Polisi Memburu Pembawa Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid

Polisi memburu pembawa bendera bertuliskan kalimat tauhid ke acara Hari Santri di Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Kadivhumas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto (kiri) mengatakan, "Yang membawa bendera, sudah kami ketahui identitasnya." (Foto: Antara/Aprilio Akbar)

Jakarta, (Tagar 24/10/2018) - Kadivhumas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan polisi telah mengantongi identitas pelaku yang membawa bendera bertuliskan kalimat tauhid ke acara perayaan Hari Santri Nasional yang diadakan di Alun-alun Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada Senin (22/10).

Hal tersebut terkait terjadinya pembakaran bendera dalam acara tersebut.

"Yang membawa bendera, sudah kami ketahui identitasnya. Polres Garut dibantu Polda Jabar sedang melakukan pengejaran," kata Irjen Setyo dalam konferensi pers di Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jakarta, Selasa (23/10) mengutip kantor berita Antara.

Sejauh ini Polres Garut telah meminta keterangan tiga orang saksi dalam kasus pembakaran bendera itu.

Baca juga: Masyarakat Jangan Terprovokasi Bendera dengan Tulisan Arab

Tiga saksi tersebut terdiri atas seorang panitia acara dan dua orang diduga pelaku pembakaran bendera.

Menurut dia, berdasarkan keterangan para saksi tersebut, mereka membakar bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ormas yang telah dinyatakan terlarang oleh pemerintah. 

"Dari keterangan mereka, mereka membakar bendera HTI," ungkap Setyo.

Dalam kesempatan itu, Setyo juga meminta masyarakat agar bersabar dan memberikan waktu kepada polisi untuk mengusut peristiwa ini.

"Saya imbau masyarakat agar sabar dan memberikan waktu kepada penyidik untuk mendalami peristiwa ini. Kami akan bertindak secara profesional," katanya.

Sebelumnya, beredar video berdurasi 02.05 menit di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat ada seseorang berbaju Barisan Serba Guna Nahdlatul Ulama (Banser NU) yang membawa bendera berwarna hitam bertuliskan kalimat tauhid.

Belasan orang diduga anggota Banser lainnya kemudian berkumpul untuk bersama-sama menyulut bendera tersebut dengan api. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian loreng khas Banser lengkap dengan baret hitam. []

Berita terkait