UNTUK INDONESIA
Penjelasan RS Unair Soal Tes Corona Bayar Rp 2 Juta
Manajer Pelayanan Medis RSUA Muhammad Ardian membantah informasi beredar mengenai price list harga tes virus corona sebesar Rp 2 juta.
Manajer Pelayanan Medis RSUA Muhammad Ardian saat mengklarifikasi informasi viral soal tarif periksa virus corona. (Foto: Tagar/Haris D Susanto)

Surabaya - Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Surabaya angkat bicara setelah beredarnya surat edaran harga tes virus corona atau Covid-19 sebesar Rp 2.755.600. Dalam surat tersebut berisi paket pemeriksaan, konsultasi dokter spesialis, swab PCR covid-19, DL, dan, X-ray.

Menanggapi kabar viral tersebut, Manajer Pelayanan Medis RSUA Muhammad Ardian mengatakan berita beredar mengenai price list harga tes virus corona di Rumah Sakit Unair Surabaya tak benar.

Saya sampaikan bahwa pertama, bagi masyarakat umum memiliki gejala Covid-19, berupa panas tinggi 38 derajat, batuk, sesak nafas serta memiliki riwayat kontak positif atau memiliki riwayat bepergian luar negeri atau ke daerah terjangkit.

"Yang lagi viral tadi malam sampai di twitter, di medsos oleh sebab itu kami melakukan klarifikasi ada beberapa hal. Prinsipnya, bahwa kami di Rumah Sakit Unair patuh pada peraturan berlaku. Jadi tidak seperti itu biayanya," kata Ardian, Kamis, 19 Maret 2020.

Selain itu, Ardian merinci bagi pasien memiliki riwayat dan mengalami tanda-tanda virus corona bisa mendapat pemeriksaan secara gratis di RSUA.

"Saya sampaikan bahwa pertama, bagi masyarakat umum memiliki gejala Covid-19, berupa panas tinggi 38 derajat, batuk, sesak nafas serta memiliki riwayat kontak positif atau memiliki riwayat bepergian luar negeri atau ke daerah terjangkit. Kemudian didiagnosa oleh dokter sebagai ODP atau PDP, maka pemeriksaan tidak dikenakan biaya," kata dia.

Namun, bagi masyarakat tidak memiliki indikasi atau gejala yaitu panas tinggi atau sesak nafas. Serta dokter tidak mengeluarkan ODP atau PDP maka pemeriksaan dipungut biaya.

"Kedua, bagi masyarakat yang tidak memiliki indikasi atau gejala, serta tidak bepergian ke daerah terjangkit dan kebanyakan orang yang panik saja untuk memeriksakan. Maka untuk hal akan dikenakan biaya," ujar dia.

Sementara untuk biaya pemeriksaan Rp 2.755.600, Ardian menyebut itu tidak benar dan tidak menyalahkan. Karena ia tak hafal soal tarif pemeriksaan virus corona.

"Tapi detailnya mending saya silakan telepon hotline saja untuk benarnya gimana. Jadi saya juga tidak tahu ada menyebar dengan biaya seperti itu," ucap dia.

Pasien Corona di RSUA Bisa Gunakan BPJS

Di sisi lain, Ketua Satgas Corona RSUA, Dr. Prastuti Asta Wulaningrum mengatakan mulai hari ini pasien yang dinyatakan ODP dan PDP sudah bisa ditanggung oleh BPJS.

"Yang jelas adalah BPJS baru hari ini tadi mengeluarkan maklumat bahwa ditanggung. Percayalah bahwa kami ini sedang mengusahakan terbaik untuk pasien, tapi dengan KTP Surabaya," ujar Prastuti.

Sedangkan, Prastuti menyatakan bagi pasien belum memiliki kartu BPJS tetap tidak bisa dilayani pemeriksaan secara gratis di RSUA Surabaya. Bahkan menurutnya, pasien yang tidak memiliki gejala terkena virus corona juga tidak bisa mendapatkan tes secara gratis dari pihak RSUA.

"Jadi ini kami berlakukan untuk pasien sudah ODP atau PDP saja. Karena pihak BPJS juga meminta laporan ke kita bahwa pasien itu benar tidak terindikasi virus Covid-19," ucap Prastuti.

