Paijo, Pemahat Wayang Kulit di Taman Sari Yogyakarta
Di sudut area cagar budaya Taman Sari di Kota Yogyakarta, Paijo khusyuk memahat kulit sapi untuk dijadikan wayang kulit. Ia menjadi tontonan turis.
Paijo (kanan) khusyuk memahat kulit sapi untuk dijadikan wayang kulit, disaksikan dua wisatawan asing, di area cagar budaya Taman Sari Yogyakarta, Kamis, 15 Agustus 2019. (Foto: Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Di sudut area cagar budaya Taman Sari di Kota Yogyakarta, seorang pria berkacamata tampak khusyuk memahat kulit sapi menjadi wayang kulit. Paijo namanya. 

Ia seperti asyik dengan dirinya sendiri. Memahat dan terus memahat diiringi suara cicit burung yang hinggap di sebuah pohon rindang.

Dua wisatawan asing tampak antusias memperhatikan Paijo dan kegiatannya. Mereka mengarahkan kamera ponsel ke arah Paijo. 

Tangan kanan Paijo kuat menggenggam palu berukuran sedang. Sementara jemari tangan kirinya lincah memegang pahat. 

Bak menari, pahat yang dipegangnya melubangi kulit sapi, membentuk mata, mulut hingga pakaian si wayang.

Palu yang beradu dengan pangkal atau kepala pahat menimbulkan suara ketukan. Sesekali ia mengangkat wayang setengah jadi, meniup-niupnya untuk menghilangkan kotoran bekas pahatan, sekaligus melihat apakah lubangnya sudah sesuai dengan patron.

Ini turun-temurun. Alat yang saya pakai ini punya eyang saya.

Suara anak kecil yang bermain dan berlarian di sekitar, tak mengganggu konsentrasi Paijo dalam memahat. Dia tetap bekerja.

Paijo mengaku sudah lebih dari 40 tahun menekuni pekerjaan sebagai perajin wayang kulit, tepatnya sejak 1974.

"Kalau bekerja di sini, di area Taman Sari ini baru sekitar lima tahun," ujarnya saat ditemui, Kamis siang, 15 Agustus 2019.

Aktivitas Paijo membuat wayang kulit, ternyata menarik perhatian wisatawan yang berkunjung ke Taman Sari. Beberapa wisatawan mancanegara dan lokal tampak mengabadikan kegiatan Paijo dengan kamera ponsel.

Ketertarikan para wisatawan tersebut menjadi penghasilan tambahan untuk Paijo, karena tak jarang mereka menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan Paijo. 

"Ya, seikhlasnya saja. Alhamdulillah," kata Paijo sambil tetap memainkan pahat dan palu.

Wayang KulitPaijo memahat wayang kulit sejak 1974. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

***

Paijo mengaku dirinya hanya pekerja pada salah satu galeri seni di tempat itu. Dia mendapat upah berdasarkan hasil pekerjaannya, yakni Rp 100 ribu untuk wayang kulit berukuran sedang, dan Rp 400 ribu untuk wayang kulit berukuran besar.

Wayang kulit berukuran besar merupakan ukuran standar dalam pewayangan, atau wayang yang biasa digunakan oleh para dalang dalam pertunjukan pewayangan.

Mengenai harga jual wayang kulit, pihak galeri, kata Paijo, mematok harga Rp 1,5 juta untuk wayang ukuran besar dan Rp 500 ribu untuk wayang berukuran kecil.

Untuk proses pengerjaannya, satu unit wayang berukuran kecil dapat diselesaikan dalam waktu tiga hari. Sementara wayang berukuran besar diselesaikan dalam waktu sekira satu bulan.

Wayang hasil kerajinan Paijo nantinya dijual di galeri seni tempatnya bekerja, bersama beberapa jenis kerajinan khas Yogyakarta lain seperti kain batik dan lukisan.

Selain dapat membeli langsung di galeri seni, peminat wayang kulit juga bisa memesan melalui Paijo.

Wayang KulitPaijo menunjukkan hasil pahatannya. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

***

Beberapa wisatawan yang tadinya antusias "menonton" Paijo berkarya, satu per satu pergi, menuju bangunan berusia ratusan tahun di lokasi itu.

Sebagian terlihat berswafoto dengan latar belakang gerbang bermotif klasik khas Kerajaan Mataram. Sebagian yang lain langsung menuju kolam bekas pemandian raja dan keluarganya.

Di tempat duduknya, Paijo tetap berkarya. Dia memahat, meniup, dan mengukur agar bentuk wayang buatannya sesuai standar yang ada. Karena di situlah sumber penghasilannya.

Paijo mengatakan saat ini semakin sedikit generasi muda yang berminat menjadi perajin wayang kulit.

Menjadi perajin wayang kulit, kata dia, membutuhkan ketelatenan dan presisi yang tinggi, serta keterampilan dalam memahat. Hal itulah yang menurutnya jarang dimiliki oleh generasi muda.

"Ini membutuhkan ketelatenan. Sekarang jarang anak muda yang telaten," katanya.

Bukan hanya keterampilan para leluhur yang diwarisi Paijo. Dia mengaku beberapa peralatan yang digunakannya untuk melestarikan budaya agung bangsa, berupa wayang kulit, merupakan peralatan yang telah digunakan selama berpuluh tahun oleh leluhurnya.

"Ini turun-temurun. Alat yang saya pakai ini punya eyang saya," kata Paijo. []

Berita terkait
Wayang Kulit Kalahkan Perfilman Hollywood
Banyak pihak mengakui dunia perfilman Hollywood kalah dengan wayang kulit. Kenapa?
Lucunya Jurnalis, Pejabat dan Artis di Wayang Orang
Punakawan The Peace Maker dimainkan sejumlah pejabat Pemkot Semarang, jurnalis dan artis.
Video: Tom Holland dan Wayang Spider-Man
Tom mendapatkan kejutan berupa wayang kulit Spider-Man dalam acara di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Jimbaran, Bali, Senin 27 Mei 2019.
0
Membuat Kabin Mobil Tetap Harum
Banyak aktivitas dilakukan di dalam mobil sambil mengemudi terlebih bagi seseorang yang mobilitasnya tinggi.