UNTUK INDONESIA
Pompa Hidram di Cranggang Kudus Solusi Krisis Air Bersih
Seorang warga Dukuh Cranggang Kulon, Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, membuat pompa hidram untuk mengatasi krisis air bersih.
Hermawan, inisiator pembuatan pompa hidram di Dukuh Cranggang Kulon, Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, menjelaskan cara kerja pompa hidram buatannya. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Kudus – Pipa PVC atau yang lebih dikenal dengan pipa paralon berdiameter enam inchi berwarna abu-abu muda ditata memanjang dari sungai Jati Pasekan di Dukuh Cranggang Kulon, Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Pipa sepanjang puluhan meter itu dipasang melewati pinggiran tebing selokan menuju bak penampungan dan pompa yang dibuat terletak lebih rendah dari permukaan sungai.

Aliran air sungai yang mengalir melalui pipa itu kemudian menutup katup buang pada sisi belakang pompa, dan menekan air menuju ke pipa vertikal di atasnya, yang sekaligus menjadi ruang tekan pada pompa.

Tekanan yang ada pada ruang tekan membuat air mengalir melalui pipa PVC berukuran lebih kecil yang dihubungkan dengan ruang tekan. Air yang mengalir pada pipa PVC kecil di samping ruang tekan itu kemudian dialirkan ke rumah-rumah warga.

Tanpa Listrik dan BBM

Pompa air dengan sistem hidrolik yang memanfaatkan gravitasi bumi itu sengaja dibuat oleh Hermawan, 35 tahun, warga Dukuh Cranggang Kulon, Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kudus, untuk mengatasi krisis air bersih di wilayahnya.

Cerita Pompa Hidram Kudus (2)Pompa hidram yang ada di Dukuh Cranggang Kulon, Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, saat mengalirkan air. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna).

Pompa semacam itu dikenal dengan nama pompa hidram, yang tidak memerlukan mesin sebagai penggeraknya, sehingga tidak menggunakan listrik maupun bahan bakar minyak (BBM).

Wawan, sapaan akrab Hermawan, menjelaskan, pompa hidram buatannya memanfaatkan gaya gravitasi bumi untuk menghasilkan energi kinetik yang lebih besar dalam memompa air sungai.

Untuk memanfaatkan gaya gravitasi bumi, pompa harus diletakkan lebih rendah dari sumber air atau sungai. Dia menyebutnya sumber air harus ditempatkan pada titik elevasi yang lebih tinggi dari pompa hidram.

Gaya gravitasi akan mendorong dan mengalirkan air sungai menuju pompa, kemudian mendorong katup dengan lebih maksimal dan menghasilkan energi kinetik yang lebih besar.

“Teknologi ini mengandalkan tiga barang yakni bak penampung air sungai, pompa hidram dan pipa paralon yang akan menyalurkan air ke rumah-rumah warga. Di mana air sungai akan dialirkan menuju bak penampungan air dengan elevasi minimal 3 meter dari pompa,” jelas dia, Sabtu 10 Oktober 2020.

Lebih detail, Wawan menjelaskan prinsip kerja di dalam pompa hidram. Air yang masuk dari pipa input akan mendorong katup buang. Selanjutnya hentakan katup buang akan menghasilkan water hammer atau gelombang tekan, yang mendorong air naik menuju ruang tekan. Dari ruang tekan air bersih dialirkan menuju rumah-rumah warga melalui pipa output.

Prinsip kerjanya sesederhana itu. Pompa akan terus menyala selama ada aliran air di pipa input. Pompa ini akan bekerja selama 24 jam tanpa henti, tanpa listrik dan BBM.

Untuk membuat satu set pompa hidram dibutuhkan anggaran sebesar Rp 30 juta. Biaya ini digunakan untuk pembuatan bak penampung, pompa dan pipa-pipa yang mengalikan air ke rumah warga.

Satu pompa hidram diprediksi dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air 30 hingga 60 rumah. Untuk biaya pembuatannya bisa ditanggung secara swadaya oleh warga.

Cerita Pompa Hidram Kudus (3)Hermawan, inisiator pembuatan pompa hidram di Dukuh Cranggang Kulon, Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, menjelaskan sistem kerja pompa pada seorang awak media. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Wawan mengakui pompa hidram memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah pompa ini sangat ekonomis dan efektif dalam mengatasi kesulitan air bersih di daerah pegunungan, serta ramah lingkungan.

“Kelebihannya, biaya pembuatan, operasional dan perawatannya murah. Efektif mengatasi permasalahan air bersih di daerah pegunungan. Pipa ini juga memiliki umur yang panjang,” ucap Wawan.

Sedangkan kelemahannya, teknologi ini sangat tergantung pada debit air sungai sebagai sumber mata air. Jika debit air sungai rendah, maka debit air yang dihasilkan dari pompa ini juga rendah. Begitupun sebaliknya.

Untuk mengatasi hal ini, Wawan bersama komunitas Solidaritas Warga Cranggang (Sowac) mulai melakukan upaya pembendungan sungai menggunakan kayu dan bambu. Dia bersama rekan-rekannya membuat bendungan-bendungan kecil sepanjang sungai Jati Pasekan.

Bendungan-bendungan kecil ini menjadi ikhtiar pihaknya dalam melakukan konservasi sungai. Bendungan ini diharapkan dapat menjadi lahan serapan dan penampungan air. Sekaligus menjadi upaya pihaknya dalam menjaga debit air sungai.

“Kalau musim kemarau air sungai Jati Pasekan alirannya kecil. Kalau musim penghujan airnya melimpah. Dengan adanya bendungan-bendungan ini dapat menjadi cadangan air bagi kami di musim kemarau selanjutnya,” kata dia.

