UNTUK INDONESIA
Perlukah Najwa Shihab Diboikot? Ini Kata Pro Jokowi Sumbar
Melaporkan Mata Najwa ke polisi bukanlah cara yang etis dalam mengkritik media. Lantas, perlukah acara yang dipandu Najwa Shihab itu diboikot?
Ilustrasi boikot acara TV. (Foto: Tagar/Getty Images)

Padang – Wakil Sekretaris Pro Jokowi (Projo) Sumbar, Surya Sutan Sari Alam menilai pelaporan presenter Mata Najwa ke polisi bukanlah cara yang etis dalam mengkritik media. Lantas, perlukah acara yang dipandu Najwa Shihab itu diboikot? Menurut pendukung fanatik Presiden Jokowi ini tidak perlu sampai demikian.

Yang dilakukan Najwa dengan mewawancarai kursi kosong untuk mengkritik Menkes Terawan itu sah-sah saja.

“Tidak. Tidak perlu sampai begitu. Ada cara yang lebih elegan dari itu. Kalau ingin mengkritik media, ya harus lewat media juga. Bukan melapor ke polisi,” katanya dihubungi Tagar, Rabu, 7 Oktober 2020.

Menurut Surya, keberadaan para menteri sebagai pembantu presiden sekaligus sebagai pejabat publik memang tidak terlepas dari kritikan. Baginya, apa yang dilakukan Najwa dengan mewawancarai kursi kosong untuk mengkritik Menkes Terawan itu sah-sah saja.

“Selama kinerjanya buruk, ya harus dikritik. Toh, Pak Jokowi tentu sudah punya penilaian tersendiri bagaimana bawahannya bekerja,” kata Surya.

Sebelumnya: 7 Dosa Besar UU Cilaka Menurut Pusako Unand

Ditanyakan pula bagaimana penilaian Projo Sumbar terkait kencangnya isu reshuffle kabinet, Surya berpendapat kinerja para menteri tidak bisa diukur karena adanya pandemi virus corona.

“Menilai kinerja sesorang di tengah musibah besar ini rasanya tidak fair juga. Tidak mudah menjadi pejabat negara di tengah situasi saat ini. Rasanya, belum perlu (reshuffle). Para menteri perlu diberi kesempatan untuk membuktikan kinerja saat pandemi telah usai. Tentunya dengan catatan, menteri harus segera melahirkan kebijakan strategis agar dampak virus corona ini tidak semakin menyengsarakan rakyat,” ucapnya.

Lihat juga: Gedung DPR, Detik-detik Saat Pengesahan UU Cipta Kerja

Diberitakan sebelumnya, salah satu kelompok yang menamakan diri Relawan Jokowi Bersatu melaporkan Najwa Shihab ke polisi karena tidak terima acara yang menyuguhkan wawancara monolog dengan kursi kosong. Hal itu dilakukan Najwa dalam program Mata Najwa karena Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto tidak mau menghadiri undangan sebagai narasumber di acara itu.

Ketua Umum Relawan Jokowi Bersatu, Silvia Devi merasa tersakiti dengan tindakan Najwa Shihab karena dokter Terawan tidak hadir dalam acara itu namun tetap diwawancarai dan dijadikan parodi hingga disiarkan kepada publik.

"Kejadian wawancara kursi kosong Najwa Shihab melukai hati kami sebagai pembela presiden. Parodi itu suatu tindakan yang tidak boleh dilakukan kepada pejabat negara, khususnya menteri," kata Silvia di Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya, Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2020. []

Berita terkait
Dewan Pers: Wawancara Kursi Kosong Najwa Shihab Tak Langgar KEJ
Dewan pers sebut Najwa tidak melanggar kode etik jurnalistik dalam wawancaranya dengan kursi kosong Terawan.
Wawancara Kursi Kosong Najwa Shihab, Dewan Pers: Kreativitas
wawancara kursi kosong Najwa Shihab sebagai pengganti absennya Terawan Agus Putranto merupakan kreativitas dalam dunia pers.
Data Terkini 231 Tim Medis Indonesia Wafat Akibat Pandemi
Data terkini mencatat 231 tim medis Indonesia wafat di tengah pandemi virus corona. Mereka terdiri dari 130 dokter, 9 dokter gigi dan 92 perawat
0
Pria Botak di Sumut Diancam 15 Tahun Penjara, Ini Kasusnya
Pria botak di Deli Serdang, Sumatera Utara, nodai adik ipar. Penjara 15 tahun menantinya.