UNTUK INDONESIA
Khadijah, Wanita Paling Dicintai Nabi Muhammad SAW
Kisah cinta Khadijah dan Nabi Muhammad SAW berawal dari mitra bisnis. Khadijah lebih tua dan tidak gengsi menyatakan cinta terlebih dulu.
Ilustrasi. (Foto: Youtube/Abahluthfy hsu)

Jakarta - Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay al-Quraisyiah al-Asadiyah adalah istri pertama Rasulullah dan mendapat gelar Ummul Mukminin. Ibunya bernama Fatimah binti Zaidah bin Jundub. Khadijah lahir di Mekkah pada tahun 68 sebelum hijrah. 

Khadijah lahir dari keluarga bangsawan Quraisy yang mendididiknya dengan akhlak mulia dan terhormat sebagai seorang wanita. Didikan tersebut membentuk karakternya menjadi perempuan yang kuat, cerdas, dan mampu menjaga kehormatan.

Silsilah Khadijah jika ditarik ke atas terdapat pertemuan dengan nasab Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada kakek kelima, yaitu Qushay. Ia adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta orang pertama yang menerima dakwah Islam. Sekaligus wanita yang paling dicintai Nabi.

Sebelum mengenal Rasulullah, Khadijah terkenal sebagai seorang wanita yang kaya dan seorang pedagang besar. Dalam menjalankan bisnis, Khadijah bekerja sama dengan kaum laki-laki dengan sistem bagi hasil, sebab saat itu kaum perempuan tidak terbiasa keluar jauh untuk berdagang. Inilah tradisi Arab kala itu, hal ini juga sesuai dengan sifat menjaga kesucian diri yang dimiliki.

Demi Allah, engkau adalah seorang yang menyambung silaturahim, jujur ucapannya, memikul kesulitan orang lain, menanggung orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan mendukung usaha-usaha kebenaran.

Hingga pada suatu hari, Khadijah mendengar kisah tentang seseorang yang bernama Muhammad bin Abdullah yang terkenal merupakan pemuda berakhlak mulia, jujur lagi terpercaya. Di masa jahiliyah sangat jarang ada seorang laki-laki bersifat demikian. Khadijah kemudian mengirim seseorang untuk menawarkan kerja sama dengan Muhammad muda untuk dagang menuju Syam (Suriah). Khadijah memberikan barang kualitas super, yang tidak ia percayakan kepada pedagang lainnya.

Ketika Khadijah dan Muhammad telah sepakat bekerja sama, Khadijah menyertakan seorang budak laki-laki bernama Maisaroh untuk membawa barang dagangan itu hingga ke Syam. Dalam perjalanan berdagang, Muhammad bin Abdullah berteduh di bawah pohon dekat kuil milik seorang pendeta. 

Si pendeta datang mendekati Maisaroh. Ia berkata, “Siapa laki-laki yang berteduh di bawah pohon itu?” 

“Ia seorang laki-laki Quraisy dari penduduk al-Haram,” jawab Maisaroh. 

Si pendeta berkata lagi, “Tak seorang pun yang singgah di bawah pohon ini kecuali seorang nabi.”

Kemudian Rasulullah mulai menjual barang dagangannya dan membeli barang lainnya yang diinginkan. Sesampainya di Mekkah, Muhammad menemui Khadijah dengan hasil keuntungan dagangnya. Kemudian Khadijah membeli barang bawaannya. 

Maisaroh mengabarkan tentang kemuliaan akhlak Muhammad bin Abdullah dan sifat-sifatnya yang istimewa, yang ia lihat saat bersafari bersama. 

Membuka Hati untuk Laki-Laki Mulia

Khadijah merupakan janda dua kali yang kedua suami sebelumnya meninggal dunia. Pertama menikah dengan Atiq bin A’id al-Makhzumi, dan yang kedua dengan Abu Halah bin Nabbasy at-Tamimi. Dari Abu Halah, ia mendapatkan seorang putra bernama Hind bin Abu Halah. 

Setelah kepergian suaminya yang kedua, Khadijah memutuskan untuk menutup hatinya dari semua laki-laki dan tak ingin menikah lagi. Tetapi, cerita tentang kemuliaan akhlak Muhammad membuat hatinya goyah hingga berujung pada rekan bisnisnya. Khadijah merupakan wanita yang cerdas sehingga tidak tergesa-gesa, tidak mudah membuatnya langsung tergila-gila dan jatuh harga diri. 

Pada usianya ke-40 tahun, Khadijah menikah dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu berusia 25 tahun. Pernikahan ini berlangsung saat Muhammad bin Abdullah belum diangkat sebagai seorang nabi dan rasul. Rumah tangga keduanya berlangsung kurang lebih selama 25 tahun. 

Pasangan mulia ini terus bersama hingga Khadijah wafat pada usia 65 tahun dan Rasulullah berusia 50 tahun. Ini adalah masa terlama kebersamaan nabi bersama istrinya, dibanding istri-istri yang lain. Nabi tidak menikahi wanita lain saat bersama Khadijah. Ia juga memberi nabi, putra dan putri. Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah.

