UNTUK INDONESIA
Padang Keliling Dunia dengan Rumah Makan
Rumah makan Padang terkenal di seluruh nusantara hingga ke negara di Eropa. Sajian kuliner khasnya nyaris diminati semua lidah.
Ragam masakan minang tersaji di salah satu rumah makan di Kota Padang, Sumatera Barat. (Foto: Tagar/Rina Akmal)

Padang - Citra rasa masakan Minang menggoda semua lidah nusantara. Bahkan, warga negara asing (WNA) pun tergila-gila ingin mencicipi lezatnya santapan kuliner Ranah Minang. Terutama rendang, masakan khas Sumatera Barat (Sumbar) yang dinobatkan sebagai makanan terenak nomor satu dunia versi CNN 2016.

Saking cintanya dengan kuliner Padang, seorang penyanyi asal Norwegia, Audun Kvitland Rostad, melahirkan karya lagu berjudul "Nasi Padang". Lagu tersebut dipersembahkannya karena merasa kagum dan enaknya masakan di Sumbar, ketika dia berkunjung menjajal sejumlah kulier khas Sumbar.

Rumah makan Padang adanya cuma di luar Sumbar. Kalau di sini, yang bikin semua orang Sumbar. Tidak pakai nama itu.

Selain itu, lagu dangdut berjudul "Goyang Nasi Padang" yang dipopulerkan Duo Anggrek, juga seakan melegitimasi kelezetan masakan Padang. Lagu berkisah tentang nasi Padang yang bisa melawan suntuk dan kesedihan itu juga berhasil menjadikan Dadan Ind sebagai pencipta lagu dangdut terpopuler di ajang Anugerah Dangdut Indonesia 2015.

Identik dengan masakan khas membuat perantau Minang pun berbondong-bondong membuka usaha rumah makan. Konon, fenomena ini sudah berlangsung sejak Indonesia belum merdeka. Dimana-mana, ada rumah makan warga Minang.

Meski setiap masyarakat kabupaten dan kota di Sumbar, memiliki cita rasa tersendiri dalam memasak. Sajian rendang, gulai ikan, pangek ikan, tambusu (tahu yang dihaluskan dan dimasak dalam usus ayam), dan masakan khas lainnya, beragam dimiliki penduduk Ranah Minang. Namun tetap yang populer di nusantara rumah makan Padang.

Rumah makan Padang tidak hanya mengisi seluruh pelosok negeri ini. Namun, juga hadir di luar negeri. Seperti di India, Jepang, Austria, Belanda, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam hingga ke China.

Rumah Makan Kapau

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, saat menikmati makanan nasi kapau di Bukittinggi. (Foto: Tagar/Rina Akmal)


Berbagai olahan masakan Padang, seperti rendang, ayam pop, pengek ikan, palai, gulai, dendeng balado, samba lado tanak, goreng baluik, itiak lado ijau, hingga samba lado berhasil membuat lidah semua kalangan mencintai masakan yang disajikan sederhana itu.

Salah seorang warga asal Padang, Nurhayanis, 65 tahun, membocorkan penyebab nasi Padang begitu dikenal oleh banyak orang. Menurutnya, ada beberapa faktor yang membuat rumah makan tersebar di Indonesia hingga ke sejumlah negara lain.

Pertama, masyarakat di minang terkenal dengan budaya merantau dan memiliki jiwa berdagang tinggi. Ada pepatah minang yang mengatakan karakok madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun (Merantau anak bujang dahulu, di rumah belum dibutuhkan tenaga dan pikirannya).

"Ada tiga kepandaian yang dulunya dibawa anak bujang Minang pergi merantau. Pertama bela diri atau silek, lalu berdagang dan kepandaian di surau atau masjid (bisa mengaji, azan). Itu di zaman dulu, tapi sejak merdeka bahkan para perempuan minang juga sudah banyak merantau dan hampir semua perempuan minang bisa di dapur (memasak)," kata perempuan yang juga menghabiskan separuh umurnya di rantau orang, Sabtu 8 Februari 2020.

