UNTUK INDONESIA
Purworejo Tempat Lahir Jenderal dan Tokoh Indonesia
Empat Jenderal dan dua tokoh ternama di Indonesia lahir di kota Purworejo, Jawa Tengah.
Curug Lumbung di Purworejo, Jawa Tengah. (Foto: Instagram/@purworejozone/rahman_ef-)

Jakarta - Purworejo, belum lama menjadi pusat perhatian masyarakat sejak keberadaan kerajaan "Keraton Agung Sejagat". Meski begitu, salah satu Kabupaten yang ada di Jawa Tengah itu, banyak melahirkan sejumlah tokoh hebat dan memiliki pengaruh besar di dalam kemerdekaan Indonesia. 

Berikut Tagar rangkum lima tokoh hebat sekaligus pejuang bangsa yang diperoleh dari berbagai sumber. 

1. Jenderal Ahmad Yani

Ahmad Yani dilahirkan di Jenar, Purworejo, Jawa Tengah pada 19 Juni 1922. Pada 1927, dia pindah bersama keluarganya ke Batavia karena di sana ayahnya bekerja untuk General Belanda. 

Seiring berjalannya waktu, Yani menjalani wajib militer di tentara Hindia Belanda pemerintah kolonial. Di sana dia belajar topografi militer di Malang, Jawa Timur. Namun sayang, pendidikannya itu terganggu karena kedatangan Jepang pada 1942. Di waktu yang sama dia dan keluarga pindah ke Jawa Tengah. 

Tahun 1943, dia bergabung dengan tentara Peta (Pembela Tanah Air) dan menjalani pelatihan lanjut di Magelang. Setelah itu, dilatih sebagai komandan peleton Peta dan dipindahkan ke Bogor, Jawa Barat untuk menerima pelatihan. 

Jasa dari Ahmad Yani ini sangat besar untuk Indonesia, terbukti dia berhasil menangani pasukan Belanda saat itu. Bukti lainnya, dia menjadi korban dari gerakan 30 September PKI pada 1 Oktober 1965 dan sebagai orang yang berjasa, Ahmad Yani diberi penghargaan pahlawan revolusi. 

2. Sarwo Edhie Wibowo

Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo dilahirkan di Purworejo, Jawa Tengah pada 25 Juli 1925. Dia dikenal sebagai tokoh militer Indonesia dan ayah dari Kristiani Herrawati atau sering disapa ibu Ani, yang juga istri mantan Presiden ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

Peran Sarwo Edhie sangat besar untuk Indonesia, terbukti ketika dia menjabat panglima RPKAD ( saat ini disebut Kopassus) berhasil menumpaskan pemberontakan Gerakan 30 September 

Dia juga pernah menduduki jabatan Ketua BP-7 Pusat, Duta besar Indonesia untuk Korea Selatan, dan Gubernur AKABRI.

3. Jenderal Oerip Soemoharjo

Oerip Soemoharjo juga lahir di Purworejo, Jawa Tengah pada 22 Februari 1893. Dia menjadi salah satu jenderal dan kepala staf Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama di masa Revolusi Nasional Indonesia. 

Pada 1914, dia lulus dari sekolah militernya di Meester Cornelis, Batavia (sekarang Jatinegara, Jakarta) dan menjadi letnan di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tentara pemerintah kolonial Belanda. Selama 25 tahun bertugas di sana, dia ditempatkan di tiga pulau dan kerap mendapatkan promosi. 

Oerip mengundurkan diri pada 1938 dan akhirnya pindah ke Yogyakarta bersama keluarganya. Saat berjalannya waktu oerip kembali bertugas. 

Namun selama  dua tahun kekaisaran Jepang berkuasa atas Hindia, dia ditangkap dan ditahan selama tiga setengah bulan. Setelah beberapa bulan Indonesia merdeka, 14 Oktober 1945 Oerip ditetapkan sebagai kepala staf dan pemimpin sementara angkatan perang.

Tugasnya saat itu mengawasi pembangunan angkatan perang pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Namun, awal 1948 Oerip mengundurkan diri karena saat itu muak dengan kurangnya kepercayaan pemerintah terhadap militer dan manuver politik di tubuh militer. 

Saat dia wafat, pemerintah memberikan pangkat Jenderal penuh dan menerima penghargaan gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1964.

4. Pranoto Reksosamodra  

Mayor Jenderal TNI (Purn.) Pranoto Reksosamodra lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 16 April 1923.  Dia menghembuskan napas di Jakarta pada 9 Juni 1992 di usia  69 tahun.

Pranoto Reksosamodra dikenal sebagai tokoh militer Indonesia yang pernah menjabat Pangdam VII/Diponegoro menggantikan Kolonel Soeharto. Ketika masa Menteri Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani, dia menjadi Asisten III bidang Personalia  

Diketahui, Jenderal Pranoto Reksosamodra mengalami penahanan selama 15 tahun, sampai dibebaskan pada 16 Februari 1981. Sejak saat itu, perlahan segala hak yang melekat sebagai anggota TNI Angkatan Darat tidak lagi diterimanya, bahkan hilang sepenuhnya sejak tahun 1975. Ini semua berlangsung tanpa surat pemberitahuan resmi sama sekali.

5. Kasman Singodimejdo

Kasman Singodimejdo lahir pada 25 Februari di Purworejo, Jawa Tengah dan meninggal 25 Oktober 1982 di usia 78 tahun. 

Kasman telah menjadi Jaksa Agung Indonesia periode 1945 hingga 1946 dan juga mantan Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin II. Dia pernah menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan saat itu terlibat dalam perumusan pembukaan UUD 1945. 

Berkat jasanya kepada Indonesia, dia mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2018 dan itu tepat pada peringatan hari pahlawan. []

6. Wage Rudolf Supratman (WR Supratman)

WR Supratman dilahirkan di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah pada 19 Maret 1903. 

Pahlawan nasional ini telah menciptakan lagu Indonesia Raya yang hingga sekarang ini terus dikumandangkan di Tanah Air. Berkat karyanya itu, WR Supratman berhasil membangkitkan semangat persatuan bangsa Indonesia. 

Bukan hanya pencipta lagu saja, ternyata WR Supratman juga dikenal seorang jurnalis dan penulis yang hebat di zaman itu, serta banyak melahirkan buku-buku. []

Baca juga:

Berita terkait
Keraton Agung Sejagat Purworejo Pertunjukan Seni?
Kemunculan Keraton Agung Sejagat di Purworejo di mata seniman tak lebih dari sebuah pertunjukan seni berdampak.
Seni Lukis Wajah Peringatan Hari Pahlawan di Bandara
Melukis wajah bertema Hari Pahlawan berlangsung semarak di Surabaya.
Isi Deklarasi Versi Keraton Agung Sejagat Purworejo
Temuan mencengangkan didapat polisi dari Keraton Agung Sejagat Purworejo. Salah satunya deklarasi perdamaian.
0
Kejaksaan Dairi Musnahkan Narkotika dan Senjata Api
Kejari Dairi, Sumatera Utara, memusnahkan barang bukti dari 68 perkara yang sudah berkekuatan tetap.