Perpecahan Politik di Amerika Pengaruhi Tingkat Vaksinasi Covid-19

Masih banyak warga di bagian selatan AS, umumnya pendukung mantan Presiden Donald Trump, yang menolak divaksinasi Covid-19
Pakar penyakit menular AS, Dr Anthony Fauci (Foto: voaindonesia.com/Reuters)

Jakarta – Pakar penyakit menular Amerika Serikat (AS), Dr Anthony Fauci, hari Minggu, 11 Juli 2021, menyesalkan perpecahan politik terkait vaksinasi virus corona (Covid-19) di AS. Masih banyak warga di bagian selatan AS, umumnya pendukung mantan Presiden Donald Trump, yang menolak divaksinasi Covid-19.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa kelompok Demokrat yang umumnya lebih liberal dalam mendukung program pemerintah, jauh lebih bersedia divaksinasi dibanding kelompok Republikan yang cenderung lebih skeptis tentang langkah-langkah pemerintah dan memiliki pandangan konservatif terhadap hak-hak individu.

Satu jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan 93% orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai Demokrat mengatakan mereka telah divaksinasi atau berniat untuk divaksinasi. Sementara hanya 49% dari Republikan yang mengataakan telah divaksinasi atau berencana melakukannya.

Dalam program “This Week” di stasiun televisi ABC News, Fauci mengatakan “Kami mencoba untuk mengesampingkan politik. Virus tidak tahu perbedaan antara Demokrat, Republik atau independen.”

“Kita harus menjauhkan diri dari perpecahan,” ujar Fauci yang juga merupakan penasehat medis utama Presiden Joe Biden. Ditambahkannya, vaksin yang tersedia di Ameriak terbukti efektif melawan virus corona.

Lebih jauh Fauci mengatakan ia memahami bahwa sebagian kelompok konservatif, yang umumnya ada di bagian selatan Amerika dan dalam pemilu presiden lalu lebih memilih Donald Trump dibanding Joe Biden, enggan divaksinasi karena regulator kesehatan hanya menyetujui vaksin untuk tujuan darurat dan belum memberi persetujuan penuh.

perempuan amerika divaksinSeorang perempuan AS menerima vaksinasi Covid-19 di Miami, Florida (Foto: Dok/voaindonesia.com/AP)

Di bagian lain Fauci mengatakan, “Tidak ada keraguan bahwa vaksin-vaksin itu akan mendapat persetujuan penuh.”

Untuk sementara waktu, ujarnya, “manfaat vaksinasi itu jelas lebih besar dibanding risikonya,” ujar Fauci. Ditambahkannya, vaksin yang tersedia juga sangat efektif melawan apa yang disebut sebagai “varian Delta yang menyebalkan” yang pertama kali ditemukan di India dan kini menyebar luas di sebagian komunitas Amerika.

Gubernur Negara Bagian Arkansas, Asa Hutchinson, negara bagian dengan tingkat vaksinasi yang rendah, mengatakan jelas ada “skeptimisme kelompok konservatif tentang pemerintah” yang harus “diatasi dengan kebenaran” soal efektivitas vaksin.

Hutchinson mengatakan pada ABC bahwa selain terlindungi dari virus corona, mereka yang divaksinasi juga diuntungkan karena tidak perlu lagi memakai masker. Ditambahkannya, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Amerika CDC (Centers for Disease Control and Prevention), “Sudah tepat. Jika Anda divaksinasi, Anda tidak perlu lagi memakai masker.”

Di Amerika, CDC melaporkan bahwa 67,5% orang dewasa telah menerima sedikitnya satu dosis vaksin dan 58,7% sudah divaksinasi penuh atau menerima dua dosis vaksin. (em/jm)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Lagi-lagi Biden Imbau Rakyat Amerika untuk Vaksinasi Covid-19
Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, 6 Juli 2021, kembali mengimbau agar rakyat AS yang belum divaksin agar segera divaksin.
Kampanye Nasional Vaksinasi Covid-19 di Amerika
Presiden Biden luncurkan kampanye nasional sebulan penuh agar tercapai target 70% orang dewasa sudah divaksinasi pada Hari Kemerdekaan AS
Biden Ingatkan Rakyat Amerika Vaksinasi Corona Bukan Politik
Biden percepat distribusi vaksin dan aktifkan Defense Production Act serta ingatkan rakyat bahwa vaksinasi virus corona bukan masalah politik
0
Perpecahan Politik di Amerika Pengaruhi Tingkat Vaksinasi Covid-19
Masih banyak warga di bagian selatan AS, umumnya pendukung mantan Presiden Donald Trump, yang menolak divaksinasi Covid-19