Pelecehan Said Didu ke Rahayu, EWI: Lelaki Tua Memalukan

Said Didu dan politisi Partai Demokrat Cipta Panca Laksana diduga telah melecehkan Calon Wali Kota Tangerang Selatan Rahayu Saraswati.
Deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Said Didu dan politisi Partai Demokrat Cipta Panca Laksana diduga telah melecehkan Calon Wali Kota Tangerang Selatan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. (Foto: Twitter)

Jakarta - Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean semprot salah seorang deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Said Didu dan politisi Partai Demokrat Cipta Panca Laksana, yang diduga telah melecehkan Calon Wali Kota Tangerang Selatan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo.

Kritikan itu disampaikan Ferdinand menyoal pada cuitan Panca di akun Twitter pribadi miliknya @Panca66. Hal itu diungkapkan usai dihubungi Tagar, Sabtu, 5 September 2020.

Mengakui bahwa ini adalah perbuatan amoral, perbuatan memalukan dari seorang laki-laki tua kepada seorang perempuan

Ferdinand menilai, cuitan Panca yang bertuliskan "Paha calon wakil walikota Tangsel itu mulus banget" dinilai telah melecehkan perempuan.

Tak hanya itu, cuitan tersebut pun di retweet oleh mantan Sekretaris BUMN, Said Didu melalui akun @msaid_didu yang bertuliskan "Huzzz–no pict hoax (tidak gambar berarti hoaks)".

"Intinya apa yang dilakukan Said Didu bersama dengan Panca itu adalah perbuatan amoral yang tidak sepatutnya dilakukan oleh orang yang mengklaim diri sebagai tokoh di media sosial," kata Ferdinand.

Politisi Partai Demokrat ini juga mengaku mengikuti perkembangan yang viral di Twitter tersebut. Dia pun menyayangkan perbuatan yang dilakukan Said dan Panca.

"Pernyataan saudara Panca terkait dengan Calon Wakil Walikota Tangerang Selatan yang menjurus kepada pernyataan yang melecehkan perempuan yang kemudian ditanggapi oleh Said Didu sangat kita sayangkan," ujarnya.

Dia menegaskan, pernyataan melecehkan yang dilontarkan Said bukan kali pertama dilakukan di media sosial.

Lantas dia juga mempertanyakan moral gerakan KAMI yang belakangan sering disuarakan Said Didu bersama dengan rekan-rekannya.

"Seorang Said Didu ini bukan pertama sekali menyampaikan pernyataan yang melecehkan. Ini pelecehan kepada pihak perempuan yang tidak sepatutnya dilakukan oleh Said Didu yang mana belakangan ini gencar menjual KAMI sebagai gerakan moral, ya ternyata moral mereka justru dipertanyakan," ujarnya.

Ferdinand juga mengungkit pernyataan Said yang pernah mempertanyakan ukuran bra seorang perempuan di Twitter.

"Tidak layak dan tidak patut statement-statement yang bernada melecehkan apalagi bicara paha perempuan seperti itu. Ini sangat keterlaluan. Kalau dulu Said Didu bicara ukuran BH peremuan 38b, sekarang bicara tentang paha perempuan," kata dia.

Dia kemudian menjelaskan, perbuatan Said dan Panca merupakan tindakan kekerasan verbal kepada kaum perempuan terutama Rahayu Saraswati yang menjadi korban.

"Kita sangat menyayangkan. Saran saya sebaiknya Said Didu minta maaf kepada Saraswati dan kepada publik atas apa yang dilakukannya dan mengakui bahwa ini adalah perbuatan amoral, perbuatan memalukan dari seorang laki-laki tua kepada seorang perempuan," ucap dia.

Pandangannya, sudah selayaknya Said mendapat sanksi sosial atas pernyataannya tersebut. Menurut Ferdinand, deklarator KAMI itu sebaiknya tidak lagi menggunakan sosial media.

"Jadi ini bentuk pelecehan kepada perempuan yang sepatutnya mendapat sanksi sosial. Jadi kita berharap Said Didu betul-betul minta maaf dan mengakui diri telah melakukan perbuatan memalukan dan sebaiknya memilih hukuman sosial atau mungkin sebaiknya menghilang dari jagat media sosial," ujarnya.

"Itu sangat memalukan, tentu beliau punya istri, anak dan saudara. Tidak sepatutnya Said Didu juga mengklaim dirinya sebagai tokoh karena telah melakukan perbuatan amoral seperti ini," kata Ferdinand menambahkan.[]

Berita terkait
Irma ke Said Didu: Dulu BUMN Parah, Jadi Sapi Perah
Balasan cibiran eks Sekretaris BUMN Said Didu terkait pembubaran 18 lembaga pemerintah dari politisi partai NasDem Irma Suryani.
EWI Menilai Ceramah Tengku Zul Memenuhi Unsur Pidana
Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) mengatakan ceramah Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain sudah memenuhi unsur tindak pidana.
Dianggap Berdusta, EWI: Anies Tak Pantas Jadi Capres
Ferdinand Hutahaean menilai Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak layak menjadi Calon Presiden (Capres) tahun 2024 mendatang.
0
Mengenang Kembali Sejarah Hari Lahir Pancasila
Sejarah hari lahirnya Pancasila ditandai oleh pidato Presiden Soekarno pada 1 Juni 1945, Bung Karno berpidato dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai.