Pelajar Prancis Berbohong Terkait Guru Korban Pembunuhan

Seorang pelajar Prancis mengaku berbohong soal guru yang akhirnya dibunuh karena tunjukkan karikatur Nabi Muhammad
Jaksa Jean-François Ricard menyebut ada kaitan antara penyebar ujaran kebencian di media sosial dan pelaku pembunuhan Samuel Paty (Foto: bbc.com – Reuters)

Paris - Seorang pelajar Prancis yang dituduh menyulut ujaran kebencian fatal terhadap seorang guru di Internet mengakui telah berbohong dan menyebarkan klaim tak berdasar. Guru bernama Samuel Paty itu Oktober 2020 lalu jadi korban kasus pembunuhan setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad dalam pelajaran tentang kebebasan berbicara.

Pelajar perempuan berusia 13 tahun tersebut, yang namanya tidak untuk dipublikasikan, sebelumnya menyebar informasi bahwa guru itu meminta para murid beragama Islam keluar dari kelas.

Pengacara pelajar itu mengatakan, kliennya sekarang mengaku bahkan tidak ada dalam kelas tersebut. "Dia berbohong karena merasa terjebak setelah teman-teman sekelasnya meminta dia menjadi juru bicara," kata pengacara pelajar tersebut, Mbeko Tabula, kepada Kantor Berita AFP.

penghormatan parisIlustrasi: Orang-orang berkumpul di Place de la Republique di Paris, untuk memberikan penghormatan kepada Samuel Paty, guru bahasa Prancis yang dipenggal kepalanya, Perancis, 18 Oktober 2020. (Foto: voaindonesia/Reuters)

Cerita yang disebarkan pelajar itu membuat ayahnya mengajukan gugatan hukum dan menyulut kampanye kebencian di media sosial.

Pelajar itu kini didakwa melakukan pencemaran nama baik, sementara ayahnya didakwa terlibat pembunuhan.

Tidak lama setelah Samuel Paty dibunuh, jaksa menyatakan menemukan hubungan sebab-akibat langsung antara hasutan di media sosial dan pelaku pembunuhan.

Ayah pelajar itu, yang oleh media Prancis disebut bernama Brahim C dan berumur 48 tahun, dituduh mengeluarkan "fatwa" terhadap guru itu.

Jaksa bidang antiterorisme Prancis, Jean-François Ricard, menyebut Brahim bertukar sejumlah pesan teks dengan pembunuh Paty untuk melakukan kejahatannya.

Pelaku pemenggalan bernama Abdullakh Anzorov, 18 tahun, ditembak mati oleh kepolisian Prancis tak lama setelah pembunuhan itu terjadi.

Usai kejadian itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menganugerahi kehormatan tertinggi Légion d'honneur kepada keluarga guru tersebut.

mobil polisiIlustrasi: Sebuah mobil polisi melewati Masjid Raya di Paris, Perancis, 15 Maret 2019 (Foto: voaindonesia.com/AP)

Penggambaran wajah Nabi Muhammad secara luas dianggap tabu dalam Islam dan dianggap sangat ofensif oleh umat muslim.

Persoalan ini sangat sensitif di Prancis setelah majalah satir Charlie Hebdo menerbitkan kartun Nabi Muhammad.

Dua belas orang di kantor majalah itu dibunuh oleh ekstremis Islam pada tahun 2015 setelah gambar-gambar itu dipublikasikan (bbc.com/indonesia). []

Berita terkait
Tanya Jawab Kasus Kartun Nabi Muhammad di Prancis
Membaca berita pembunuhan yang dipicu kartun Nabi Muhammad di Prancis, seorang anak bertanya bolehkah membunuh orang yang membuat kartun Nabi?
Dewan Muslim Prancis Sepakati Perjanjian Usulan Macron
Federasi Muslim Perancis menyetujui "piagam prinsip" yang diminta oleh Presiden Emmanuel Macron, untuk berantas sektarianisme dan ekstremisme
Presiden Recep Tayyip Erdogan Komentari Kartun Charlie Hebdo
Pejabat di Turki, termasuk Presiden Recep Tayyip Erdogan, mencela kartun Erdogan di majalah satir Perancis “Charlie Hebdo”
0
Amerika Dibantu Denmark Memata-matai Merkel dan Sekutu Eropa
Sejumlah media Denmark dan Uni Eropa laporkan AS memata-matai beberapa politisi tertinggi Eropa, termasuk Kanselir Jerman, Angela Merkel