UNTUK INDONESIA

Perajin Kipas yang Terkipas Dampak Pandemi di Bantul

Seorang perajin kipas bambu di Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantu, mengaku pandemi membuat karyawannya kocar-kacir.
Alif Hadi Prayitno, 53 tahun, menunjukkan kipas bambu buatannya, di showroomnya, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Sabtu, 2 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Bantul – Bilah-bilah buluh yang sudah dihaluskan dan dipotong berukuran 17 sentimeter berserak di atas rumput tepi jalan, tepat di depan salah satu rumah di Kampung Jipangan, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bilah-bilah bambu itu sengaja dijemur di bawah terik matahari untuk dijadikan kerajinan berupa kipas.

Di dalam rumah yang sekaligus menjadi showroom suvenir pernikahan milik Alif Hadi Prayitno, 53 tahun, puluhan kipas bambu dengan corak beragam tertata rapi di rak yang menempel pada dinding kaca, Sabtu, 2 Januari 2021.

Sementara, di lantai sejumlah kipas lain yang berukuran lebih kecil siap untuk dikirim pada pemesan. Kipas-kipas itu sudah dibungkus dengan plastik bening, lengkap dengan nama si pemesan yang ditulis pada secarik kertas kecil.

Beberapa puluh sentimeter dari kipas-kipas tersebut, beragam pernak-pernik unik tersusun di atas rak besi. Seluruhnya merupakan suvenir pernikahan.

Kerajinan kipas 2Alif Hadi Prayitno, 53 tahun, menunjukkan kipas bambu dengan motif batik, Sabtu, 2 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Alif ramah menyapa, kemudian mempersilakan duduk di kursi kayu di showroom Alifacraft miliknya. Dia memulai ceritanya dengan suara yang tidak terlalu lantang namun juga tidak lirih. Matanya sesekali seperti menerawang, mengenang kejadian-kejadian awal dirinya menjadi pengusaha suvenir.

Awalnya, kata Alif, dia bekerja pada perajin kipas di kampungnya. Saat itu sekitar tahun 1985, atau ketika dirinya duduk di bangku sekolah menengah atas. Dia sekolah sambil bekerja karena orang tuanya tidak memiliki cukup biaya untuk menyekolahkannya.

Awalnya 1985-1986 saya kan masuk sekolah SMA tapi orang tua tidak mampu membiayai, kita mencari sekolah swasta yang masuk siang sampai sore, terus pagi harinya saya ikut kerja di kerajinan kipas.

Setelah lulus SMA, tepatnya tahun 1987, Alif yang saat itu berniat melanjutkan kuliah harus mengurungkan niatnya, lagi-lagi disebabkan oleh masalah biaya. Saat itu, lanjut Alif, jangankan untuk biaya kuliah, untuk makan pun susah.

Akhirnya, berbekal keterampilan yang diperolehnya saat bekerja pada perajin kipas, dia mencoba membuka usaha sendiri.

“Tahun itu bahkan untuk makan saja susah, akhirnya saya coba bikin kipas sendiri dan dipasarkan di showroom batik di sekitar Pasar Ngasem, Yogyakarta,” ucapnya mengenang.

Perubahan Tren Kipas

Sejak mulai menjadi perajin kipas pada tahun 1987 sampai saat ini, tren kipas bambu mengalami perkembangan dan berubah-ubah. Pada periode 1987 hingga tahun 1990-an, kipas bambu yang banyak diminati adalah kipas berukuran besar, yang biasanya digunakan sebagai hiasan dinding.\

Tapi kipas jenis itu tidak bertahan lama. Mulai tahun 1990 ingga tahun 2000-an kipas itu mulai ditinggalkan orang, dan kipas yang diminati berubah pada kipas topi.

“Tahun 1990 sampai 2000-an ada model topi kipas, jadi bisa jadi topi, tapi kalau dibuka setengah lingkaran bisa dibuat kipas. Tapi sekarang juga sudah nggak ada,” ucapnya menambahkan.

Selanjutnya pada periode tahun 2000 hingga sekarang (2021), kipas yang diminati justru kipas kecil yang digunakan sebagai suvenir pernikahan.

Penjualan kipas suvenir tersebut, lanjut Alif, cukup lancar. Sekitar 90 persen kipas buatannya dipasarkan di luar Yogyakarta, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga ke Pulau Sulawesi. Sisanya, sekitar 10 persen dipasarkan di sekitar Yogyakarta.

“Sempat juga dikirim ke Jerman tapi lewat eksportir. Bulan lalu ke Jerman, dua tahun lalu ke Yordania, tapi pengirimannya lewat eksportir di Bali, tidak langsung,” kata Alif.

Para pemesan dari luar negeri tersebut, lanjut Alif, juga memesan kipas untuk suvenir, sama seperti yang dijualnya untuk pasar lokal.

Kerajinan Kipas 3Alif Hadi Prayitno, 53 tahun, mengambil buluh bambu bahan kipas yang dijemur di depan showroomnya, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Sabtu, 2 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sementara, untuk bahan baku pembuatan kipas, yaitu bambu, Alif mengaku membelinya dari pemilik bambu di sekitar kelurahan tempat tinggalnya. Beberapa waktu lalu dia pernah kehabisan bahan baku dan harus membelinya di daerah Purworejo, Jawa Tengah.

“Kalau pas ramai sempat kehabisan dan cari bahan baku ke Purworejo, tapi sekarang karena sepi tidak sampai di sana. Lingkup kelurahan masih cukup,” tuturnya.

Bambu yang digunakan sebagai bahan baku kipas bisa menggunakan jenis bambu apa pun, Tetapi dia mencari bahan baku bambu yang paling mudah dikerjakan dan paling ekonomis, yakni jenis bambu hitam.

