UNTUK INDONESIA

Pengasuh Anak Pria di Jepang, Melawan Stigma dan Stereotip

Menjadi pengasuh anak (baby sitters) bagi pria di Jepang masih menjadi stigma negatif.
Menjadi pengasuh anak (baby sitters) bagi pria di Jepang masih menjadi stigma negatif. (Foto: Tagar|japantimes.co.jp|Pengasuh Anak).

Jakarta - Menjadi pengasuh anak (baby sistters) bagi pria di Jepang masih menjadi stigma negatif. Naoya Miyatake beberapa kali ditolak saat melamar menjadi pengasuh anak balita.

Banyak orang tua yang tak nyaman menyerahkan anaknya kepada pengasuh pria. Mereka merasa risih saat melihat baby sitters pria membuka baju, memandikan, dan menggantikan celana atau popok.

Saya ingin membuktikan bahwa pria bisa sama bagusnya dalam pekerjaan yang selama ini dianggap hanya bisa dikerjakan wanita.

Ini alasan banyak orang tua menolak atau tidak mau mempekerjakan pengasuh berjenis kelamin laki-laki. Mengutip dari Japan Times, Senin, 16 November 2020, seperti di banyak negara, prasangka dan keberatan terhadap pengasuh anak berjenis kelamin laki-laki juga terjadi di Jepang.

Selain itu budaya bahwa pria harus bekerja di kantor dan wanita di rumah sudah tertanam di masyarakat patriarkal. Ditambah lagi wanita lebih dipercaya dalam mengasuh anak, telah merasuki industri penitipan anak, membuat pengasuh pria dianggap sebagai sesuatu yang aneh.

Naoya MiyatakePengasuh anak, Naoya Miyatake mengatakan Jepang bisa meniru Inggris dalam pembuatan aplikasi catatan kriminal pengasuh anak. (Foto: Tagar|Tomohiro Osaki|Naoya Miyatake).

Bertekad untuk membuktikan stereotip gender yang salah, Miyatake yang berusia 30 tahun, selama bertahun-tahun berkomitmen menjalani profesi sebagai pengasuh anak. Tekad kerasnya berbuah manis, pria ini dinobatkan sebagai salah satu baby sitters yang paling dicari di Jepang pada aplikasi yang menghubungkan orang tua dengan pengasuh.

Kesuksesan Miyatake membuat banyak pria yang melamar menjadi pengasuh anak di aplikasi Kidsline. Namun dua orang telah mencoreng profesi lantaran menganiaya anak-anak di bawah asuhan mereka, awal tahun ini.

Miyatake marah dengan ulah kedua pria yang sudah ditangkap tersebut. "Saya sangat marah,” kata Miyatake, mengenang kejadian tersebut.

Ia berharap kasus yang sama tak terulang lagi dan akan banyak pria mamasuki industri penitipan anak. "Sama seperti wanita yang melangkah maju ke dunia korporat yang didominasi pria, saya juga berharap bisa menjadi katalisator perubahan. Saya ingin membuktikan bahwa pria bisa sama bagusnya dalam pekerjaan yang selama ini dianggap hanya bisa dikerjakan wanita, " tutur Miyatake.

Pada sisi lain, kasus pelecehan seksual juga memperkuat stigma negatif yang melekat pada laki-laki dalam industri penitipan anak. Seperti di Inggris, Jepang juga akan meluncurkan aplikasi pemeriksaan catatan kriminal Disclosure and Barring Service (DBS) untuk menyaring pengasuh anak berisiko tinggi. Kementerian Kesehatan Jepang mempertimbangkan pembuatan database pengasuh pernah punya catatan kriminal lantaran serangan seksual. []

Berita terkait
Jepang Pantau Warganya Mubazir Buang Makanan Tiap Hari
Pemerintah Jepang perhatian terhadap warganya yang mubazir buang makanan setiap hari.
Saat Pandemi Akishino Diumumkan Jadi Pewaris Takhta Jepang
Secara resmi Jepang memproklamasikan Putra Mahkota Akishino sebagai pewaris takhta dalam serangkaian upacara pada Minggu, 8 November 2020
Video Koala Duduk Seperti Orang Tua Mabuk Viral di Jepang
Seekor koala mendadak menjadi terkenal, setelah videonya terlihat seperti pria paruh baya sedang mabuk viral di media sosial Jepang.
0
Pengasuh Anak Pria di Jepang, Melawan Stigma dan Stereotip
Menjadi pengasuh anak (baby sitters) bagi pria di Jepang masih menjadi stigma negatif.