Orang Pertama Memeluk Islam

Allah Subhanahu Wa Taala menganugerahkan Ummul Mukminin Khadijah dengan hati dan roh yang suci dan cahaya keimanan. Sehingga begitu nabi mendapat wahyu pertama, ia langsung mengimaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama ketika sedang menyendiri (uzlah) di Gua Hira:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” [Quran Al-Alaq: 1].

Nabi segera pulang dalam keadaan takut dan gemetar dan kemudian ketika bertemu dengan istrinya meminta untuk diselimuti. “Selimuti aku. Selimuti aku.”, kata Nabi. Khadijah menyelimutinya sampai rasa cemasnya sirna. Nabi berkata,

أَيْ خديجة، ما لي لقد خشيت على نفسي

“Khadijah, apa yang terjadi padaku? Aku khawatir terjadi apa-apa pada diriku.” Khadijah menanggapi dengan kalimat yang sangat bijaksana dan berarti bagi psikis Nabi, ia berkata:

كلا أبشر، فوالله لا يخزيك الله أبدًا، فوالله إنك لتصل الرحم، وتصدق الحديث، وتحمل الكلَّ، وتكسب المعدوم، وتقري الضيف، وتعين على نوائب الحق

“Tidak. Bergembiralah! Demi Allah, Dia tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah, engkau adalah seorang yang menyambung silaturahim, jujur ucapannya, memikul kesulitan orang lain, menanggung orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan mendukung usaha-usaha kebenaran.”

Kemudian ia mengajak Nabi menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal. Di masa jahiliyah, Waraqah adalah seorang laki-laki Nasrani yang menulis Injil dengan Bahasa Arab. Waraqah sudah tua sampai-sampai buta karena ketuaannya. Waraqah memberi kabar baik kepada Nabi bahwa apa yang baru saja beliau jumpai adalah an-Namus, sebutan malaikat Jibril bagi Nasrani, yang juga datang menemui Musa.

Dalam kondisi demikian, Khadijah merupakan orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentu hal ini semakin meringankan beban psikis Nabi. Kata-kata Khadijah tidak pernah membuat nabi tidak suka, tidak mendustakannya dan membuatnya bersedih. Melalui wanita mulia ini, Allah berikan banyak jalan keluar dan kemudahan untuk Nabi. 

Khadijah lah orang yang menguatkan dan memberi semangat kepada Nabi ketika banyak orang mendustakan dan mengingkari dakwahnya. Tidak hanya mengingkari, orang-orang Arab saat itu juga memusuhi dakwah dengan gangguan. Tapi Khadijah yang melapangkan dan tak pernah mengecewakannya sedikit pun. 

Membantu Dakwah Islam

Setelah memeluk Islam, Khadijah mengorbankan hidupnya yang sebelumnya tenang dan nyaman, berubah menjadi kehidupan yang menantang dan penuh gangguan. Kehidupan dakwah, jihad, dan pengepungan sama sekali tak mengurangi cintanya kepada suaminya, bahkan ia bertambah cinta kepada sang suami. Bertambah cinta pula terhadap agama yang ia bawa. 

Ketika orang-orang Quraisy memboikot dan mengasingkan bani Hasyim ke pinggiran Mekkah, Khadijah tak ragu pergi bersama suaminya. Waktu pengasingan dan boikot tersebut bukanlah waktu yang singkat. Bani Hasyim begitu menderita, kekurangan makanan, sampai-sampai mereka makan dedaunan karena tak ada makanan. 

Mereka seolah-olah akan mati kelaparan karena orang Quraisy memboikot dengan tidak menikahi mereka, tidak membeli atau menjual sesuatu kepada mereka selama tiga tahun. 

Dalam keadaan tersebut, Khadijah yang bukan bagian dari Bani Hasyim, tetap menemani sang suami. Inilah jalan dakwah, tidak mudah sehingga pasangan hidup orang-orang yang meniti jalan dakwah pun adalah orang-orang yang tangguh.

Khadijah Wafat

Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu ‘anhu wafat tiga tahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah di usianya 65 tahun. Rasulullah sendiri yang turun memakamkan jenazah sang istri tercinta. Dengan tangannya yang mulia, beliau memasukkan jenazahnya ke kuburnya.

Wafatnya Ummul Mukminin Khadijah sangat berdekatan waktunya dengan wafatnya Abu Thalib, (paman nabi, ayah Ali bin Abi Tholib). Rasulullah benar-benar merasa sedih dengan wafatnya dua orang yang beliau cintai ini. []

Baca juga:


Berita terkait
Pandemi Corona dan Kisah Wabah Penyakit Zaman Nabi
Pandemi corona Covid-19 menyerang nyaris seluruh negara di dunia saat ini, ternyata peristiwa serupa pernah terjadi pada zaman kenabian.
Tata Cara Puasa Ramadan di Tengah Wabah Corona
MUI mengungkapkan tata cara puasa Ramadan di tengah wabah corona di Indonesia.
Cara Bayar Utang Puasa Ramadan dan Niatnya
Kalau tidak meleset bulan puasa jatuh pada hari Kamis, 23 April 2020 atau 1 Ramadan 1441 H.
0
Jenis Olahraga yang Aman Selama Puasa
Namun, saat menjalani puasa Ramadan banyak orang yang malas berolahraga karena takut kelelahan, dan batal puasanya.