Addis Ababa, (Tagar 14/3/2019) - Empat hari setelah kejadian jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines, perwakilan Kedutaan Besar Indonesia di Ethiopia mengunjungi situs jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines. Beberapa keluarga korban dari negara lain juga mendatangi lokasi jatuhnya pesawat ET 302 tersebut.

Rombongan perwakilan kedutaan besar bersama keluarga korban berangkat dari Addis Ababa secara bersamaan. Dengan dikoordinir Ethiopian Airlines, total iring-iringan lebih dari 20 kendaraan roda empat menempuh waktu lebih dari dua jam untuk mencapai lokasi.

Perwakilan Indonesia dipimpin oleh Duta Besar RI untuk Ethiopia, Al Busyra Basnur yang baru tiba sehari sebelumnya di Addis Ababa. Turut juga dalam rombongan Sekretaris Pertama Fungsi Politik KBRI, Christine Refina; Sekretaris Kedua Fungsi Konsuler Iman Rokhadi, dan juga Tagar News.

Setibanya di lokasi yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Addis Ababa itu, Al Busyra bersama rombongan meletakkan bunga rangkaian mawar putih sebagai bentuk bela sungkawa. Setelah itu, Al Busyra memimpin rombongan Indonesia memanjatkan doa bagi arwah WNI korban Ethiopian Airlines, Harina Hafitz.

Ethiopian AirlinesAl Busyra bersama rombongan meletakkan bunga rangkaian mawar putih sebagai bentuk bela sungkawa. Setelah itu, Al Busyra memimpin rombongan Indonesia memanjatkan doa bagi arwah WNI korban Ethiopian Airlines, Harina Hafitz. (Foto: Tagar/Tito Sianipar)

"Ini sebagai bentuk ucapan duka cita kami dan bela sungkawa atas meninggalnya Ibu Harina," kata Duta Besar Al Busyra kepada Tagar, di lokasi kejadian, Rabu, 13 Maret 2019. "Kami berharap keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," imbuh dia.

Harina adalah staf World Food Programme yang berbasis di Roma, Italia. Perempuan 60 tahun yang bersuamikan warga Italia itu, berada dalam pesawat ET 302 menuju Nairobi, Kenya dalam rangka tugas menghadiri sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa di sana.

Beberapa keluarga korban tak kuasa menahan emosi, mereka tampak sedih dan menitikkan air mata begitu melihat lokasi jatuhnya pesawat. Bahkan ada keluarga korban asal China yang histeris dan menangis keras karena kehilangan anggota keluarganya

Harina menjadi salah satu korban meninggal dunia dari total 149 penumpang, termasuk 8 orang kru pesawat dalam tragedi yang terjadi pada Minggu, 10 Maret 2019 lalu. Total ada 35 kewarganegaraan yang menjadi korban pesawat nahas tersebut.

Duta Besar Al Busyra melanjutkan, KBRI akan terus berupaya agar evakuasi dan identifikasi jenazah Harina bisa dilakukan. Hal itu dilakukan dengan cara berkoordinasi dengan otoritas berwenang, baik pihak Ethiopian Airlines maupun pemerintah Ethiopia.

Ethiopian AirlinesTitik jatuhnya pesawat ET 302 dibatasi garis polisi. Pengunjung tidak bisa mengakses lebih dekat ke puing-puing pesawat. Terdapat gundukan-gundukan tanah dan sebuah tenda berisikan puing-puing pesawat. Beberapa unit eskavator terparkir di sana. (Foto: Tagar/Tito Sianipar)

"Kami berharap proses evakuasi dan identifikasi berjalan lancar dan sempurna sampai KBRI bisa mendapat informasi yang dibutuhkan," kata Al Busyra.

Pantauan Tagar di lokasi, beberapa keluarga korban tak kuasa menahan emosi, mereka tampak sedih dan menitikkan air mata begitu melihat lokasi jatuhnya pesawat. Bahkan ada keluarga korban asal China yang histeris dan menangis keras karena kehilangan anggota keluarganya.

Titik jatuhnya pesawat ET 302 sudah dibatasi oleh garis polisi, sehingga pengunjung tidak bisa mengakses lebih dekat ke puing-puing pesawat. Terdapat gundukan-gundukan tanah dan sebuah tenda berisikan puing-puing pesawat. Beberapa unit eskavator terparkir di sana.

Menurut seorang petugas di sana, ada lubang besar akibat tumbukan pesawat ke bumi. "Dalamnya kurang lebih 10 meter," kata dia. Namun lubang itu tidak bisa kelihatan dari kejauhan karena tertutupi gundukan tanah tersebut. []

Laporan Wartawan Tagar Tito Sianipar dari Addis Ababa, Etiopia.

Baca juga: