UNTUK INDONESIA
Jejak Raden Segoro di Hutan Kera Nepa Sampang
Sejarah Hutan Kera Nepa Sampang adalah tempat persembunyian Dewi Ratna Rorogung hingga melahirkan Raden Segoro.
Pintu masuk wisata ke dalam hutan Wisata Hutan Kera Nepa di Desa Batioh, Kecamatan Banyuates, Sampang. (Foto: Tagar/Nurus Solehen)

Sampang - Wisata Hutan Kera Nepa berlokasi di Dusun Batioh, Desa Batioh, Kecamatan Banyuates dengan luas kurang lebih 4 hektar. Dari Kota Sampang dan Bangkalan berjarak 45 kilo meter, atau sisi pantai utara (pantura) Kabupaten Sampang.

Ketika pengunjung bertanya seputar sejarah hutan nepa, warga kampung sekitar memiliki pandangan sejarah yang sama, yakni jejak Raden Segoro sebagai pangeran yang bermukim di hutan sembari berteman dengan hewan kera.

Sejarah menceritakan Raden Segoro saat bertahan hidup bersama ibu kandungnya Dewi Ratna Rorogung akibat diusir Maharaja Kerajaan Medang Prabu Sangyangtunggal di Hutan Kera Nepa.

Konon, sang Prabu Sangyangtunggal mengutus orang kepercayaannya Patih Pranggulang mengusir ke hutan untuk membunuh putri mahkotanya Dewi Ratna Rorogung yang sedang hamil tanpa seorang laki-laki.

Perintah Prabu Sangyangtunggal dilaksanakan, namun saat leher Sang Dewi hendak dipenggal, pusaka pedangnya tiba-tiba terpental. Patih Pranggulang pun berpikir bahwa Sang Dewi tidak bersalah dan berbalik sikap melindunginya.

Patih Pranggulang membelot dari Prabu Sangyangtunggal, kemudian membawa kabur Sang Dewi ke beberapa tempat pemukiman gunung dan alas hutan hingga Sang Dewi melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Raden Segoro.

Di umur tujuh tahun, Raden Segoro hidup di hutan dengan ibunya dan mendirikan rumah pemukiman dari pohon nipah sejenis pohon palem yang tumbuh di sekitar hutan bakau. Sementara Patih Pranggulang datang menyambangi bilamana dibutuhkan.

Hingga pada akhirnya, Raden Segoro bertemu dengan kakeknya Prabu Sangyangtunggal, setelah ibunya menceritakan kisah pahitnya selama Sang Raden masih dalam kandungan, diusir dan diancam mau dibunuh.

Pertemuan tak berlangsung lama, Sang Prabu kembali ke kota kerjaannya untuk menghadapi musuh China. Tempat bermukim Raden Segoro di hutan, dipenuhi dengan hewan kera. Kera ini tidak memangsa dan mudah dijinakkan. Tempat pemukiman Raden Segoro kini jadi Wisata Hutan Kera Nepa.

Bagi warga, di dalam hutan memang terdapat sebuah petilasan berupa rumah kecil yang diberi selendang sarung. Petilasan ini belum diketahui fakta sebenarnya, apakah makam atau hanya tanda bahwa hutan ini pernah dihuni penduduk kerajaan.

"Di sekitar hutan ini terdapat bekas fondasi bangunan yang sudah terkubur di dalam tanah yang diyakini memang bekas bangunan atau rumah kerajaan," kata tokoh masyarakat H. Ali sekaligus anggota DPRD Sampang pada Minggu 2 Februari 2020 lalu.

Sebelum jadi anggota DPRD, Ali adalah Kepala Desa Batioh. Selama jadi kepala desa, pernah suatu ketika ada orang luar ingin meneliti keberadaan hutan, benar atau tidaknya jika hutan tersebut pernah jadi hunian penduduk kerajaan.

"Sumber penelitiannya mendasari bekas fondasi bangunan dan adanya sebuah petilasan di dalam hutan. Peneliti membenarkan bahwa hutan ini memang pernah jadi tempat tinggal penduduk dulu," ujar anggota dewan yang duduk di Komisi I itu.

