UNTUK INDONESIA
Rachland Nashidik dan Oknum Pengecut dengan Ambisi Pribadi
Rachland Nashidik menuduh BIN dan pemerintah pelihara buzzer untuk membunuh karakter Susilo Bambang Yudhohono. Ini tanggapan Irma Suryani Chaniago.
Rachland Nashidik. (Foto: Tagar/Sumsel Update)

Jakarta - Pengamat politik Irma Suryani Chaniago mengatakan politisi Partai Demokrat Rachland Nasidik jangan menuduh kalau tidak ingin dituduh. "Jadi politisi dan negarawan sebaiknya jangan 'baperan' karena rimba politik memang selalu keras. Setiap orang harus berani mengambil risiko politik," kata Irma Suryani kepada Tagar, Jumat, 16 Oktober 2020.

Irma Suryani mengatakan hal tersebut, menjawab tudingan Rachland Nasidik bahwa pemerintah berada di balik tuduhan SBY dalang kerusuhan demo penolakan Undang-Undang Omnibus Law dalam acara televisi berjudul Rosi, Kamis, 15 Oktober 2020. Irma Suryani juga menjadi narasumber di acara itu.

Menanggapi Rachland, Irma mengatakan, "Jadi politisi dan negarawan sebaiknya jangan 'baperan'. Jokowi saja masih dalam posisi presiden dituduh macam-macam dari keturunan China sampai PKI, tidak menunjukkan sikap 'baper' sama sekali. Ia tahu betul bahwa itu semua tudingan 'sampah', tidak berdasar, jadi ngapain digubris? Jokowi menjawab tudingan-tudingan itu dengan elegan dengan terus bekerja, tidak peduli pada oknum-oknum nyinyir picisan."

Irma juga menyatakan bahwa oknum-oknum yang menyerukan dan mendukung demo tapi yang bersangkutan sendiri tidak ikut demo adalah jenis manusia pengecut. "Tidak pantas merasa bisa 'menyelamatkan Indonesia' karena ternyata mereka cuma bisa mengorbankan rakyat dengan ujaran kebencian dan provokasi saja. Tidak berani menyatakan 'ini dadaku! mana dadamu?' lalu dengan apa mereka koar-koar ingin menyelamatkan Indonesia?"

Tokoh mendukung demo, tapi yang bersangkutan tidak ikut turun berdemo, menurut saya ini yang namanya dalang, memanfaatkan situasi tanpa peduli substansi.

Di acara Rosi, Rachland Nasidik menuding Badan Intelijen Negara (BIN) dan pemerintah memelihara buzzer untuk membunuh karakter Susilo Bambang Yudhoyono dengan menuduh SBY sebagai dalang. Rosianna Silalahi, host acara itu mengingatkan Rachland, bahwa yang menuduh adalah netizen, bukan pemerintah. 

Rachland di acara itu, kata Irma, tetap ngotot dengan alasan mengapa pemerintah membiarkan, tidak menangkap netizen yang menuduh SBY dalang kerusuhan demo. 

Menanggapi kengototan Rachland tersebut, Irma Suryani mengatakan, "Pemerintah hanya punya kewajiban sesuai UU, menangkap oknum-oknum yang melakukan ujaran kebencian yang menimbulkan dampak kerusakan dan kekacauan, tidak mengurus urusan pribadi-pribadi masyarakat. Kenapa juga seseorang minta diperlakukan khusus? Saat ini pemerintah tengah sibuk mengurus berita-berita hoaks dan fitnah yang dilakukan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab tentang UU Omibus Law yang berisiko menghadap-hadapkan rakyat dengan pemerintah. Jadi sebaiknya para negarawan ikut memberikan support, jangan malah ada yang ikut memanaskan suasana."

Irma Suryani meminta Rachland Nasidik, "Jangan telunjuk ke muka, kelingking berkait. Sekali lagi jangan menuduh jika tidak ingin dituduh. Sebagaimana yang disampaikan Menkopolhukam Mahfud MD, polisi tidak mungkin menangkap seseorang jika tidak memiliki bukti yang cukup. Intel pemerintah bukan cuma BIN, ada dari kepolisian, ada dari kejaksaan, dan banyak lagi. Intinya informasi yang diperoleh pemerintah terkait siapa di balik dalang kerusuhan tentu berdasarkan bukti yang valid dan bukan cuma karena 'baper'."

Kepada masyarakat, Irma menyampaikan, "Jangan mau diadu domba dan dijadikan alat tempur oleh oknum-oknum pengecut yang cuma berani menolak tanpa memahami isi UU. Oknum-oknum yang cuma berani menyerukan demo dan rusuh, tapi yang bersangkutan sendiri tidak ikut turun berdemonstrasi, sembunyi di rumah."

Oknum-oknum tersebut juga dinilai Irma sebagai tidak berani demo tampak muka dan pergi tampak punggung. "Karena orang-orang jenis ini adalah orang-orang yang hanya bisa memanfaatkan rakyat untuk ambisi pribadi bukan untuk kemaslahatan bangsa dan negara. Sebagaimana yang disampaikan Mahfud MD, kritisi mereka bukan barang baru, tetapi barang lama yang terus diulang-ulang tanpa ada subtansi yang jelas kecuali ujaran-ujaran yang tidak bertanggung jawab karena faktanya tidak terbukti."

Irma Suryani dengan tegas mengatakan ada yang menunggangi demo Undang-Undang Cipta Kerja. "Ini bisa dilihat dari banyaknya pendemo yang tidak memahami apa yang didemo, bahkan ditemukan ada pendemo yang membawa bom botol dan ketapel besi. Selain itu ada oknum-oknum tokoh yang mendukung demo, tapi yang bersangkutan sendiri tidak ikut turun berdemo, menurut saya ini yang namanya dalang, karena hanya memanfaatkan situasi tanpa peduli subtansi." []

Berita terkait
Mahfud: Pemerintah Tak Pernah Menuduh SBY - AHY Dalang Demo
Mahfud Md menegaskan pemerintah tak pernah menuding SBY maupun AHY yang mendalangi demonstrasi menolak UU Cipta Kerja yang berujung ricuh.
Rocky Gerung: Kenapa Tidak Tangkap saja SBY atau Gatot?
Rocky Gerung menilai penangkapan aktivis KAMI lebih mudah daripada menangkap SBY ataupun Gatot Nurmantyo.
Jokowi, SBY, dan Pensiunan Jenderal yang Ngambek
Indonesia bukan hanya hari ini. Indonesia juga punya masa depan, hasil yang kita usahakan hari ini. Beda antara Jokowi, SBY, dan Gatot Nurmantyo.
0
Langkah Ganjar Buka Sekolah Virtual Dipuji Pakar Pendidikan
Langkah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membuka sekolah virtual diapresiasi pakar pendidikan. Bisa selesaikan persoalan anak putus sekolah.