UNTUK INDONESIA
Perjalanan Hidup Nabi Musa AS, Adik Nabi Harun AS
Nabi Musa AS adalah adik Nabi Harun AS. Ia lahir pada zaman Firaun di puncak kekejaman, memerintahkan tentara membunuh semua bayi laki-laki.
Ilustrasi - Mesir. (Foto: Pixabay/blueMix)

Jakarta - Nabi Musa AS adalah keturunan Nabi Yaqub AS yang diangkat menjadi nabi oleh Allah untuk berdakwah menyerukan menyembah Allah kepada kaum Bani Israil di Mesir. Pada waktu itu Mesir dipimpin seorang raja sombong dan kejam yang mengaku sebagai tuhan, yaitu Firaun. 

Ketika masa kelahiran Musa, Firaun memberlakukan kebijakan seluruh bayi laki-laki yang lahir harus dibunuh. Hal ini dilakukan setelah Firaun bermimpi yang diartikan para peramal sebagai pertanda akan ada seorang bayi laki-laki yang lahir dan akan menggulingkan kekuasaannya.

Tidak ingin ada yang menggantikan kekuasaannya, Firaun memerintahkan perajuritnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang baru lahir, khususnya yang merupakan keturunan Bani Israil.

Bayi Musa Dihanyutkan ke Sungai Nil

Ibunda Nabi Musa AS takut anaknya akan menjadi target pembunuhan tentara Mesir. Akhirnya, ibu Nabi Musa mendapat isyarat dalam sebuah mimpi untuk menghanyutkan bayinya yang berusia 3 bulan ke Sungai Nil. 

Dengan sangat terpaksa, bayi Nabi Musa dihanyutkan sesuai perintah Allah SWT. Kakak Musa diperintahkan ibunya untuk mengikuti arah arus yang membawa bayi tersebut. Ternyata keranjang bayi yang dihanyutkan itu tersangkut akar pohon di belakang istana Firaun. 

Seorang perempuan pelayan Firaun yang sedang berada di belakang istana, menemukan keranjang bayi Musa. Pelayan itu memiliki penyakit belang, saat menyentuh bayi Musa, seketika penyakitnya sembuh. Ia dengan sukacita membawa bayi Musa kepada Asiyah, istri Firaun.

Asiyah membawa bayi Musa kepada Firaun sambil menceritakan keajaiban yang dialami perempuan pelayan. Seketika Firaun murka dan berencana membunuh bayi tersebut, namun Asiyah bersikeras agar bayi tidak dibunuh, ia justru ingin memelihara bayi Musa.

Setelah terjadi negosiasi panjang, akhirnya Firaun luluh, membolehkan istrinya mengadopsi Musa. Apalagi memang mereka belum juga dikaruniai putra sejak menikah. 

Musa dalam perkembangannya, meski dididik di lingkungan istana, merasa dirinya berasal dari kalangan Bani Israil yang tertindas. Musa berencana membela kalangannya yang tertindas.

Mukjizat Tongkat Nabi Musa AS

Firaun adalah seorang yang kejam dan berlaku zalim terhadap Bani Israil, sehingga Nabi Musa dan kakaknya, Nabi Harun, berdoa kepada Allah agar menyelamatkan keduanya dari tindakan aniaya Firaun, lalu Allah SWT berfirman. 

“Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”. Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Firaun) dan Katakanlah, “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan Kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada Kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.” (QS. Thaahaa: 46-48)

Dakwah Nabi Musa diolok-olok oleh Firaun dan bertanya, “Siapa Tuhan semesta alam itu?”

Musa menjawab, “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya”.

Firaun berkata kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya, “Apakah kamu tidak mendengarkan?”

Musa berkata (pula), “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu”.

Firaun berkata, “Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.”

Musa berkata, “Tuhan yang menguasai Timur dan Barat dan apa yang ada di antara keduanya; (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.”

Firaun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selainku, aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.” (Lihat Asy Syu’araa: 23-29).

Kemudian Nabi Musa menunjukkan bukti yang membenarkan kerasulannya. Nabi Musa melempar tongkatnya dan berubahlah tongkat itu menjadi ular yang besar sehingga orang-orang terkejut dan takut terhadap ular itu. Kemudian Musa menjulurkan tangannya ke ular itu, maka ular itu kembali menjadi tongkat. Kemudian Musa memasukkan tangannya ke leher bajunya, lalu ia keluarkan, tiba-tiba tampak warna putih berkilau.

Namun Firaun justru menuduh Musa sebagai penyihir, lalu memerintahkan untuk dikumpulkan para penyihir dari segenap tempat untuk melawan Musa. Maka ditetapkanlah hari raya sebagai hari pertunjukan itu yang dimulai pada waktu duha di tempat yang lapang di hadapan Firaun.

Sebelum Firaun mendatangi Musa, ia berkumpul terlebih dahulu dengan para penyihir dan memberikan dorongan kepada mereka agar mereka menang, dengan imbalan akan diberikan berbagai kesenangan berupa harta dan kedudukan.

