UNTUK INDONESIA
Perjalanan Nabi Idris AS Selama 1.000 Tahun di Dunia
Nabi Idris AS hidup selama 1.000 tahun di dunia. Suatu hari ditemani Malaikat Izrail, ia mengunjungi surga dan neraka. Simak percakapan mereka.
Ilustrasi - Astronomi. (Foto: Pixabay/Pexels)

Jakarta - Nabi Idris AS adalah rasul kedua setelah Nabi Adam. Nama asli Idris adalah Henokh dan merupakan keturunan keenam dari Nabi Adam, putra dari Yarid bin Mihla’il bin Qinan bin Anusy bin Shiyth bin Adam AS yang menjadi keturunan pertama yang diutus menjadi nabi setelah Adam dan Shiyth. Menurut kitab tafsir, ia hidup 1.000 tahun setelah Nabi Adam wafat.

Dalam sebuah riwayat, Nabi Idris diberikan kepandaian dalam berbagai disiplin ilmu, serta kemampuan untuk menciptakan alat-alat untuk mempermudah pekerjaan manusia. Disiplin ilmu itu seperti pengenalan tulisan, matematika, dan astronomi. Pernah terjadi sebuah azab dari Allah berupa kemarau berkepanjangan karena manusia melupakan-Nya. Nabi Idris kemudian berdoa memohon untuk dihentikannya hukuman tersebut, maka Allah mengabulkan dengan menurunkan hujan.

Nabi Idris diperkirakan bermukim di Mesir di mana ia berdakwah untuk menegakkan agama Allah, mengajarkan tauhid, dan beribadah menyembah Allah serta memberi beberapa pedoman hidup bagi pengikutnya supaya selamat dari siksa dunia dan akhirat.

Kedatangan Tamu

Nabi Idris merupakan nabi yang memiliki kebiasaan beribadah dengan amalan yang sukar digambarkan. Sehingga pada sebuah kisah, Malaikat Izrail sangat rindu berjumpa dengannya. Kemudian malaikat tersebut memohon kepada Allah SWT, agar diizinkan untuk pergi menemui Nabi Idris AS. Maka setelah bertemu dengan Nabi Idris, malaikat tersebut memberi salam dan kemudian duduk dan berbincang-bincang.

Nabi Idris AS mempunyai kebiasaan berpuasa sepanjang masa. Ketika waktu berbuka telah tiba, maka datanglah malaikat dari surga membawa makanan untuk Nabi Idris, lalu ia menikmati makanan tersebut. Kemudian Nabi Idris berkata kepada malaikat maut: “Wahai Tuan, marilah kita nikmati makanan ini bersama-sama.” Tetapi malaikat itu menolaknya.

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.

Nabi Idris terus melanjutkan ibadahnya, sedangkan Malaikat Izrail itu dengan setia menunggu sampai terbit matahari. Nabi Idris merasa heran melihat sikap malaikat itu. Kemudian ia berkata: “Wahai Tuan, maukah Tuan bersiar-siar bersama saya untuk melihat keindahan alam sekitar? Malaikat Izrail menjawab: Baiklah wahai Nabi Allah Idris.”

Kemudian keduanya berjalan-jalan melihat alam sekitar dengan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan hidup di situ. Akhirnya ketika mereka sampai pada suatu kebun, Malaikat Izrail berkata kepada Nabi Idris: “Wahai Idris, adakah Tuan izinkan saya untuk mengambil ini untuk saya makan? Nabi Idris pun menjawab: “Subhanallah, mengapa malam tadi Tuan tidak mau memakan makanan yang halal, sedangkan sekarang Tuan mau memakan yang haram?”

Malaikat Izrail Mencabut Nyawa Nabi Idris

Kemudian malaikat maut dan Nabi Idris meneruskan perjalanan mereka. Tidak terasa mereka telah berjalan-jalan selama empat hari. Selama mereka bersahabat, Nabi Idris menemui beberapa keanehan pada diri temannya itu. Segala tindak-tanduknya berbeda dengan sifat-sifat manusia biasa. Akhirnya Nabi Idris penasaran siapakah kawannya itu dan bertanya: 

Nabi Idris: “Wahai Tuan, bolehkah saya tahu, siapakah Tuan yang sebenarnya?" 

Malaikat Izrail: "Saya adalah Malaikat Maut.”

Nabi Idris: “Tuankah yang bertugas mencabut semua nyawa makhluk?” 

Malaikat Izrail: “Benar ya Idris.”

Nabi Idris: “Sedangkan Tuan bersama saya selama empat hari, adakah Tuan juga telah mencabut nyawa-nyawa makhluk?”

Malaikat Izrail: “Wahai Idris, selama empat hari ini banyak sekali nyawa yang telah saya cabut. Roh makhluk-makhluk itu bagaikan hidangan di hadapanku, aku ambil mereka bagaikan seseorang sedang menyuap-nyuap makanan.”

Nabi Idris: “Wahai Malaikat, apakah tujuan Tuan datang, apakah untuk ziarah atau untuk mencabut nyawaku?”

Malaikat Izrail: “Saya datang untuk menziarahimu dan Allah SWT telah mengizinkan niatku itu.”

Nabi Idris: “Wahai Malaikat Maut, kabulkanlah satu permintaanku kepadamu, yaitu agar Tuan mencabut nyawaku, kemudian Tuan mohonkan kepada Allah agar Allah menghidupkan saya kembali, supaya aku dapat menyembah Allah setelah aku merasakan dahsyatnya sakaratul maut itu.”

Malaikat Izrail: “Sesungguhnya saya tidaklah mencabut nyawa seseorang pun, melainkan hanya dengan keizinan Allah.”