Menurut ibu empat orang anak itu, masakan Padang bisa diterima dan disukai oleh hampir semua kalangan. Mulai dari lidah anak-anak, dewasa, orangtua, hingga WNA. Sebab, masakan Padang kaya dengan menu dan cita rasanya tidak terlalu mencolok.

Selain keberagaman masakan, kekayaan rempah yang terdapat pada setiap olahan masakan juga memberikan kelezatan berbeda bagi penikmatnya.

"Masakannya tidak terlalu pedas, tidak terlalu manis. Semuanya disajikan sesuai selera di lingkungannya. Dengan perpaduan bumbu, yang disesuaikan dengan selera pembeli inilah yang membuatnya bisa bertahan hingga sekarang," tuturnya.

Senada dengan itu, seorang pemilik rumah makan di Padang, Zainal, 76 tahun, mengatakan tersebarnya rumah makan di seluruh penjuru negeri tidak lepas dari kebiasaan merantau orang Minang.

Selain menjadi tukang pangkeh (tukang cukur rambut), penjahit pakaian, masyarakat minang memiliki keahlian dalam berdagang. Berbekal jiwa dagang dan kemampuan memasak inilah, orang minang berinisiatif membuka warung makan atau biasa disebut rumah makan.

"Masakan minang juga terkenal lezat, itu kata banyak orang, dan menurut saya juga begitu. Selain enak, masakan padang juga beragam dan kaya akan bumbu rempahnya," katanya.

Menurutnya, keberhasilan orang minang memikat hati pembelinya, membuat kesejahteraan masyarakat pedagang pun ikut meningkat. Dengan begitu, mereka pun beramai-ramai membuka cabang rumah makan di berbagai daerah di tanah air.

"Kadang ada wisatawan lokal datang makan ke sini, dia minta kami buka cabang di daerahnya. Hal itu juga berlaku di kota-kota besar, karena banyak peminatnya maka dibukalah cabang di lokasi yang strategis," katanya.

Bedanya, kata Zainal, tidak ada rumah makan di Padang yang diberi nama rumah makan Padang. Penamaannya sesuai dengan nama pembuat, nama kampung, atau nama yang dianggap menjual.

"Rumah makan Padang adanya cuma di luar Sumbar. Kalau di sini, yang bikin semua orang Sumbar. Tidak pakai nama itu," katanya.

Adopsi Budaya Negara Lain

Sementara itu, sejarawan Sumbar, Gusti Asnan, mengatakan dari segi penyebaran masakan Minang di Indonesia, maupun ke negara lain, memang tidak terlepas dari kebiasaan merantau anak-anak Ranah Minang dahulunya. Menurutnya, jiwa merantau dan berdagang itulah yang membuat pesatnya pertumbuhan rumah makan Padang di tanah air.

Kita di Minang mesti berlapang dada menerima bahwa apa yang dicapai sekarang ini adalah karena unsur pertemuan kita dengan budaya-budaya bangsa-bangsa lain.

Namun soal citra rasa, lanjut guru besar sejarah Universitas Andalas itu, juga terjadi perubahan-perubahan pada masakan minang, bahkan ada juga yang tidak berkelanjutan diwarisi turun-temurun. Hal itu diketahuinya ketika melakukan penelitian tentang masakan minang.

"Selain rendang, umumnya masakan Minang awal abad ke 19 monoton. Kebanyakan dibuat itu belalang, burung, yang dibakar, direbus dan sebagainya," tuturnya.

Ketika WNA asal China, India, Belanda, dan sebagainya mulai masuk ke Sumbar, lanjut Gusti, masyarakat Minang pun berbaur dengan cara memasak memasak dan peradaban yang dibawanya. Bahkan, warga Minang mulai mengadopsi sebagian tradisi WNA, khususnya memasak.

