UNTUK INDONESIA
Pejabat di Dishub Jatim Terindikasi Positif Corona
Gubernur Jatim mengungkapkan warga positif virus corona menjadi 41 orang tersebar di Surabaya, Malang, Sidoarjo, Blitar, dan Mojokerto
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa didampingi Kepala Gugur Tugas Perecepatan Penangan Covid-19 Jawa Timur Heru Tjahjano (kiri) saat jumpa pers di Gedung Grahadi Surabaya, Minggu, 22 Maret 2020. (Foto: Tagar/Haris D Susanto)

Surabaya - Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali mengumumkan perkembangan pandemi Covid-19 atau virus corona di Jawa Timur. Berdasarkan data saat ini, Minggu 22 Maret 2020, ada 999 orang masuk daftar orang dalam pemantauan (ODP), 888 masuk pasien dalam pengawasan (PDP), dan 41 orang dinyatakan positif virus corona.

Kepala Gugus Tugas Perecepatan Penangan Covid-19 Jawa Timur Heru Tjahjano mengungkapkan ada sejumlah orang terjangkit virus corona, ada satu pejabat setingkat kepala seksi di Dinas Perhubungan Jawa Timur terindikasi positif terjangkit virus corona.

Saya akan panggil Kepala dinasnya untuk dijelaskan, karena ada terindikasi positif.

Heru pun akan memanggil Kepala Dinas Perhubungan Surabaya untuk memberikan arahan terkait adanya pejabatnya terindikasi virus corona.

"Saya akan panggil Kepala dinasnya untuk dijelaskan ada pejabatnya terindikasi positif (virus corona). Ada di Dishub kita harus liburkan kerja selama 14 hari dan diperiksa satu-satu (pegawainya)," ujarnya saat jumpa pers di Gedung Grahadi Surabaya, Minggu, 22 Maret 2020.

Meski tidak mengungkapkan secara detail, tetapi pejabat Dishub Jatim tersebut berasal dari Kabupaten Sidoarjo.

Sementara Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menegaskan terus meningkatkan kewaspadaan pencegahan Covid-19 setelah terus bertambahnya jumlah warga positif virus corona. Apalagi, penyebaran virus berasal dari Wuhan, China ini semaakin meluas.

Jika sebelumnya, hanya Kota Surabaya dan Malang Raya ditemukan positif virus corona, tetapi kali ini sudah meluas ke Mojokerto, Sidoarjo, dan terbaru adalah Kabupaten Blitar.

“Jumlah orang positif Covid-19 di Jatim bertambah 15 orang. Tambahan 15 pasien positif corona berasal dari Surabaya sebanyak 9, Sidoarjo 2 orang, Malang 3 orang, dan 1 orang di Kabupaten Blitar," tuturnya.

Ketua Muslimat Nahdlatul Ulama ini kembali mengingatkan kepada warga untuk sementara waktu menghidari tempat-tempat kerumunan atau keramaian. Hal itu untuk menekan penyebaran virus corona di Jawa Timur.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Perhubungan Provinsi Jatim melakukan penyemprotan kepada pengendara ojek online (ojol) di Tugu Pahlawan, Frontage A. Yani dan depan Gedung Grahadi. Sekitar 600 Ojol yang disemprot disinfektan tersebut.

Sepeda motor, pengemudi hingga perlengkapan ojol disemprot. Khofifah mengaku penyemprotan transportasi umum ini sudah berlangsung tiga hari. Penyemprotan dimulai masjid, pesantren, gereja hingga tempat fasilitas umum, fasilitas sosial.

"Untuk transportasi roda dua termasuk ojol kita sudah mulai sejak tiga hari yang lalu untuk disemprot disinfektan," ujar Khofifah.

Ojol Surabaya DisinfektanPemprov Jawa Timur melakukan disinfektan terhadap ojek online di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya, Minggu, 22 Maret 2020. (Foto: Pemprov Jatim/Tagar)

Bilik Sterilisasi di Bandara Juanda

Sementara Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKP-CKTR) membuat bilik sterilisasi berfungsi untuk mensterilkan diri dari Covid-19. Rencananya, bilik sterilisasi dibuat secara mandiri ini bakal ditempatan di beberapa tempat umum, seperti kantor pelayanan publik tersebar di Kota Surabaya.

Kepala Bagian Administrasi Pembangunan Robben Rico mengatakan saat ini sedang dilakukan proses pembuatan bilik bertipe tunnel (terowongan). Ia mentargetkan setiap hari pembuatan bilik harus rampung sebanyak 10 unit. Nantinya, bilik-bilik tersebut akan dipasang di tempat keramaian atau tempat berkumpulnya masyarakat.

“Hari ini tadi kita sudah kirim ke Bandara Juanda masing-masing terminal ada satu unit. Sampai dengan sore ini kami sudah memproduksi tujuh bilik. Mudah-mudahan nutut sesuai target,” kata Robben Rico saat ditemui di Taman Surya Surabaya.

Ia menjelaskan, dari tujuh bilik yang hari ini sudah dibuat, akan ditempatkan di kantor-kantor yang posisinya banyak dikunjungi masyarakat. Seperti, kantor pelayanan Polrestabes Surabaya, Samsat, dan kantor pemerintah kota.