Kepala Desa Batioh, Kecamatan Banyuates, Suud Ali mengatakan, wisata kera nepa di desanya disebut-sebut jadi wisata tertua di Kabupaten Sampang bahkan di Madura. Alasan dasarnya karena berhubungan dengan sejarah Raden Segoro.

Di antara wisata lain di Sampang, seperti Wisata Air Terjun Toroan, Wisata Pantai Lon Malang, dan Pantai Camplong, Wisata Hutan Kera Nepa lebih mendahului dari wisata lain.

"Sebab ketika wisata ada hubungannya dengan sejarah kerajaan, maka kami yakin wisata kera di pantura ini lebih tua umurnya dari yang lain," ungkap Suud.

Meski lebih tua, sambung Suud, namun optimalisasi wisata masih kurang begitu diperhatikan oleh pemerintah daerah. Buktinya hingga saat ini, pengunjung hanya ditarik karcis parkir Rp 5 ribu. Sementara ongkos masuk wisata, gratis.

"Pengunjung tinggal bayar parkir, itu sebagai retribusi yang disetor ke pemerintah daerah," ujarnya.

Menurutnya, setiap pengunjung retribusi parkir tersebut memang diurus pemerintah desa, namun dalam jangka dan waktu tertentu, desa menyetor ke pemerintah daerah sebagai catatan pajak retribusi dari sektor wisata.

Hutan Kera Nepa SampangKerumunan Kera di Hutan Kera Nepa Sampang saat diberi pakan oleh pengunjung. (Foto: Tagar/Nurus Solehen)

Juru Kunci Hutan Kera Nepa

Di sekitar wisata, warung-warung kecil banyak dibangun warga. Mulai dari menjual kuliner seperti rujak, soto, dan nasi. Sebagian warung menyediakan makanan kera berupa kacang dan jagung.

Ketika masuk ke dalam hutan, pengunjung tidak bisa sendirian, mereka harus dibantu juru kunci hutan yang bisa memanggil kera. Juru kunci ini wanita paruh baya dari kampung setempat.

Untuk mendapatkan pakan kera, pengunjung hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 5 - 10 ribu dengan memilih bisa menggunakan kacang atau jagung. Bagi juru kunci, makanan kacang dan jagung paling disukai hewan hera.

"Anaknya yang digendong sulit diambil, kalau diambil teman-temannya yang lain ikut marah," kata juru kunci hutan dengan umur kisaran 60 tahun.

Setiap hari juru kunci hutan ini beraktivitas membantu pengunjung untuk memanggil kawanan hewan kera. Uang yang diberi pengunjung tidak menentu, mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu. Itu pun kesannya dilakukan seperti meminta-minta.

Hewan kera di hutan ini diakui memang sangat jinak tidak seperti kera hutan lain. Juru kunci menyebut hewan kera di Hutan Nepa seperti ada titisan para leluhur sebagai simbol pengendali alam atau lingkungan sekitar.

Meski wisata hutan kera nepa diklaim sebagai wisata tertua di Sampang, namun hal tersebut tidak berpengaruh terhadap kemauan pengunjung. Mayoritas pengunjung berharap siapa pun pengelola wisata di dalamnya agar benar-benar mengelolanya dengan baik.

"Dari dulu sebenarnya saya penasaran wisata hutan kera, cuma ketika melihat fasilitas di sekeliling kurang memadahi itu jadi masalah," kata Masriadi pengunjung wisata asal Kecamatan Pasean, Pamekasan.

Menurut dia, fasilitas wisata yang harus dibenah adalah tempat beristirahat pengunjung. Misalkan tempat kecil sebagai sandaran ketika pengunjung mengumpan pakan ke hewan kera.

Kemudian, saat pengunjung masuk ke wisata tidak ada daya menarik yang menjadi ciri khas dari wisata ini, kecuali hanya disudutkan dengan perkampungan warga. Perkampungan boleh berjejer, namun ikon wisata harus jadi prioritas untuk memancing magnet pengunjung.