Lalu Allah SWT mewahyukan kepada Izrail, agar ia mencabut nyawa Idris AS. Maka dicabutlah nyawa Idris saat itu juga dan Nabi Idris pun merasakan kematian ketika itu.

Pada waktu Malaikat Maut melihat kematian Nabi Idris itu, maka menangislah ia karena kasihan. Izrail kemudian bermohon kepada Allah supaya Allah menghidupkan kembali sahabatnya itu. Allah mengabulkan permohonannya, dan Nabi Idris pun dihidupkan oleh Allah SWT kembali.

Setelah hidup Nabi Idris menangis sejadi-jadinya. Dia tidak bisa membayangkan jika manusia-manusia lain mengalami sakaratul maut dengan kedahsyatan yang sama. Nabi Idris tidak tega jika ada umatnya harus sengsara di ujung hidup dan mati. Sejak saat itu, Nabi Idris makin giat mengajak umatnya untuk senantiasa berbuat kebaikan dan jujur untuk hal-hal kebenaran.

Malaikat Izrail Membawa Nabi Idris ke Surga dan Neraka

Selanjutnya Nabi Idris kembali mengajukan permintaan yang unik kepada Izrail, "Bisakah engkau membawa saya melihat surga dan neraka, wahai Malaikat Izrail?" kata Nabi Idris AS.

Izrail menjawab, "Wahai Nabi Allah, lagi-lagi permintaan darimu sungguh aneh. Mengapa engkau meminta hal itu? Bahkan para malaikat pun takut melihat neraka, wahai Nabi Allah."

Nabi Idris, "Terus terang, saya takut sekali dengan azab Allah itu. Tapi mudah-mudahan iman saya menjadi tebal setelah melihatnya."

Kemudian Malaikat Izrail meminta izin kepada Allah dan mendapatkan restu. Keduanya pun pergi untuk melihat neraka. Namun ketika hampir mendekati neraka, Nabi Idris AS langsung pingsan karena melihat Malaikat penjaga neraka merupakan sosok yang sangat menakutkan tengah menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang durhaka kepada Allah semasa hidupnya. 

Nabi Idris tidak sanggup menyaksikan berbagai siksaan yang sangat mengerikan itu. Tidak ada pemandangan yang lebih mengerikan dibandingkan dengan neraka. Api berkobar dahsyat, bunyi gemuruh menakutkan dan hal-hal mengerikan lainnya. Nabi Idris meninggalkan neraka dengan tubuh yang lemas.

Tidak berhenti di situ, Idris kemudian meminta ke Izrail untuk diantarkan melihat surga. “Wahai Malaikat Maut, saya mempunyai hajat yang lain, yaitu agar Tuan dapat menolong saya membawa masuk ke dalam surga. Sehingga saya dapat melihat apa-apa yang telah disediakan Allah bagi kekasih-kekasih-Nya. Setelah itu saya pun dapat meningkatkan lagi ibadah saya kepada Allah SWT." 

"Saya tidak dapat membawa Tuan masuk ke dalam surga tanpa perintah Allah SWT.” Jawab Malaikat Maut. Lalu Allah SWT memerintahkan kepada malaikat maut supaya ia membawa Nabi Idris masuk ke dalam surga.

Reaksi Nabi Idris pun sama, nyaris pingsan karena takjub dengan pesona dan keindahan semua yang ada di surga. Nabi Idris dapat melihat segala macam kenikmatan yang disediakan Allah SWT untuk para kekasih-Nya. 

Kemudian Nabi Idris berkata: “Wahai saudaraku malaikat maut, saya telah merasakan pahitnya maut dan saya telah melihat dahsyatnya api neraka. Maka maukah Tuan memohonkan kepada Allah untukku, agar Allah mengizinkan aku memasuki surga untuk dapat meminum airnya, untuk menghilangkan kesakitan mati dan dahsyatnya api neraka?”

Maka Izrail bermohon kepada Allah dan diberi izin kepadanya untuk memasuki surga dan kemudian harus keluar lagi. Nabi Idris pun masuk ke dalam surga, ia meletakkan kasutnya di bawah salah satu pohon surga, lalu setelah keluar dari surga, Nabi Idris berkata kepada Malaikat Izrail: “Wahai malaikat maut, aku telah meninggalkan kasutku di dalam surga.

Malaikat Izrail: "Masuklah ke dalam surga, dan ambil kasut Tuan.”

Maka masuklah Nabi Idris, namun ia tidak keluar lagi, sehingga Malaikat Maut memanggilnya: “Ya Idris, keluarlah!"

"Tidak, wahai Malaikat Maut, kerana Allah SWT telah berfirman: “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.” []

Baca juga:

Berita terkait
Humaira, Panggilan Sayang untuk Aisyah Istri Rasulullah
Aisyah istri Rasulullah, seorang wanita berparas cantik berkulit putih dengan pipi kemerah-merahan. Ia juga cerdas. Ia sering dipanggil Humaira.
Ketika Aminah Mengandung Nabi Muhammad SAW
Kehidupan masa kecil Aminah hingga ia menikah kemudian mengandung Nabi Muhammad SAW sampai akhirnya meninggal.
Khadijah, Wanita Paling Dicintai Nabi Muhammad SAW
Kisah cinta Khadijah dan Nabi Muhammad SAW berawal dari mitra bisnis. Khadijah lebih tua dan tidak gengsi menyatakan cinta terlebih dulu.
0
Relaksasi Kredit, Bank di Daerah Masih Saja Menagih
Presiden Jokowi membuat kebijakan relaksasi kredit saat pandemi Covid-19, praktiknya petugas bank milik negara masih ada yang menagih bunga kredit.