Masyarakat Minang pun terus berusaha memperbaiki menu sajian masakannya dengan mengadopsi sejumlah bumbu dan rempah masyarakat luar negeri kala itu. Lama kelamaan, cita rasa yang dilahirkan penduduk Minang justru kian memikat selera.

"Tidak dapat dipungkiri, masyarakat yang mapan secara material akan berbeda pilihan makannya dengan yang menengah ke bawah. Mereka akan cenderung mencari atau mencoba bahkan menciptakan masakan yang lebih enak. Kami coba teliti tentang kuliner dan gaya hidup orang Minang, itu juga tidak bisa diingkari bahwa masakan Minang sekarang ini adalah gabungan dari masyarakat luar yang pernah hadir di Minangkabau atau yang mereka temui di luar saat merantau," katanya.

Menurutnya, adonan rempah dan bumbu dalam masakan Minang itu, merupakan bagian adopsi dari pertemuan masyarakat Minangkabau dengan tradisi budaya dari negara lain. Buktinya hingga abad ke-19, belum terlalu banyak bumbu masakan khas Minang.

"Kita di Minang mesti berlapang dada menerima bahwa apa yang dicapai sekarang ini adalah karena unsur pertemuan kita dengan budaya-budaya bangsa-bangsa lain," katanya.

MasakanRagam masakan minang tersaji di salah satu rumah makan di Kota Padang, Sumatera Barat. (Foto: Tagar/Rina Akmal)

Sebetulnya, perubahan masyarakat Minang sudah berlangsung sejak abad ke-16 hingga ke-17 saat pertemuan dengan masyarakat India dimulai. Namun, baru signifikan saat pertengahan abad ke-19. Sebab, kala itu, kondisi ekonomi masyarakat di Minang juga sudah semakin membaik.

"Ketika kondisi hidup masyarakat sudah membaik, maka dunia kulinernya juga akan sangat beragam. Kenapa saya bilang seperti itu? Karena kalau ekonomi sudah membaik, mereka akan terus mencoba dan berinovasi bagaimana membuat masakan yang lebih enak dan beragam," tuturnya.

Hasil penelitian Gusti Asnan juga menjawab pertanyaan kenapa masakan Minang disukai banyak orang. Sebab, sajian masakannya berasal dari adobsi beragam budaya negara yang lidahnya juga berbeda-beda.

"Apa yang mereka dapat dari luar disesuaikan dengan selera Minang (Indonesia), lalu dibawa lagi ke luar dan disesuaikan dengan selera orang luar juga. Makanya mendunia," katanya.

Orang Minang yang pergi merantau dulunya banyak yang membuka rumah makan, dan masakannya juga disesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Selain itu, masyarakat Minang juga terkenal sangat dinamis, mudah bergaul dan diterima dimana-mana, mereka menciptakan kuliner bukan hanya untuk mereka sendiri, namun juga untuk orang lain.[]

Berita terkait
Kisah Tio, Umur 9 Tahun Gagal Ginjal, Ditinggal Ayah, dan Perjuangan Sang Ibu
Namanya Tio, sekarang umur 11 tahun. Terkena gagal ginjal pada usia 9 tahun. Tiga bulan pertama dia menjalani terapi hemodialisa.
Kisah Inspiratif 2 Jurnalis Yogyakarta
Dua jurnalis inspiratif di Yogyakarta, Hendy Kurniawan dan Boy T Harjanto. Apa yang mereka lakukan untuk kehidupan mengundang rasa haru.
Jejak Raden Segoro di Hutan Kera Nepa Sampang
Sejarah Hutan Kera Nepa Sampang adalah tempat persembunyian Dewi Ratna Rorogung hingga melahirkan Raden Segoro.
0
Gempa 5,6 SR Guncang Tapanuli Bagian Selatan Sumut
Gempa dengan kekuatan 5,6 Skala Richter mengguncang wilayah Tapanuli Bagian Selatan, Sumatera Utara.