“Intinya yang mendatangkan cukup banyak orang. Kita akan pasang bilik tersebut,” tuturnya.

Meski demikian, Ruben mengimbau kepada para pengembang perumahan agar membuat bilik sterilisasi secara mandiri. Pembuatan bilik ini tidak begitu rumit, sehingga setiap pengembang kompleks juga dapat menerapkan cara ini agar warga yang masuk ke perumahan sudah steril.

“Sesuai anjuran Ibu wali kota agar pengembangnya dapat membuat masing-masing. Prosesnya hanya posisinya menggunakan pompa, selang, sprayer yang berfungsi untuk air kemudian jadi embun,” kata dia.

Kendati demikian Robben memastikan akan terus membuat bilik sterilisasi ini sampai kebutuhan lokasi keramaian terpenuhi. Meskipun begitu, cukup banyak permintaan pengadaan bilik terowongan (tunnel) ini khususnya di wilayah perkantoran.

“Kita terus buat sampai kebutuhannya terpenuhi, yang minta cukup banyak. Terutama kantor-kantor,” tuturnya.

Bilik Sterilisasi Covid-19Pemkot Surabaya memasang Bilik Sterilisasi Covid-19 di Terminal Kedatangan Bandara Juanda, Minggu, 22 Maret 2020. (Foto: Pemkot Surabaya/Tagar)

Pemkot Surabaya Siapkan Gedung Isolasi ODP Covid-19

Sementara itu, Koordinator Protokol Kesehatan, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya Febria Rachmanita mengatakan selain massif melakukan penyemprotan disinfektan, pembagian hand sanitizer gratis dan pemasangan bilik sterilisasi, Pemkot Surabaya juga menyiapkan gedung isolasi bagi ODP dengan gejala ringan Covid-19.

“Ruang (gedung) isolasi ini kita buat memang kalau untuk (gejala Covid-19) yang ringan-ringan, tidak ada sesak, tidak ada demam, kita taruh dalam ruang isolasi itu,” kata Feny.

Feny menjelaskan, sebetulnya ODP bisa melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. Hal ini sesuai dengan protokol yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Walaupun positif Covid-19, namun tidak ada gejala seperti demam dan sesak nafas, itu memang diwajibkan isolasi mandiri di dalam rumah selama 14 hari.

“Yang dikirim (isolasi) ke rumah sakit adalah ada sesaknya. Baik itu ada sesak ringan atau sesak berat itu dikirim ke Rumah Sakit,” ucapnya.

Menurutnya, jika ODP patuh terhadap isolasi mandiri yang telah ditetapkan oleh Kemenkes, ia optimistis semua bisa aman. Namun, ia juga memastikan, petugas kesehatan dari Puskesmas tetap melakukan pemantauan kepada ODP tersebut selama 14 hari ke depan.

“Tetap dilakukan pantauan 14 hari dari Puskesmas. Begitu Puskesmas setiap pagi melihat, kemudian itu nanti sampai 14 hari lewat, artinya sudah hilang virusnya,” terangnya.

Sedangkan ruang isolasi yang disiapkan pihak rumah sakit, kata Feny, memang dikhususkan bagi ODP atau pasien dalam pemantauan (PDP) yang memang memiliki gejala Covid-19, seperti sesak nafas dan demam. 

Setidaknya terdapat 15 rumah sakit rujukan di Surabaya yang memiliki ruang isolasi khusus. Masing-masing rumah sakit tersebut, memiliki satu hingga dua ruang isolasi.

“Paling banyak (ruang isolasi) berada RSU dr. Soetomo Surabaya ada delapan. Kalau di RSUD BDH (Bhakti Dharma Husada) Surabaya ada satu, sedangkan RSUD Soewandhie ada dua. Tetapi kemarin RSUD Soewandhie direnovasi, jadi selesainya minggu depan,” tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya ini juga mengungkapkan gedung isolasi yang disiapkan oleh pemkot di kawasan Surabaya Selatan ini, standarnya memang dibuat seperti di rumah sakit. Di gedung itu, terdapat 30 tempat tidur yang telah disiapkan. 

Namun demikian, gedung isolasi ini dikhususkan bagi ODP dengan gejala ringan Covid-19.

“Khusus ODP nanti kalau agak demam sedikit ditaruh ke situ. Begitu dia (gejala) berat, baru (diisolasi) ke rumah sakit,” ujarnya. []

Berita terkait
Khofifah Meniadakan Salat Jumat di Pemprov Jatim
Gubernur Jatim mengimbau kepada daerah zona merah virus corona seperti Surabaya dan Kota Malang untuk tak melaksanakan Salat Jumat.
Dokter Residen Surabaya Positif Covid-19 dari Bali
Satgas Penanggulangan Wabah Corona di Bali mengatakan ada seorang pasien positif corona di daerah lain yang sebelumnya bertugas di Bali.
SOP Khusus Salat Jumat di Masjid Al Akbar Surabaya
Pengurus Masjid Al Akbar Surabaya menerapkan SOP dengan memeriksa jemaah dengan Thermal Gun, memberikan masker dan Hand Sanitizer.
0
Cara Startup di Bali Bertahan dari Badai Covid-19
Bali menjadi salah satu destinasi wisata yang paling terkena dampak pandemi Covid-19. Salah satunya adalah perusahaan startup.