“Sebetulnya yang paling bagus itu bambu apus yang warna putih itu, tapi itu kan tipis dan keras, harganya juga terlalu tinggi. Kalau untuk kipas itu nggak masuk.”

Alif menjual kipas buatannya dengan harga yang cukup terjangkau, yakni mulai dari Rp 1.500 hingga Rp 5.000, tergantung ukuran kipas. Kipas yang digunakan sebagai suvenir memiliki empat ukuran standar, yakni 14 sentimeter, 17 sentimeter, 19 sentimeter, dan 25 sentimeter.

“Itu ukuran paten dari dulu untuk suvenir. Harganya mulai Rp1.500 sampai Rp 5.000. per biji. Kalau beli di atas 200 biji ada harga khusus,” dia menegaskan.

Jumlah kipas yang diproduksi dalam sehari, lanjut Alif, tergantung pada cuaca. Sebab dalam membuat kipas dibutuhkan sinar matahari untuk menjemur dan mengeringkan kipas. Jika tangkai kipas sudah tersedia, cuaca panas, dan kain juga tersedia, dalam sehari dia bisa membuat dua ribu kipas berbagai ukuran.

Kerajinan Kipas 4Tumpukan kipas bambu yang siap dikirim sebagai suvenir pernikahan, Sabtu, 2 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Tapi jika cuaca sedang tidak bersahabat dan hujan turun selama beberapa hari, maka tidak ada kipas yang bisa dibuat selama itu.

Hantaman Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 ternyata cukup memengaruhi omzet penjualan kipas buatan Alif. Dulu, sebelum pandemi, dia memiliki pelanggan dari Jakarta yang rutin menerima pasokan kipas berapa pun jumlahnya.

Namun sejak pandemi, pesanan dari Jakarta berkurang drastis dan lambat terjual. “Kalau sebelumnya bisa dikatakan dua minggu sekali minta, dan seberapa pun produksi saya pasti diterima, sekarang mungkin dua bulan sampai tiga bulan, paling lancar satu bulan,” ucapnya sedikit mengeluh.

Alif menegaskan, sejak pandemi Covid-19 pesanannya menurun drastis. Bahkan beberapa bulan terakhir bisa dikatakan tidak ada pesanan suvenir sama sekali akibat pandemi.

“Sempat beberapa bulan tidak ada pesanan, mulai Maret 202. Sekarang sudah mulai bangkit tapi baru 10 persen.”

Selama dirinya vakum memroduksi kipas, karyawannya yang tadinya berjumlah sekitar 30 orang pun terpaksa dirumahkan. Sebagian besar mereka merupakan warga sekitar tempat Alif tinggal. Dulu mereka rutin datang untuk mengambil bahan pembuat kipas, kemudian dibawa pulag untuk dikerjakan di rumah, dan dikembalikan saat pekerjaan mereka selesai.

Selain karyawan yang membantu produksi, Alif juga memiliki beberapa karyawan yang bertugas di showroom, yakni bagian pengepakan dan finishing.

Setelah dirumahkan, mereka mencari pekerjaan lain, mulai dari menjadi buruh bangunan hingga menjadi karyawan harian lepas di Pabrik Gula Madukismo.

“Berhenti semua, kocar-kacir. Ada yang ikut jadi buruh bangunan, ada yang jadi karyawan Madukismo bagian lapangan,” tuturnya dengan suara lirih.

Salah satu karyawan Alif yang masih bertahan adalah Trio, 25 tahun, yang tinggal hanya beberapa puluh meter dari showroom Alifacraft. Pemuda ini bertugas membuat ukiran pada gagang kipas.

Kerajinan Kipas 5Trio, 25 tahun, sedang mengukir gagang kipas di rumahnya, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Sabtu, 2 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Saat didatangi di rumahnya, Trio baru saja selesai menunaikan salat Zuhur. Rambutnya masih basah oleh air wudhu. Dia bergegas menuju sudut rumahnya, tempat dia biasa membuat gagang kipas. Di sana terpasang semacam alat penjepit atau tandem dan pisau.

“Saya hampir dua tahun menjadi pembuat batikan atau mengukir gagang kipas, meneruskan pekerjaan ibu. Sehari bisa mengukir 800an gagang kipas biasa. Kalau rintik itu sekitar 300-500 gagang. Itu memang lebih sulit,” ucapnya sambil memotong batang bambu.

Untuk mengukir gagang kipas, Trio hanya menggunakan tiga macam alat, yakni tandem, pisau, gorok, dan bor.

“Dulu belajar dari teman. Satu meter bisa jadi berapa saya nggak tahu, soalnya datang sudah bentuk batangan, saya tinggal ngukir doang,” kata Trio. []

Berita terkait
Menyusuri Sejumlah Makam Kuno di Kotagede Yogyakarta
Sejumlah makam kuno terdapat di kawasan Kotagede, Yogyakarta. Dari sejumlah makam kuno itu ada beberapa cerita menarik.
Doni Monardo dan Sepiring Sukun di Pinggir Kali
Doni Monardo mendekati pohon sukun itu dan berkata pelan, mohon izin, Bung Karno, saya memotong dahan pohon sukun untuk saya tanam di tempat lain.
Kaki yang Kembali di Yogyakarta Setelah 6 Tahun Amputasi
Kaki Sigit Wahyudi, pemuda 27 tahun asal Kudus kembali meski palsu, setelah diamputasi akibat tersengat listrik pada tahun 2013.
0
Perajin Kipas yang Terkipas Dampak Pandemi di Bantul
Seorang perajin kipas bambu di Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantu, mengaku pandemi membuat karyawannya kocar-kacir.