UNTUK INDONESIA

Praktik Adopsi Internasional Diselidiki Negara-negara Eropa

Badan-badan Adopsi Internasional sedang diawasi, setelah penyelidikan mengungkap terjadi pelanggaran serius dalam praktik aborsi internasional
Ilustrasi: Anak-anak yatim-piatu bermain di panti asuhan Phnom Penh, Kamboja sambil menunggu untuk diadopsi (Foto: voaindonesia.com/AFP).

London - Badan-badan Adopsi Internasional sedang dalam pengawasan, setelah Belanda melarang organisasi itu karena penyelidikan yang mengungkap pelanggaran serius. Dalam beberapa dasawarsa, terjadi kasus-kasus penipuan, korupsi dan perdagangan manusia berperan dalam banyak adopsi.

Orang yang diadopsi dan organisasi-organisasi hak asasi di negara-negara Eropa Barat lainnya mengambil tindakan setelah penyelidikan Belanda. Belgia mengharapkan hasil penyelidikan adopsi itu akhir tahun ini. Menteri urusan sosial di Swedia mengumumkan sebuah penyelidikan atas praktik adopsi yang dilakukan sejak tahun 1960-an.

Roelie Post mengatakan, ia tidak terkejut dengan penilaian dalam laporan Belanda. Post adalah mantan pegawai negeri Uni Eropa yang menjadi saksi pelapor, setelah melaporkan masalah adopsi ilegal dan perdagangan anak dari Eropa timur lebih dari 20 tahun yang lalu. Menurut Post sistem adopsi sekarang ini tidak bisa diteruskan.

“Setelah 60 tahun sistem itu tidak punya masa depan, tidak seperti dulu. Mungkin hanya sedikit kasus perorangan, tetapi tidak dalam suatu pasar yang terorganisir, di mana kita mempunyai program dan kontrak dengan agen-agen adopsi swasta. Saya pikir itu sudah usang," kata Post.

Marcia Engel adalah seorang yang diadopsi oleh Belanda dari kolombia. Engel mengatakan, ketika ia mulai mencari keluarga kandungnya, ia menyadari ibunya dipaksa menyerahkannya untuk diadopsi.

"Dalam kasus saya sendiri, juga dengan banyak anak angkat lainnya, di atas kertas mereka hanya dibuat sebagai yatim piatu, tetapi kenyataannya mereka diadopsi oleh keluarga yang ingin mengasuh mereka," ujarnya.

seorang anggotaSeorang anggota Angkatan Udara Kerajaan Belanda menggendong seorang anak turun dari pesawat bantuan Belanda yang tiba dari Port-au-Prince, Haiti, di Bandara Eindhoven, Belanda, 21 Januari 2010 (Foto: Dok/voaindonesia.com/Reuters).

Engel mendirikan organisasi Plan Angel pada tahun 2008 untuk membantu menghubungkan orang yang diadopsi dengan keluarga kandung mereka. Organisasinya telah menangani lebih dari 500 kasus yang melibatkan anak-anak yang diangkat dari kolombia.

Engel dan organisasinya membantu orang-orang yang diadopsi oleh keluarga dari Amerika Utara dan Eropa Barat serta dari dalam negeri. Engel mengatakan, ia melihat terjadi pelanggaran terus-menerus tidak hanya dengan kasus adopsi di Belanda, tetapi dengan semua negara.

Engel berharap masalah ini mendapat perhatian sehingga akan membantu orang memahami tujuan sebenarnya dari banyak adopsi internasional. “Pemikiran umum tentang adopsi internasional sangat baik, membantu anak-anak miskin dari luar negeri untuk memberi mereka kesempatan hidup yang lebih baik. Saya pikir penting juga bagi orang-orang untuk mengubah sedikit cerita tentang apa yang mereka pikirkan tentang adopsi internasional, karena ada sisi gelapnya. Dan sisi gelap itu adalah banyak keluarga biologis (kandung) yang tidak secara sukarela menyerahkan bayi atau anak mereka."

Meskipun ini bukan pertama kalinya sebuah laporan menguraikan praktik ilegal dalam adopsi internasional, namun ini yang pertama kali sebuah negara di Eropa menghentikan prosedur tersebut, sampai reformasi dilakukan. Sementara penyelidikan Belanda dipusatkan pada Bangladesh, Brazil, Colombia, Indonesia dan Sri Lanka, adopsi dari negara-negara lain sekarang ini telah dihentikan (ps/lt)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Indonesia Salah Satu Negara Sumber Adopsi Anak di Belanda
Belanda tangguhkan adopsi internasional setelah sebuah komisi pemerintah temukan sejumlah anak diculik atau dibeli antara lain dari Indonesia
0
Praktik Adopsi Internasional Diselidiki Negara-negara Eropa
Badan-badan Adopsi Internasional sedang diawasi, setelah penyelidikan mengungkap terjadi pelanggaran serius dalam praktik aborsi internasional