Oleh: Jainal Pangaribuan XVI*

Presiden Jokowi  menerapkan prinsip persaudaraan (sedulur) dalam  praksis politiknya. Tidak ada istilah lawan politik, semua saudara sebangsa. Faktanya semua partai yang menjadi seteru dalam pilpres 2014 diajak ikut mengurus bangsa dalam Kabinet Kerja 2014-2019. PPP, Golkar, dan PAN ikut dalam kabinet. Gerindra dan PKS memilih oposisi, Demokrat menjadi penyeimbang. Dalam pilpres 2019, PAN dan Demokrat memilih untuk bergabung dengan Gerindra-PKS. Bagi Jokowi, itu sah dalam demokrasi, malah positif untuk keseimbangan.

Selain menganut prinsip persaudaraan kebangsaan, Jokowi tuntas berdiri dalam satu titik yang terkonstruksi dari empat pilar kebangsaan, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Tidak ada kompromi soal ini. Presiden Jokowi membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) karena HTI bergerak mengganti Pancasila sebagai dasar negara. 

Pembangunan dari Sabang sampai Merauke, dari  Rote sampai Miangas dilakukan seimbang, berkeadilan menuju kemakmuran bersama. Interkoneksi antar daerah dibangun cepat melalui infrastruktur darat dan laut, pembangunan pelabuhan, bandara dan jalan tol. Pembangunan desa dipacu melalui dana desa, sarana prasarana seperti waduk dibangun dengan cepat, alhamdulillah.

Semua bergerak dan berputar cepat dalam satu titik keseimbangan, bagai permainan gasing. Permainan gasing dikenal luas seluruh Indonesia, perrmainan yang sangat melatih motorik halus untuk melatih kesabaran. Gasing harus berputar terus kalau tidak akan jatuh. Jokowi berputar dan memutar di seluruh Indonesia, membangun dan bekerja untuk Indonesia sejahtera.

Praksis politik persaudaraan kebangsaan dan titik berdiri seimbang di atas empat pilar. Memutar gasing cepat ternyata menjadi mala petaka buat para pihak yang tidak mau melihat Indonesia maju dan sejahtera. Para pecundang itu ibarat kotoran yang melekat pada kayu gasing, dengan putaran kencang, ada kenaikan panas pada kayu gasing, kotoran kotoran pun beterbangan keluar. Biasanya, dalam permainan gasing, setelah selesai, kayu gasingnya relatif makin kinclong.

Setya Novanto, Ketua DPR yang mendukung Jokowi, terlempar keluar karena pelanggaran hukum. Beberapa personel Kabinet Koalisi Kerja seperti Rizal Ramli, Jenderal Tedjo, Sudirman Said, Ferry Mursidan Baldan, terlempar keluar karena linglung dengan putaran gasing. 

SBY pun semakin linglung dan paranoid, makanya dia dipagari oleh tiga ahli hukum dari mulai yang tidak waras, setengah waras dan waras. Para pecundang dan perusuh bangsa menjadi setengah waras, nyinyir dan bisa bisa akan ketawa di pinggir jalan. Lihatlah Ratna Sarumpaet, menjadi setengah waras, membuat hoax dan akhirnya tidur di sel. 

Fadli Zon, Fahri Hamzah termasuk Amien Rais terlihat menjadi setengah waras, terlempar jauh keluar dari putaran gasing. Jangan-jangan si Cawapres yang katanya pengusaha hebat itupun sudah setengah waras, udah coba kolor di pasar, bikin pete di kepala, ngecek harga makanan pun sudah linglung.

Tak ada operasi khusus Presiden utk mentarget para perusak bangsa ini, tapi Presiden sudah menghitung dengan cerdas, terukur, bahwa para pecundang itu akan terlempar keluar, menjadi setengah waras, maka BPJS perlu dibenahi. Semua diajak untuk bersama membangun bangsa, semua diajak untuk bekerja keras, tanpa kecuali. James Riady dengan Lippo Group-nya pun walau dikenal Presiden pasti tidak akan diintervensi atau dibantu.

Dalam politik global, Presiden tuntas untuk berdiri kokoh di atas kepentingan bangsanya. Lihatlah Tiongkok yang sebal karena proposal OBOR (One Belt One Road) tidak direspon Presiden. Malah terjadi penguatan pasukan militer Indonesia  di Laut Natuna. Freeport pun dipaksa untuk menjual sahamnya ke Indonesia, walau Amerika agak gamang. Skema cantik mengambil alih Freeport ini akan dibahas pada topik lain. Presiden Jokowi tidak memihak negara manapun di dunia, Jokowi hanya tuntas dengan kepentingan bangsanya.

Untuk tetap menjadi manusia normal, sehat rohani dan jasmani, cintailah bangsa ini, kalau tidak... putaran gasing sang Presiden akan membuat anda terlempar ke luar, menjadi nyinyir dan setengah waras. Putaran gasing tetap berputar pada titik waras, jadi siapapun akan pasti terlempar jika merusak bangsa ini.

Salam sedulur...

*Jainal Pangaribuan XVI, Penulis Independen