UNTUK INDONESIA
Pakar: Ancaman Virus Corona Akan Pudar Seiring Waktu
Wabah infeksi virus corona atau COVID-19 yang telah menyebar hampir ke 30 negara akan memudar seiring perjalanan waktu.
Karyawan di sebuah pabrik di Taizhou, provinsi Jiangsu, bekerja sepanjang waktu untuk memproduksi masker untuk mengisi persediaan dalam perang melawan virus corona baru.(Foto: china daily|thestar.com).

Singapura - Wabah infeksi virus corona atau COVID-19 yang awalnya terdeteksi di Wuhan, Provinsi Hubei, China telah menyebar hampir ke 30 negara termasuk Singapura. Penyebaran virus corona hampir mendekati wabah flu babi (H1N1) yang bermula di Meksiko lebih dari satu dekade lalu. Menurut pakar penyakit menular, wabah virus corona akan memudar menjadi sesuatu yang tidak begitu menyeramkan di kemudian hari seperti saat terjadi wabah flu babi .

Seperti diketahui, pada awal Maret 2009, Meksiko mengalami wabah penyakit pernafasan dan peningkatan laporan pasien dengan gejala mirip flu di beberapa daerah di negara itu. Virus flu babi dengan nama H1N1 menyebar ke seluruh dunia dan oleh perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat itu, menyebabkan lebih dari 18 ribu orang meninggal.

Pada 24 April 2009, WHO menyatakan virus flu babi sebagai kondisi darurat kesehatan masyarakat. Empat hari kemudian, Singapura meningkatkan status Disease Outbreak Response (DORSCON) dari hijau ke kuning. Ketika WHO menaikkan status waspada pandemi dari fase 4 ke fase 5, Singapura juga menaikkan status lagi menjadi orange.

Seperti diberitakan dari Kementerian Kesehatan merevisi peringatan DORSCON dan menurunkan kembali menjadi kuning pada 26 Mei 2009 setelah menyatakan ancaman flu babi sudah tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun ternyata, seorang sarjana berusia 22 tahun yang baru kembali dari New York mengalami gejala flu babi dalam penerbangan dan kemudian dinyatakan positif virus.

Wabah flu babi di Singapura pada Agustus 2009 memuncak dan tercatat ada 18 kematian. Pada saat peringatan DORSCON diturunkan dari kuning menjadi hijau pada 21 Februari 2009, sekitar 415 ribu orang di seluruh negara itu telah terinfeksi virus, namun sebagian besar hanya mengalami gejala ringan.

Konpres WHO Soal Virus CoronaWHO menggelar konferensi terkait wabah virus corona baru. Badan itu menilai terlalu dini untuk menyebutkan virus corona telah mencapai puncaknya. (Foto: Channel News Asia).

Ada kemungkinan virus dapat bermutasi menjadi sesuatu yang lebih "jahat".

"Semua orang kemudian menyadari bahwa itu hanya flu biasa. Sekarang ketika Anda mengunjungi kembali ke Meksiko, tapi tidak membunuh sebanyak itu. Ini karena ancaman H1N1 semakin terkikis selama bertahun-tahun. Kemungkinan yang sama juga terjadi pada COVID-19," kata Dr. Leong Hoe Nam, spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena, Singapura, seperti dikutip dari Channel News Asia, Senin, 17 Februari 2020.

Profesor Tikki Ping, dosen tamu di Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew di bawah Universitas Nasional Singapura (NUS) mengatakan wabah virus corona kemungkinan akan stabil dan akhirnya menghilang. "Ada kemungkinan virus dapat bermutasi menjadi sesuatu yang lebih "jahat" dengan penyebaran lebih cepat atau menyebabkan penyakit yang lebih parah, tapi sejauh ini kami belum melihat bukti hal itu terjadi," katanya.

Menurut Dr. Leong, ada empat virus corona yang bersirkulasi, ada yang hanya menyebabkan flu biasa dan dan ada yang menyebabkan pneumonia parah. "Saya percaya COVID-19 yang menewaskan banyak orang dan virologi atau teknologi tidak cukup mempan untuk mengidentifikasi penyebab penyakit. Tapi itu menjadi lemah seiring perjalanan waktu," ucapnya.

Virus CoronaVirus Corona. (Foto: health.harvard.edu)

Kata Dr. Leong lagi,"COVID-19 akan berjalan dengan cara yang sama. Yang kita butuhkan adalah waktu untuk mengakumulasi mutasi, dan itu akan menjadi lebih ringan."

Menurut Dr. Leong, ada "kecenderungan alami", virus bermutasi menjadi lebih ringan. Menurutnya, jika virus terlalu patogen dan membunuh inangnya, ia tidak dapat terus menyebar, Tapi jika itu ringan, ia dapat menyebar dan menularkan ke orang lain, akhirnya mengambil mutasi yang mengurangi kemampuan virus," katanya.

Dia mencatat bahwa peningkatan kesadaran akan pengobatan flu babi dan ketersediaan vaksin berkontribusi menurunnya ancaman. "Hal yang sam bisa saja terjadi pada virus corona," kata Dr. Leong.[]

Baca Juga:

Berita terkait
Kenapa Virus Corona Dinamakan COVID-19?
PBB pada Selasa 11 Februari 2020 mengumumkan COVID-19 menjadi nama resmi virus corona yang penyebarannya berawal dari kota Wuhan, Hubei, China.
Korban Tewas Virus Corona di China Terus Bertambah
Jumlah korban tewas akibat wabah virus corona di China hingga Sabtu (15/2/2029) total mencapai 1.665 orang.
Karantina di Natuna, Jokowi: WNI Bebas Virus Corona
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan 285 warga negara Indonesia (WNI) di Natuna, yang pulang dari Hubei, China, terbebas dari virus corona.
0
BNNP DIY Musnahkan Sabu-sabu Kurir Aceh 2,1 Kg
BNNP DIY memusnahkan sabu-sabu 2,1 Kg dari dua tersangka warga Aceh di Yogyakarta.