Pagebluk yang Menguntungkan Penjual Bibit Tanaman Buah

Pagebluk berupa pandemi Covid-19 yang merugikan sebagian pelaku usaha ternyata justru berdampak positif untuk penjual bibit tanaman buah di Bogor.
Andi Rahman, 38 tahun, pemilik usaha agrobisnis bibit tanaman buah Dwi Karya Tani Abadi, Jalan Sukahati, Cibinong. (Foto: Tagar/Nabila Tsania)

Bogor - Hamparan pepohonan hijau membentang di atas tanah seluas 1.020 meter. Tiupan angin siang itu, Jumat, 4 Desember 2020, membuat dedaunan menari-nari. Mereka seperti menyambut tamu yang datang ke Dwi Karya Tani Abadi, di Jalan Sukahati, Cibinong.

Suara deru knalpot kendaraan yang cukup bising menyelimuti jejeran drum warna-warni berisi tanaman buah, mengantarkan mata pengunjung pada sebuah bangunan bertingkat.

Seorang perempuan dengan gaya rambut cepol melangkah keluar dari dalam rumah dan membuka pintu. Dengan ramah dia mempersilakan duduk di sebuah kursi antik dari batang pohon di ruang tamu. Kemudian, pria berkaus hitam datang dari luar rumah dan ikut duduk.

Jemari pria itu menyalakan korek lalu memantikkan apinya pada sebatang gulungan tembakau. Andi Rahman, nama pria itu, menawarkan segelas air mineral sebelum memulai obrolan. Kepulan asap tipis diembuskannya dari mulut.

Kisahnya sebagai pengusaha bibit buah berawal dari usaha budidaya tanaman yang diturunkan oleh orang tuanya pada tahun 1997.

Berawal dari Cangkokan

Bibit buah awalnya dia dapatkan melalui hasil cangkok dari pohon-pohon besar di sekitar rumah. Bibit tanaman yang dia kembangkan pertama kali, yaitu pohon duku, manggis, dan salak. Dari sini lah dia mulai serius untuk mengembangkan usaha agrobisnis.

Selama 23 tahun merintis bisnisnya, pria kelahiran 1982 ini fokus memasarkan 90% tanaman buah hingga saat ini,. Meski porsi produksi tanaman buah lebih besar, dia juga menjual tanaman pelindung dan tanaman hias, seperti pohon palem dan pucuk merah.

Kini Andi telah memiliki empat cabang usaha. Kawasan Nanggewer ditetapkan sebagai pusat kebun produksi dengan lahan seluas 3 hektar. Tiga cabang lainnya hanya sebagai wadah pemasaran produk saja.

Cerita Penjual Bibit Buah Bogor (2)Sebagian bibit tanaman yang dibudidayakan oleh Andi Rahman. Total bibit yang dibudidayakan mencapai lebih dari 5 ribu pohon. (Foto: Tagar/Nabila Tsania)

Untuk cabang yang berada di Sukahati ini, tersedia sekitar 5.000 bibit tanaman buah. Pohon jeruk, durian, dan mangga merupakan jenis tanaman yang paling banyak tersedia. Andi memberdayakan dua karyawan untuk membantu proses budidaya dan perawatan tanaman di cabang Sukahati.

Sebelum penjualan melalui sistem dalam jaringan (daring) atau online menjadi tren, bibit tanaman miliknya dipasarkan hanya melalui lapak yang dia buka. Tetapi, kini dia mulai menawarkan produknya melalui Facebook.

Konsumen Andi tak hanya berasal dari sekitar tempat budidayanya saja, tetapi sudah merambah hampir seluruh daerah di Indonesia, seperti Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan lain-lain.

Sekitar 70% pembeli bibit tanaman di lapaknya adalah pedagang. Jenis tanaman yang paling dicari adalah alpukat, durian, jeruk santang, jeruk purut, dan jeruk nagami.

Konsumen di sini kebanyakan pedagang juga, kalau yang sekadar iseng mah jarang, sih

Harga tanaman yang dijualnya tergantung pada ukuran dan jenis tanaman. Kategori tanaman mahal biasanya merupakan varietas baru atau jenis tanaman langka. Mamey Sapote misalnya, dibanderol dengan harga kisaran Rp 1 juta untuk ukuran 70 cm hingga 1 meter. Sedangkan, tanaman yang paling murah adalah bibit pohon salam dan jeruk purut dengan kisaran harga Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu.

