Tomorrow yang sedang ramai dilakukan netizen? Jadi, buat yang mau ikut tantangan yang bisa disebut prank medsos ini, hanya perlu menuliskan Until Tomorrow tanpa tujuan dan konteks.

Orang pertama yang menyukai atau like postingan dengan caption Until Tomorrow tersebut mendapat pesan melalui Direct Message (DM), isinya antara lain:

So....you liked my post so you have to post an embarrassing picture of yourself to your instagram feed, for the caption you’re ONLY allowed to write “until tomorrow" and you can only tag me. You must send this message to everyone who has liked your picture. The picture must stay posted for 24 hours. Good luck and don't spoil the game! GOTCHA

Jadi, anda menyukai postingan saya sehingga Anda harus memprosesnya foto diri anda yang memalukan untuk caption yang ada tulisannya Until Tomorrow dan anda hanya dapat menandai saya. Anda harus mengirim pesan ini ke semua orang yang menyukai gambar anda gambar harus tetap diposting selama 24 jam. Semoga berhasil dan jangan merusak permainan. kehidupan karantina

Nah, orang berikutnya akan posting foto memalukan dengan caption dan rules serupa sampai aksi ini jadi viral.

Namun, kata Anggun, tidak melulu harus orang pertama yang menjadi sasaran prank, kadang penantang memilih orang tertentu yang ngelike postingan dengan direct message biar sama sama posting foto memalukan.

Dan soal postingan caption "Until tomorrow" bagi Anggun dapat mempengaruhi mood baik di rumah. Keseruan bermain prank medsos ini pun dimanfaatkan banyak netizen untuk bahan bercandaan dan hiburan selama mengkarantina sendiri. Karena mereka sadar pemerintah tengah memperjuangkan pemutusan rantai virus.

Bisa kita lihat sekarang ini di luar orang-orang masih keluyuran seakan tidak ada masalah. Mereka adalah orang-orang cuek.

Pakar Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Koentjoro ikut menanggapi tren baru di media sosial itu. Menurutnya, dengan situasi yang tidak pasti, situasi yang mencengkeram, situasi yang darurat, situasi yang mengerikan sehingga yang terjadi adalah stres full. Jika terus dibiarkan dikhawatirkan ke depannya adalah stres massal di mana orang mudah tersinggung.

Menurut Prof Koentjoro, ada tiga kelompok masyarakat dalam menghadapi masa tanggap darurat bencana Corona ini. Pertama,  mereka adalah kelompok masyarakat yang cuek. "Bisa kita lihat sekarang ini di luar orang-orang masih keluyuran seakan tidak ada masalah. Mereka adalah orang-orang cuek," katanya kepada Tagar.

Kedua, orang menganggap pandemi Corona adalah sebagai lelucon. Kreativitas masyarakat Indonesia memang tidak pernah tumpul. Meskipun virus Corona bisa mematikan, kelompok masyarakat seperti ini akan menganggapnya sebagai guyonan belaka.

"Ada yang mengatakan bahwa lebih baik mati sahid dengan korona dari pada mengonsumsi obat buatan China maupun Amarika yang sama sama kafir. Ada juga yang bilang mati mah di tangan tuhan. Itu adalah bagian guyonan yang tidak sehat dan itu bunuh diri," katanya.

Ketiga, menurut Prof Koentjoro yang paling banyak dilakukan. Mereka adalah orang kelas sosial menengah ke atas. Mereka yang bekerja Work from Home (WFH) paling banyak membaca informasi tentang virus Corona melalu media sosial.

Kelompok ini betul-betul melahap semua pemberitaan tentang virus Corona. "Karena mereka ini orang-orang terdidik konsumsinya meneliti, yang kedua membaca media sosial. Hampir setiap saat media sosial menceritakan tentang hal buruk wabah Corona," ucapnya. []

Baca Juga:

Berita terkait
Penculikan Siswi SMP di Pangkep Hanya Prank
Penculikkan anak SMP di Pangkep Sulsel ternyata hoaks. Polisi sebut pelajar SMP yang diculik hanya mengarang cerita bahwa dia diculik alias prank.
Heboh Prank Laporan Orang Hilang ke Polda DIY
Aksi prank menjadi perbincangan di Yogyakarta dan ramai di medsos tentang Laporan Orang Hilang ke Polda DIY. Polisi menyelidiki ulah jahil itu.
0
Rintihan Ibu-ibu Tapteng yang Tak Kebagian Sembako
Diduga bantuan sembako untuk penanganan dampak Covid-2019 dari Pemkab Tapanuli Tengah tidak merata, puluhan ibu-ibu mendatangi kantor lurah.