Para penyihir pun melempar tali dan tongkat, sambil menyihir mata manusia sehingga menurut pandangan manusia bahwa tongkat dan tali tersebut berubah menjadi ular yang gesit dan bergerak di hadapan mereka, sehingga orang-orang takut terhadapnya. Bahkan Nabi Musa dan Harun yang turut hadir merasa takut terhadapnya, lalu Alllah memberikan wahyu kepada Musa agar ia tidak takut dan melempar tongkatnya, maka Nabi Musa dan saudaranya (Nabi Harun) tenang karena perintah Allah itu.

Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.

Nabi Musa pun melempar tongkatnya, maka tongkat itu berubah menjadi ular yang besar yang menelan tali para penyihir dan tongkat mereka. Ketika para penyihir melihat apa yang ditunjukkan Nabi Musa AS, maka mereka mengakui, bahwa itu adalah mukjizat dari Allah dan bukan sihir. Kemudian Allah melapangkan hati mereka untuk beriman kepada Allah dan membenarkan apa yang dibawa Nabi Musa AS, mereka pun akhirnya hanya bersujud kepada Allah sambil menyatakan keimanan mereka kepada Tuhan Musa dan Harun.

Firaun semakin geram dan mulai mengancam para penyihir, ia berkata kepada mereka, “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.” (QS. Thaahaa: 71)

Para penyihir itu berkata, “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat) yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya). Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahanam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka Itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang Tinggi (mulia), (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).” (QS. Thaahaa: 72-76)

Firaun Tenggelam

Untuk menghindari hukuman dari Firaun, Nabi Musa membawa Bani Israil pada malam hari ke arah laut, mereka berjalan kaki ke sana. Namun berita kepergian Nabi Musa dan Bani Isaril ternyata diketahui Firaun, maka ia mengirim orang untuk mengumpulkan (tentaranya) ke kota-kota. 

Firaun berkata, “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil. Dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita. Dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu waspada.”

Maka Firaun dan kaumnya dalam jumlah besar mengejar Nabi Musa dan Bani Israil, hingga akhirnya Firaun dan bala tentaranya dapat menyusul mereka di waktu matahari terbit. Kedua golongan itu pun saling melihat, dan saat itu pengikut-pengikut Musa berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” Tetapi Musa menenangkan mereka dan mengingatkan mereka, bahwa Allah SWT akan menolong mereka, dengan berkata, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”

Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukul tongkatnya ke laut, maka dengan izin Allah laut pun terbelah, di mana setiap belahan seperti gunung yang besar (QS. Asy Syu’araa: 52-63). 

Bani Israil segera melintasi laut hingga sampai di seberang, sedangkan Firaun berada di tepi sebelumnya, dan ketika Firaun melihat jalan-jalan di tengah laut senantiasa terbuka, maka ia bersama tentaranya melewati jalan itu untuk mengejar Bani Israil. 

Tetapi ketika mereka telah sampai di tengah laut, laut kembali seperti biasa yang membuat mereka semua tenggelam. Dan saat Firaun telah merasakan dirinya akan tenggelam, ia pun berusaha menyelamatkan dirinya dengan berkata, “Saya percaya bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Yunus: 90)

Akan tetapi, saat itu tidak ada lagi waktu untuk bertobat, karena nyawanya telah sampai di tenggorokan.

Jasad Firaun tergulung ombak hingga ke pinggir pantai agar dilihat oleh orang-orang Mesir, untuk menjadi pelajaran bagi mereka, bahwa orang yang mereka sembah selama ini serta mereka taati tidak mampu menolak kematian sedikit dari dirinya serta menjadi pelajaran bagi setiap orang yang sombong lagi kejam.

Bani Israil pergi ke negeri yang suci (Palestina), namun di tengah perjalanan, mereka melihat orang-orang yang menyembah patung. Lalu mereka meminta kepada Nabi Musa AS untuk membuat sesembahan seperti yang mereka miliki, Nabi Musa berkata, “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”– Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.” (QS. Al A’raaf: 138-139)

Nabi Musa juga berkata, “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu selain Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat (pada masa itu).” (QS. Al A’raaf: 140). []

Baca juga:

Berita terkait
Perjalanan Nabi Yaqub AS, Ayah Nabi Yusuf AS
Dari semua pernikahan itu, Nabi Yaqub AS dikaruniai 12 orang anak, salah satunya adalah Nabi Yusuf AS dari istrinya bernama Rahil.
Nabi Yusuf AS, Manusia Paling Tampan Sedunia
Perempuan-perempuan itu begitu terpesona melihat ketampanan Nabi Yusuf AS, hingga mereka tanpa sadar melukai tangan masing-masing dengan pisau.
Nabi Harun AS, Saat Terakhir di Puncak Gunung Hor
Nama Nabi Harun AS disebut di dalam Alquran sebanyak 20 kali. Nabi Harun AS merupakan kakak Nabi Musa AS dengan selisih empat tahun lebih tua.
0
Perjalanan Hidup Nabi Musa AS, Adik Nabi Harun AS
Nabi Musa AS adalah adik Nabi Harun AS. Ia lahir pada zaman Firaun di puncak kekejaman, memerintahkan tentara membunuh semua bayi laki-laki.