Andi juga menjelaskan, kualitas bibit, varietas, dan sertifikasi indukan yang sudah terdaftar di BPSBTPH (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura), Bandung, menjadi kekuatan bisnisnya.

“Penjual bibit banyak, tapi yang kenal bibitnya sendiri gak banyak, kadang asal usul bibit juga gak jelas,” ujarnya.

Pagebluk yang Menguntungkan

Pagebluk berupa pandemi Covid-19 yang bagi sebagian pelaku usaha menyebabkan kerugian, justru menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi Andi.

“Awalnya ada penurunan, tapi lama-lama masyarakat punya banyak waktu di rumah, banyak yang mengisi kegiatan dengan menanam tanaman,” ujarnya.

Dalam sebulan, Andi dapat meraup omzet sebesar Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. “Alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhan” ucap Andi bersyukur.

Meski menguntungkan, dia menghadapi beberapa kendala saat pandemi, termasuk adanya bibit tanaman yang tidak bisa dikirim ke luar Jabodetabek. Pohon jeruk biasanya tidak akan diloloskan oleh balai karantina. “Kalau ke luar pulau Jawa gak lolos, karena kan takut bawa virus,” kata Andi.

Andi menambahkan, secara umum dirinya tidak mengalami kesulitan lain, termasuk dalam merawat tanaman, sebab dia sudah terbiasa. Akan tetapi, ada bagian yang dirasa cukup sulit saat pembibitan yaitu teknik vegetatif, okulasi atau sambung tanaman.

Pembibitan tanaman yang paling mudah, yaitu jeruk, jambu air, sawo, dan belimbing. Kalau durian dan alpukat tingkat kesulitannya lebih tinggi karena butuh perawatan ekstra.

Kategori bibit unggul, kata dia, dapat dilihat dari ukuran batang pohon bagian bawah yang tak kalah besar dari hasil okulasi, bentuk percabangannya simetris, pertumbuhannya tegak lurus, daun terlihat sehat dan subur, serta tunasnya bagus.

Alat-alat yang dibutuhkan saat melakukan proses okulasi dan cangkok, di antaranya pisau okulasi, plastik grafting, batang bawah, entrance (bagian dari pohon indukan yang besar), dan media tanam.

Andi memberikan gambaran pembibitan alpukat sebagai contoh. Biasanya bibit alpukat yang bagus dapat dilihat dari berat biji alpukat dan bentuk bijinya.

Cerita Penjual Bibit Buah Bogor (3)Sejumlah bibit buah durian milik Andi Rahman, di Dwi Karya Tani Abadi, Jalan Sukahati, Cibinong. (Foto: Tagar/Nabila Tsania)

“Pilih biji alpukat yang beratnya di atas 60 gram, pilih biji yang berbentuk oval karena pertumbuhannya lebih cepat daripada yang berbentuk bulat.”

Bibit yang baru ditanam tidak boleh terkena air hujan, akan lebih baik jika ditaruh di dalam ruangan atau green house. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah penggunaan media tanam. Media tanam yang baik, berasal dari campuran arang sekam, tanah, dan pupuk kandang. Dengan takaran 1:2:3 (tanah:pupuk kandang:sekam).

Tak sekadar mengembangbiakkan tanaman, dulu Andi sering mengikuti pameran tanaman. Dia pernah menjuarai kontes tanaman pada tahun 1996, saat itu tanaman hias aglonema miliknya menjadi juara bukan tanaman buah.

Ke depannya, Andi berencana membuka kios khusus pupuk, obat-obat tanaman, dan sarana produksi pertanian. Dia juga ingin membuat pupuk organik sendiri yang berbahan racikan batang pepaya, mengkudu, buah maja, susu, tepung terigu, air kedelai, air cucian beras, labu kuning yang digiling halus dan difermentasi selama 20 hari.

Dia berharap gabungan kelompok tani di Sukahati bisa menjadi sentra bibit. Saat ini dia juga sedang membangun laboratorium khusus jaringan untuk memperbanyak bibit dengan kualitas lebih tinggi.