Prastuti juga bersyukur update terakhir pasien ODP dan PDP yang dirawat di RSUA sudah mulai berkurang. Apalagi kemarin sudah ada tiga orang sudah dipulangkan.

"Saat ini alhamdulillah kemarin sudah dipulangkan sekitar tiga orang. Mereka adalah ODP, negatif hasilnya alhamdulillah. Kemudian masih ada 1 ODP di RS Unair dan 2 lagi PDP dan semua dalam kondisi baik," kata Prastuti.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Febria Rachmanita mengatakan Pemkot Surabaya menjalin kerja sama dengan RSUA sebagai salah satu lembaga rujukan yang ditunjuk Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk melakukan tes swab Covid-19.

“Jika ODP mempunyai gejala seperti Covid-19, maka biaya pemeriksaan Swab di RSUA bisa dibayar Pemkot Surabaya,” kata Feny.

Namun, kata Feny, bagi ODP tidak ada gejala dan ingin periksa mandiri ke RSUA, maka biaya tes Swab ditanggung sendiri. Untuk itu, ia mengimbau kepada masyarakat agar sebelumnya bisa melakukan konsultasi dan deteksi dini dengan melakukan pemeriksaan ke rumah sakit atau puskesmas terdekat sebelum tes Swab ke RSUA.

“Jadi kalau ODP tidak ada gejala seperti Covid-19 dan periksa sendiri (swab), maka biaya ditanggung sendiri,” katanya.

Menurutnya, pemeriksaan awal dan pelayanan bagi ODP di rumah sakit manapun juga bisa dicover menggunakan biaya BPJS. Sebab, BPJS juga menanggung biaya pemeriksaan untuk ODP dengan gejala seperti Covid-19. Tetapi, jika ODP sudah dinyatakan PDP atau diagnosa positif Covid-19, maka biaya perawatan selanjutnya ditanggung pemerintah pusat.

“Yang tidak bisa dibayar BPJS adalah sudah diagnosa positif Covid-19. Sedangkan Pemkot membayar tes Swab-nya bagi ODP dengan gejala Covid-19 sebesar Rp 1.560.000,” ujarnya.

Oleh karena itu, Feny menyampaikan bagi ODP dengan gejala maupun non gejala COVID-19, agar dapat melakukan pemeriksaan awal menggunakan fasilitas BPJS. Tetapi jika pasien tersebut statusnya menjadi PDP atau terindikasi, maka seluruh biaya akan dicover oleh pemerintah pusat.

“Jadi supaya tidak ada double pembayaran dengan pemerintah pusat, maka pemkot membayar bagian Swab-nya,” ungkapnya.

Feny juga menegaskan, bagi warga Surabaya yang merasa tidak pernah bepergian ke negara terjangkit ataupun kontak dengan orang terjangkit, kemudian ingin melaukan tes Swab ke RSUA, maka dipastikan mereka membayar secara mandiri.

“Biasanya, karena kecemasan masyarakat, maka ia ingin periksa sendiri, sehingga ya harus bayar sendiri,” kata dia.

Feny mengungkapkan, hingga hari ini, terhitung sekitar 50 pasien yang sudah melakukan tes Swab di RSUA. Mereka terdiri dari 48 warga Surabaya dan dua pasien dari luar kota. Ia berharap, bagi ODP tidak punya gejala seperti Covid-19, dapat mengisolasi secara mandiri. []

Berita terkait
Unair Surabaya Klaim Temukan Vaksin Tangkal Covid-19
Rektor Unair Surabaya Prof Nasih mengaku temuan itu masih berupa draft dan akan dibuat setelah ada izin dari Balibang Kemenkes.
ITD Unair Akui 6 Spesimen Corona Dirawat di Surabaya
ITD Unair Surabaya mendapatkan enam spesimen dari pasien terkonfirmasi virus corona di sejumlah Rumah Sakit di Surabaya.
Bertambah Satu, Pasien Positif Corona Warga Surabaya
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengataakan akan melakukan Rapid Test setelah bertambahnya jumlah pasien positif virus corona.
0
Pria Botak di Sumut Diancam 15 Tahun Penjara, Ini Kasusnya
Pria botak di Deli Serdang, Sumatera Utara, nodai adik ipar. Penjara 15 tahun menantinya.