Saat ini, Wawan mengaku masih berfokus melakukan penataan terhadap sungai Jati Pasekan yang nantinya akan dijadikan sebagai sumber air bersih warga Cranggang Kulon. Untuk penerapan teknologi hidram, pria lulusan SMK Muhammadiyah Kudus itu mengaku akan merealisasikannya dalam waktu dekat.

Uji Coba Beragam Ukuran Pipa

Untuk menentukan ukuran pipa yang paling ideal digunakan dalam pembuatan pompa hidram di wilayahnya, Wawan beberapa kali melakukan uji coba.

Ayah dua anak ini mengaku awalnya sempat membeli sparepart pompa hidram secara daring atau online. Pompa dengan diameter pipa 2 inchi tersebut, selanjutnya diuji untuk mengangkat air sungai yang terletak sekitar 300 meter ke permukiman warga.

Namun ternyata pompa tersebut dirasa kurang efektif, sebab hanya mampu menaikkan air setinggi 5 meter dari sungai, dan belum digunakan untuk bisa mengalirkan air bersih ke permukiman warga yang terletak sekitar 30 meter diatas sungai.

Kegagalan uji coba ini, mendorong Wawan bersama komunitas Sowac untuk membuat pompa hidran secara mandiri. Mereka belajar melalui video tutorial di Youtube.

Pipa hasil rakitan mereka kemudian diuji coba dan berhasil menaikkan air sungai hingga ketinggian 10 meter dengan debit 5 liter per 10 detik. Tak puas sampai di situ, Wawan merakit kembali pompa hidram dengan diameter pipa input yang lebih besar, yakni 6 inchi.

Cerita Pompa Hidram Kudus (4)Seorang warga Dukuh Cranggang Kulon, Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, mengalirkan air dari pipa yang terhubung dengan pompa hidram. (Foto: Tagar/Istimewa)

Pipa berdiameter 6 inchi dinilai paling ideal, sebab mampu menaikkan air sungai hingga ketinggian 80 meter vertikal dengan debit air yang lebih deras, yakni 10 liter perdetik.

“Ini yang kami rasa paling ideal. Tiga pompa dengan pipa 6 inch ini cukup untuk mengcukupi kebutuhan air bersih warga Dukuh Cranggang Kulon, yang terdiri sekitar 400 Kartu Keluarga,” ucapnya.

Dia juga menjelaskan bahwa keinginannya membuat pompa hidram ini sebetulnya sudah cukup lama, beberapa tahun lalu. Namun kesibukan kerja membuatnya menunda rencana itu.

“Baru bulan Agustus lalu, saya ada waktu merakitnya,” ujar pria yang bekerja sebagai kontraktor itu.

Selain untuk mengatasi permasalahan air bersih di daerahnya. Teknologi hidram ini juga mendukung upaya konservasi sungai yang tengah digiatkan pihaknya setahun belakangan ini.

Selama ini warga Desa Cranggang Kulon menggantungkan kebutuhan air bersih dari desa tetangga, yakni Desa Kajar dan Kuwukan. Air dari desa itu disalurkan menuju desa mereka melalui pipa PVC sepanjang dua hingga tiga kilometer.

“Desa Cranggang, khususnya Dukuh Cranggang Kulon masuk kategori daerah dataran tinggi, tapi posisinya tanggung. Lokasi dukuh kami cukup jauh dari sumber mata air pegunungan. Untuk mendapatkan air bawah tanah pun, kami harus mengebur hingga kedalaman 150 meter lebih,” kata Wawan.

Pengambilan air bersih dari desa tetangga ini memerlukan biaya yang tidak murah. Lanjut Wawan, warga harus merogoh kocek paling tidak Rp. 50 juta untuk pembelian dan pemasangan pipa. Mereka juga harus menyiapkan anggaran Rp 5ribu hingga Rp. 10 ribu perbulan untuk biaya perawatan.

“Air bersih yang kami gunakan saat ini ambil dari air sungai di Desa Kajar atau Kuwukan. Biayanya tinggi, karena lokasi pengambilannya jauh. Biasanya biaya ini ditanggung masyarakat secara swadaya,” terang dia.

Keberadaan pompa hidram di tengah-tengah warga Cranggang Kulon diharapkan dapat memudahakan akses masyarakat dalam mendapatkan air bersih. Operasionalnya yang tidak menggunakan listrik dan BBM, tentu akan membuat warga lebih hemat. []

Baca juga:

Bangunan Kompleks Tamansari Yogyakarta dan Fungsinya

Demo di Yogyakarta, PKL Malioboro, dan Keluhan Wisatawan

Berita terkait
Senam Jantung di Jeram Curam Sungai Logung Kudus
Penikmat olahraga ekstrem di Kudus dan sekitarnya bisa menikmati arus deras Sungai Logung dengan ban dalam atau perahu.
Lokasi Lakalantas Maut di Sleman Rawan Kecelakaan
Lokasi kecelakaan lalu lintas yang menewaskan 4 orang di Jl Magelang Km 8, Mlati, Sleman, merupakan lokasi rawan kecelakaan.
Pujian Melly Goeslaw untuk Gadis Asal Ruteng NTT
Melly Goeslaw, penyanyi senior Indonesia memuji penampilan Keysilia Dwisulandi Ndagung, gadis asal Ruteng, NTT, yang menyanyikan lagunya.
0
Sempat Kejar-kejaran, Warga Hajar Pencuri Helm di Sleman
Sempat diwarnai kejar-kejaran saat menangkap pencuri helm di Sleman, Yogyakarta. Setelah tertangkap dihajar ramai-ramai oleh warga.