Pembibitan dan Perawatan

Dalam proses pembibitan, Andi menggunakan dua cara, yakni cangkok dan ovulasi. Teknik cangkok membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan teknik okulasi. Teknik cangkok biasanya membutuhkan waktu 4 bulan hingga 1 tahun, sedangkan teknik okulasi hanya memakan waktu 21 sampai 25 hari.

Jaen, 73 tahun, seorang karyawan Andi, mengatakan bahwa perawatan yang harus benar-benar dijaga adalah pohon durian. “Ada tipe pohon yang suka air, ada juga yang gak bisa kena air. Pohon duren biasanya kalau musim hujan terus suka jamuran,” kata Jaen.

Untuk menjaga nutrisi tanaman, Andi menggunakan pupuk kandang kambing dan pupuk kimia. Pemberian pupuk kandang diberikan 3 bulan sekali, sedangkan pupuk kimia diberikan 1 bulan sekali.

“Dosis pupuk tergantung kebutuhan, bisa intensitasnya dibanyakin tapi volumenya dikurangin atau sebaliknya” katanya.

Merawat tanaman juga dilakukan oleh Abu, 54 tahun, yang tinggal sekitar 2,2 kilometer dari tempat usaha Andi. Abu yang hari itu mengenakan topi berwarna merah terlihat sibuk dengan alat berkebun, di rumahnya, perumahan Bojong Depok Baru.

Abu mengaku sebelum pandemi dirinya tak pernah menanam apalagi merawat tanaman. “Dulu mah saya masih sibuk ke kantor, gak sempat nanem dan rawat tanaman” ujarnya sembari meratakan media tanam pada pot.

Cerita Penjual Bibit Buah Bogor (4)Abu Hanifah, 54 tahun, warga Perumahan Bojong Depok Baru, Sukahati, Cibinong, sedang bercocok tanam di pekarangan rumah. (Foto: Tagar/Nabila Tsania)

Namun sejak pemerintah mengimbau masyarakat untuk di rumah saja, dia mulai melakukan kegiatan berkebun, juga beberapa warga lain yang berkebun di pekarangan rumah masing-masing.

“Belakangan ini banyak orang yang menanam tanaman, mulai dari tanaman hias, buah, atau sayur, dengan begini lingkungan jadi terlihat asri, saya jadi punya hobi baru,” tuturnya.

Abu memilih untuk menanam sayuran dan buah di pekarangan rumahnya ketimbang menanam tanaman hias. Hal ini karena selain indah dipandang mata, hasil panen sayur dan buah pun dapat dinikmati sekeluarga.

“Senang kalo udah panen sayur atau buah, jadi kepuasan tersendiri, kalo tanaman hias kan cuma bisa diliatin aja,” katanya sembari tertawa.

Saat ini Abu menanam 8 jenis tanaman, di antaranya kangkung, terong, cabai, tomat, pakcoy, kunyit, jeruk limau, dan mangga. Tak semua tanaman menggunakan tanah sebagai media tanam. Dia juga memanfaatkan pipa paralon bekas sebagai pot hidroponik untuk tanaman kangkung. []

(Nabila Tsania)

Berita terkait
Kuliner Pisang di Cilacap yang Bergantung pada Matahari
Lasidan, 70 tahun, telah puluhan tahun menjadi pengusaha sale pisang di Cilacap, Jawa Tengah. Ini proses pembuatan dan alat yang digunakan Lasidan.
7 Jam Mengaduk di Tungku Panas demi Dodol Betawi Nikmat
Dodol Betawi dikenal dengan rasanya yang manis. Namun ternyata tak mudah untuk membuatnya. Pembuat dodol harus mengaduk 7 jam di depan tungku.
Cerita Pemakaman di Pemukiman dan Suara Keranda Tengah Malam
Salah satu lokasi pemukiman di Yogyakarta dulunya adalah kompleks pemakaman. Hingga saat ini masih ada beberapa makam di dalam rumah warga.
0
MAKI Daftarkan Uji Materi soal TWK Pegawai KPK ke MK
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia mengajukan uji materi soal tes wawasan kebangsaan pegawai KPK ke Mahkamah Agung yang saat ini menjadi polemik.