UNTUK INDONESIA
Presiden Taiwan: Jangan Percaya Komunis
Demontrasi anti pemerintah yang telah berlangsung lebih dari enam buan menjadi pusat perhatian Taiwan menjelang pemilihan presiden.
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mendengarkan para agen berbicara selama upacara wisuda untuk para agen Biro Investigasi di Taipei Taiwan pada 26 Desember 2019. (Foto: Reuters|Ann Wang)

Taipe - Demonstrasi anti pemerintah yang terlah berlangsung lebih dari enam bulan menjadi pusat perhatian Taiwan menjelang pemilihan presiden dan parlemen pada 11 Januari mendatang. Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mendukung seruan pemuda Hong Kong dalam suratnya yang meminta agar masyarakat tidak mempercayai komunis.

Tsai Ing membaca surat dari pemuda itu berkata,"Saya meminta gar rakyat Taiwan tidak mempercayai komunis China, jangan percaya pada pejabat pro komunis dan tidak jatuh ke dalam perangkap utang China."

Berbicara pada debat pemilihan presiden yang disiarkan televisi lokal, Tsai mengutip surat yang menurutnya diterima dari seorang pemuda Hong Kong. Namun Presiden Taiwan itu menyebutkan nama pemuda tersebut dan kapan surat itu ditulis. "Cara demokratis penduduk di pulau itu berisiko bahaya yang ditimbulkan China dan berdampak terhadap Taiwan," ucapnya di Taipe, Minggu, 29 Desember 2019, seperti diberitakan dari Channel News Asia yang mengutip Reuters.

Tsai Ing menambahkan Taiwan bisa bernasib seperti Hong Kong bila terus menerapkan UU darurat militer seperti yang diterapkan oleh pemerintah China. Rakyat Taiwan sudah melewati trauma di bawah UU darurat militer sebelum menerapkan demokrasi. Menurutnya ingin membaca surat pemuda itu untuk mengingatkan rakyat Taiwan tentang pentingnya suara mereka dalam pemilihan bulan depan.

"Pada 11 Januari, rakyat Taiwan akan menentukan nasibnya sendiri. Apakah akan tetap melanjutkan cara hidup demokrasi. Seluruh dunia akan menyaksikan apa yagn akan dilakukan Taiwan pada 11 Januari," kata Tsai Ing.

Demo Hong KongSeorang demonstran anti pemerintah memegang bendera saat aksi unjuk rasa di Chater Garden di Hong Kong, Cina, 2 Desember 2019. (Foto: Channel News Asia|Reuters|Leah Millis).

China mengklaim Taiwan sebagai teritorinya, yang akan dikuasi kembali dengan secara paksda jika diperlukan. China akan menjadikan Taiwan seperti Hong Kong yakni di bawah model pemerintahan "satu negara, dua sistem" dengan memberikan otonomi tingkat tinggi.

Namun Tsai Ing menegaskan bahwa Taiwan sebagai negara merdeka dengan sebutan Republik China sebagai nama resminya. Tsai Ing dan lawan politiknya Han Kuo-yu yang lebih suka menjalin hubungan dekat dengan China sama-sama menolak penerapan model "satu negara, dua sistem". Namun Tsai Ing berulangkali menyebutkan Han sebagai pendukug sistem "satu negara, dua sistem". Han mengatakan Tsai Ing telah "menipu" rakyat Hong Kong untuk mendulang suara dan memenangkan pemilu.

"Mereka berdarah melawan China, sementara Anda menikmati perolahan suara. Kampanye Anda didasarkan pada darah rakyat Hong Kong. Anda mengeksploitasi nilai-nilai yang mereka junjung tinggi," kata Han, mengutip pernyataan dari seorang pimpinan mahasiwa Hong Kong.

Han menuduh Tsai Ing, anggota senior Partai Progresif Demokratik munafik mengkritik sikap pemerintah China terhadap Hong Kong. Padahal ia pernah berkunjung ke China, awal tahun lalu. "Dan, Anda mengkritik saya karena mendukung konsep "satu negara, dua sistem"," katanya.[]

Baca Juga:

Berita terkait
Hong Kong Harus Kerja Keras Akhiri Demonstrasi
Kepala Sekretaris Hong Kong Matthew Cheung mengungkapkan kekecewaannya dengan kekerasan yang kembali terjadi setelah kondisi sempat kondusif.
Hong Kong Izinkan Demo di Hari Minggu, Ada Apa Ini?
Otoritas Hong Kong memberikan lampu hijau kepada para pelaku aksi unjuk rasa untuk melakukan demo di akhir pekan.
China Desak AS Batalkan UU Demokrasi di Hong Kong
Kementerian Luar Negeri China panggil Dubes AS untuk mendesak pembatalan Undang-undang demokrasi dan HAM Hong Kong.
0
Data Bansos Dampak Covid-19 Kemensos di Bantul Kacau
Lurah di Bantul, Yogyakarta, dipusingkan data penerima bansos dampak Covid-19 dari Kemensos.