Penyebab Pencurian Sepeda Meningkat di Padang

Pencurian sepeda di Kota Padang, Sumatera Barat, meningkat. Ini penyebabnya menurut pandangan sosiolog.
Ilustrasi keamanan sepeda. (Foto: Pixabay)

Padang - Para pelaku tindakan kriminal, khususnya di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) dinilai memanfaatkan momentum trend penggunaan sepeda untuk melakukan aksi pencurian.

Sosiolog dari Universitas Negeri Padang (UNP), Erian Joni mengatakan, komplotan pencurian spesialis sepeda di Kota Padang yang belakangan mulai marak selain disebabkan faktor klasik yaitu faktor ekonomi agar pelaku bisa bertahan di tengah kondisi hidup yang makin berat masa pandemi Covid-19, sehingga apapun peluang untuk menghasilkan uang akan dilakukan orang walaupun kadang menyimpang, salah satunya aksi pencurian sepeda.

"Tren kejahatan yang tinggi di Kota Padang ini sebenarnya adalah curanmor (pencurian kendaraan bermotor) tetapi sejalan dengan gaya hidup masyarakat bersepeda yang juga marak, maka para penjahat juga memanfaatkan kondisi ini untuk melakukan kejahatannya," kata Erian Joni kepada Tagar melalui pesan WhatsApp, Sabtu 18 Juli 2020.

Erian menilai, mahalnya harga sepeda baru yang harga bisa mencapai belasan juta rupiah berdampak pada adanya keinginan penggemar sepeda membeli sepeda bekas membuat pelaku pencurian dan penadah melakukan aksinya.

"Untuk itu perlu bagi pengemar sepeda untuk selalu memperhatikan keamanan sepedanya, karena trend bersepeda di Indonesia khususnya di Kota Padang maka signifikan dengan trend kejahatan berupa pencurian sepeda, yang tujuannya kebanyakan sepeda-sepeda berkelas seperti permintaan pasar dan gengsi sosial di kalangan konsumen," katanya.

Ia juga mengatakan bahwa beberapa waktu lalu ada wacana untuk memungut pajak sepeda, karena sepeda olahraga yang cukup banyak pengemarnya dan dianjurkan secara kesehatan, sehingga komunitas sepeda juga bermunculan dari berbagai kalangan seperti sesama teman kantor, kawan sekomplek perumahan, kawan sesama alumni sekolah tertentu dan lain-lain pada saat ini.

Selain sebagai saluran sosial untuk mempererat pertemanan yang akrab di media sosial di dunia sosial melaui berolahraga sambil berwisata, tak sedikit dari orang ikut bersepeda itu hanya ikut-ikutan saja dan tidak kontinu, karena motif bukan lagi karena olahraga.

"Motifnya bisa saja ekonomi untuk mencari relasi bisnis, mencari jodoh atau pacar, terpaksa ikut untuk menyenangkan atasan supaya dapat jabatan dan sebagainya," katanya.

Karena untuk membeli sepeda tak perlu pakai surat-surat segala, sehingga menjualnya mudah atau lebih praktis.

Dia mengatakan, dalam kondisi saat sekarang ini, penggunaan sepeda mulai menjadi konsumsi massal, selain karena juga murah dari segi operasional, dalam kondisi juga di tengah kekalutan sosial akibat Covid-19 maka kejahatan yang sasarannya sepeda juga meningkat mengitu trend gaya hidup masyarakat karena ada penadah dan ada konsumen sepeda bekas tersebut.

"Karena untuk membeli sepeda tak perlu pakai surat-surat segala, sehingga menjualnya mudah atau lebih praktis, keadaan inilah yang dipahami oleh sindikat kejahatan pencurian sepeda di kota ini," katanya.

Ia tidak menampik bahwa masyarakat modern yang tak terikat dengan gaya hidup hedonisme dan materialistik terkesan memaksakan pencapaian hidup secara instan dengan terpaksa melakukan berbagai strategi bertahan hidup seperti terjerat utang melalui jasa kredit barang. Akibatnya mereka mendahulukan kebutuhan tersier dari kebutuhan pokok.

"Logika berpikir yang keliru untuk sejajar dengan orang lain dan mempertaruhkan gengsi sosial ini, justru yang memicu banyaknya muncul perilaku menyimpang dalam masyarakat dan juga mereka terjebak dalam dunia yang sebenarnya bukan dunia mereka," katanya.

Ia menuturkan, selagi masyarakat terjebak oleh rayuan hedonis yang kaya dengan strategi marketing yang dahsyat melalui iklan di media sosial, masyarakat akan mengalami anomali hidup yang mengejar kesenangan psikologis sesaat. "Sehingga mereka lepas dari akar budaya dan nilai-nilai religiusitasnya. Imbasnya, kejahatan akan selalu ada dan meningkat," tuturnya.

Sebelumnya diberitakan Tagar, polisi menangkap ARF, 20 tahun, satu dari tiga komplotan pencuri sepeda di Kota Padang, Sumatera Barat. Dia diringkus pada Kamis, 16 Juli 2020 dini hari.

Warga Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang itu diciduk polisi berdasarkan laporan LP/371/B/VII/2020/SPKT Unit III Polresta Padang tanggal 15 Juli 2020 dengan pelapor berinisial MM.

"Pelaku beraksi tidak sendirian, dia dibantu sama dua rekannya yang saat ini masih buron dan sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO)," kata Kasat Reskrim Polresta Padang Kompol Rico Fernanda membenarkan penangkapan itu, Kamis, 16 Juli 2020.

ARF beraksi di kediaman MM, kawasan Kompleks Singgalang yang juga masih berada di Kecamatan Koto Tangah pada Rabu, 15 Juli 2020 dini hari. []

Berita terkait
Cerita Jamaah Pilih Wisuda Pakai Sepeda di UMK
Universitas Muria Kudus melakukan wisuda dengan cara drive thru untuk gelombang pertama. Wisuda Drive Thru dilakukan untuk protokol kesehatan.
Warga Padang Waspada Maling Sepeda
Seorang pencuri sepeda di Kota Padang diringkus polisi.
Pesepeda Meninggal Saat Lampu Merah di Yogyakarta
Goweser meninggal saat bersepeda kembali terjadi. Kali ini dialami warga Depok, Sleman yang meninggal saat menunggu lampu merah di Kota Yoyakarta.
0
Mengenal Efek Samping Kebanyakan Minuman Berenergi
Mengenal efek samping minuman berenergi yang di dalamnya terdapat kafein dan lebih banyak gula serta bahan lainnya jika dikonsumsi terlalu banyak.