"Misalkan ketika masuk wisata, ada tulisan plang berupa kata-kata romantis atau hal lain yang sekiranya pengunjung itu takjub," ujar Masriadi.

Lagi, kata Masriadi, pengunjung memang tidak dibebani biaya masuk, hanya bayar uang parkir, namun kesannya wisata tersebut jadi wisata murahan. Artinya serobot ke luar masuk orang asal datang bebas dirasakan pengunjung manapun.

"Sehingga kami berharap agar wisata kera nepa ini bisa dikelola maksimal, siapa pun itu. Baik pemerintah desa maupun daerah," tuturnya.

Hutan Kera Nepa SampangPengunjung melintas di pintu masuk wisata menuju tempat lain di pinggir hutan wisata. (Foto: Tagar/Nurus Solehen)

Polemik Bantuan Dana Pengelolan

Informasi soal pengelolaan Wisata Hutan Kera Nepa oleh pemerintah daerah, mulai banyak didengar publik, terutama pemerintah desa di sekitar wisata yakni Desa Batioh dan Nepa.

Secara geografis, wisata kera nepa berada di Desa Batioh, namun nama wisata yang diambil dari desa sebelah. Sehingga wajar ketika bantuan infrastruktur wisata jatuh ke desa lain, Pemerintah Desa Batioh protes.

Sikap protes tersebut dilatar belakangi adanya istilah nama yang menyandang terhadap wisata. Meski demikian, Desa Batioh tidak ambil pusing, namun bukan berarti nama yang disandangnya terhadap wisata adalah nama desa setempat, seperti Waduk Nepa yang berada di Desa Montor.

Anggota dewan dari dapil setempat H. Ali mengatakan, di tahun 2020 kucuran dana untuk pengelolaan wisata kera nepa mencapai Rp 4 miliar. Anggaran tersebut diperuntukkan untuk infrastruktur jalan lewat penghubung Desa Nepa.

"Anggaran akan digunakan untuk jalan, tapi jalan melalui Desa Nepa," tutur Ali.

Ali menjelaskan, pemerintah daerah menganggarkan perbaikan infrastruktur tersebut atas dasar keinginan dalam mengembangkan wisata tertua itu. Hanya saja yang perlu dipertimbangkan adalah jalan yang diperbaikinya bukan jalan sasaran pengunjung.

"Kalau jalan yang diperbaiki di Desa Nepa nanti semua pengunjung akan lewat sana. Pengunjung tidak lagi lewat jalan biasanya yang sudah lama," ungkap dia.

Padahal jalan umum pengunjung berada di Desa Batioh di sekitar sungai pada sisi barat. Jika jalan tetap menggunakan di Desa Nepa maka akan mengubah haluan pengunjung, yang semula masuk dari sebelah barat, kini pintu masuk dari sebelah timur.

"Hal ini tentu akan melahirkan polemik baru di sekitar kampung wisata, terutama bagi penduduk kampung Dusun Batioh," ucapnya. [] 

Berita terkait
Anjing Pitbull Penjaga Bayi Bernama Alhamdulillah Rejeki Hari Ini
Bayi berusia 5 bulan di Bantul itu viral karena diberi nama Alhamdulillah Rejeki Hari Ini. Dan ia mempunyai penjaga spesial, seekor anjing Pitbull.
Benarkah Bengkel Ketok Magic Memakai Jin?
Mobil masuk bengkel ketok magic tidak boleh dilihat proses pengerjaannya. Ini menimbulkan bisik-bisik ketok magic memakai kesaktian jin. Benarkah?
Saat Terakhir Gus Sholah di Ponpes Tebuireng
Lantunan ayat-ayat suci Alquran menggema di seluruh sudut Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, pada saat penghormatan terakhir untuk Gus Sholah.
0
Survey: Warga DKI Khawatir Politik Uang Cawagub
Menurut hasil survei LKSP, sebanyak 68 persen warga DKI trauma adanya politik uang terkait pemilihan perangkat daerah yang ditangani DPRD.