UNTUK INDONESIA
Profil Goenawan Mohammad
Goenawan Soesatyo Mohamad alias Goen dan GM juga dikenal sebagai seorang wartawan dan budayawan. Dia merupakan pendiri Majalah Tempo.
Goenawan Mohammad. (Foto: Instagram/@patrickdanardono)

Jakarta - Goenawan Soesatyo Mohamad alias Goen dan GM juga dikenal sebagai seorang wartawan dan budayawan. Dia merupakan pendiri sekaligus pemimpin redaksi Majalah Tempo.

GM lahir di Karangasem, Batang, Jawa Tengah pada tanggal 29 Juli 1941. Ia menapaki kariernya sebagai wartawan, redaktur hingga menjadi pemimpin redaksi di sejumlah media. Seperti redaktur Harian KAMI, redaktur Majalah Horison, hingga pemimpin redaksi Majalah Ekspres.

Pada tahun 1971, GM bersama rekan-rekan jurnalis mendirikan Majalah Tempo. Saat itu, usianya menginjak 30 tahun, dia pun juga didaulat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Tempo.

Dia menjadi pemimpin redaksi dalam rentang waktu 1971 hingga 1992, kemudian kembali menjabat posisi yang sama hingga Tempo dibredel pada 1994. 

Tempo terbit lagi pada 1998 dan GM kembali memimpin setelah setahun kemudian jabatannya diserahkan ke Bambang Harymurti.

Saat itu, Goen kerap menulis kolom yang mengkritisi rezim orde baru yang dianggap terlalu menekan pertumbuhan ekonomi. Ganjarannya pembredelan Tempo karena dianggap dapat merugikan pemerintah.

Namun, dia tak tinggal diam, dengan sekuat tenaga dia berupaya agar Tempo bisa kembali terbit. Melalui Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dia berupaya keras meski akhirnya sia-sia, karena PWI sudah terpengaruh oleh rezim Soeharto.

Kekecewaannya itu, GM mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bersama wartawan muda lainnya. Dia juga mendirikan Institusi Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga melakukan pelatihan bagi para jurnalis tentang tata cara membuat surat kabar berkualitas.

Pada 1998, Tempo kembali aktif setelah kekuasaan Soeharto berakhir. Pria penerima Wertheim Award ini kembali memimpin Tempo hingga 1999. Namun, dia masih memangku amanah sebagai Komisaris Utama PT Tempo Inti Media, Tbk, hingga tahun 2016.

Kendati sudah tidak sebagai pemimpin redaksi, Goenawan masih kerap menulis Catatan Pinggir setiap pekannya. Hal itulah yang menjadi inspirasi bagi wartawan-wartawan muda saat ini. 

Tulisannya yang paling terkenal yaitu Catatan Pinggir yang seri pertamanya dibukukan pada 1982. Lalu, pada tahun 2012, seri Catatan Pinggir itu kembali dirilis ulang sembilan jilid sekaligus.

Selain kecimpungnya di dunia jurnalistik, Goenawan juga mengurus Kamunitas Salihara, sebuah tempat berkesenian di kawasan Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tempat ini juga kadang digunakan diskusi dengan mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, dan sebagainya.

Pendidikan

SR Negeri Parakan Batang (1953)

SMP Negeri II Pekalongan (1956)

SMA Negeri Pekalongan (1959)

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (tidak tamat)

Keluarga

Kakak : Kartono Mohamad

Istri : Widarti Djajadisastra

Anak : 2

Karier

Redaktur Harian KAMI (1969-1970)

Redaktur Majalah Horison (1969-1974)

Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres (1970-1971)

Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada (1985)

Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO (1971-1993 dan 1998-1999)

Komisaris Utama PT Tempo Inti Media Tbk

Pendiri Komunitas Salihara, Pasar Minggu

Karya buku

Empat Sajak dalam buku antologi “Manifestasi” (1962)

Asmaradana: Pilihan Sajak, 1961-1991 (1992)

Kata, Waktu (2001)

Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004)

Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2005)

Tuhan & Hal Hal yang Tak Selesai (2007)

Tan Malaka dan Dua Lakon Lain (2009)

70 Puisi (2011)

9 Volume Catatan Pinggir (2012)

Penghargaan

Anugerah Hamengku Buwono IX bidang kebudayaan dari Universitas Gadjah Mada.

Penghargaan Professor Teeuw dari Leiden University Belanda (1992)

Louis Lyons dari Harvard University Amerika Serikat (1997)

Internasional Editor (International Editor of the Year Award) dari World Press Review, Amerika Serikat (Mei 1999)

Internasional dalam Kebebasan Pers (International Press Freedom Award) oleh Komite Pelindung Jurnalis (Committee to Protect Journalists) (1998)

Wertheim Award (2005)

Anugerah sastra Dan David Prize (2006)

Berita terkait
Goenawan Mohammad: Saya Gak Niat Menampar Felix Siauw
Sastrawan Goenawan Mohamad menolak hadir sebagai pembicara di ajang IIBF 2019 lantaran adanya Felix Siauw diundang dalam acara tersebut.
Ketika Goenawan Mohammad Menampar Felix Siauw
Goenawan Mohammad tak mau berbicara di International Book Fair 2019 karena ada Felix Siauw di sana. Tulisan opini Denny Siregar.
Andi Arief Terjerat Narkoba, Goenawan Mohamad: Saya Sedih
Sastrawan Goenawan Mohamad Prihatin dengan kasus Andi Arief yang terjerat penyalahgunaan narkoba.
0
Gangguan Kesehatan Tak Hanya Dialami Pilot Batik Air
Pengamat penerbangan Alvin Lie menilai pendaratan pesawat Batik Air di Kupang oleh Kopilot tidak dapat dikatakan sebagai kesalahan.