UNTUK INDONESIA
Odheng Madura, Kearifan dari Masa Lalu ke Masa Kini
Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks, baik dari ukuran motif maupun cara pemakaian.
Perajin Odeng, Gafiruddin, memproduksi odeng untuk dijual ke pelanggan dan pemesan, di Dusun Karang Dalem, Desa Pademawu Barat, Pamekasan, Jawa Timur, Rabu, 7 Agustus 2019. (Foto: Tagar/Nurus Solehen)

Pamekasan - Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks, baik dari ukuran motif maupun cara pemakaian. Di tangan perajin, selain bernilai seni, odheng menyimpan makna filosofis.

Motif odheng ada beberapa macam, yaitu odheng bangsawan, tongkosan, dan rakyat. Bahan kainnya pun terbuat dari kain tertentu. Seperti kain 'Batik Setorjo' yang khas warnanya merah pekat.

Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. Semakin tegak kelopak odheng, semakin tinggi derajat kebangsawananan. Semakin miring kelopaknya, maka derajat kebangsawanan semakin rendah.

Di Madura, pengrajin odheng masih belum begitu banyak. Karena bagi perajin, entitas odheng sangat begitu sakral. Mulai dari mempertahankan nilai filosofi dan proses perakitan.

Odheng di Tangan Perajin

Gafiruddin warga Dusun Dalem, Desa Pademawu, Kabupaten Pamekasan, memilih jadi perajin odheng dengan alasan untuk mempertankan tradisi leluhur masyarakat Madura. Meski berstatus sarjana, ia lebih nyaman dengan karier seni yang ditekuninya.

Bagi pria yang akrab dipanggil Gafir, memproduksi odheng sudah jadi aktivitas. Sehari kurang lebih memproduksi 10 buah odheng. Namun pada waktu tertentu, jumlahnya bisa bertambah sesuai pesanan dari pelanggan.

"Alhamdulillah sudah punya pelanggan tetap," kata Gafir ditemui Tagar di kediamannya, Rabu, 7 Agustus 2019.

Pelanggannya tersebar di beberapa titik. Misalnya di Pasar 17 Agustus Kota Pamekasan, Restoran Asella Sampang, dan Wisata Pantai Sembilan Sumenep yang masih tahap rencana.

Odheng Madura, kata Gafir, berwarna merah kontras yang menggunakan batik setorjo. Namun ketika diamati, daerah lain di Madura pada dasarnya memiliki ciri khas odheng berbeda. Seperti di Kabupaten Sumenep.

"Sumenep dan Pamekasan odhengnya beda. Cuma odheng Madura itu dikenal berwarna merah," tutur Gafir.

Sekali menggarap, Gafir membeli 20 lembar kain. Per kain harganya Rp 50,5 ribu. Total jumlahnya 20 kain Rp 1,1 juta. Kemudian diiris jadi odheng. Satu lembar kain bisa dibuat jadi lima odheng. Satu buah odheng harganya kisaran Rp 70 ribu.

Bahan Dasar Odheng

Selain kain, odheng memiliki bahan dasar. Seperti kawat, kertas, dan lem pelekat. Bahan dasar ini bagi Gafir mudah didapat. Seperti kertas bekas yang tidak layak pakai.

"Kalau kami menganalisisnya, bahan dasar odheng ini dibuat dari sampah kertas. Tidak sulit untuk mendapatkan," ungkap Gafir.

Untuk mendapatkan bahan tersebut, Gafir menghubungi teman kuliahnya. Biasanya proposal bekas bimbingan yang dicorat-coret sudah tidak digunakan. Sehingga bisa dimanfaatkan untuk bahan dasar odheng.

"Silakan tidak masalah kalau misalkan ada bahan kertas seperti koran yang tidak dipakai," sarannya.

Siku kecil de depan odheng yang mencolok ke bawah, menandakan bahwa orang harus selalu rendah hati.

Berpeluang Jadi Bisnis

Pria berumur 35 tahun tersebut memiliki target dalam memasarkan produk odheng. Terutama di daerah maupun di luar daerah. Sehingga karir tersebut jadi bisnis menguntungkan.

Tiga tahun berjalan, Gafir sudah bisa menikmati jadi perajin odheng. Di mulai pada akhir tahun 2016, giat belajar secara otodidak itu akhirnya mulai dirasakan. Per bulan nilai penghasilannya sudah melebihi cukup.

Saat ini, Gafir mengatur strategi pemasaran dengan membangun jaringan pelanggan di titik-titik tempat wisata di Madura. Dengan memiliki pelanggan tetap, diyakini bisnis ini akan berpeluang baik.

"Modal awal Rp 2 juta. Pada waktu itu kami gunakan alat perakit se ladanya karena masih tahap baru belajar," kata Gafir saat ditanya awal mula merintis usaha sebagai perajin odheng.

Karena sudah berkembang, Alumnus IAIN Madura itu ingin membesarkan bisnis ini dengan modal Rp 25 juta. Modal ini dipastikan akan melengkapi semua peralatan yang dibutuhkan.

"Kami targetkan untuk bulan ini bisa memproduksi 100 lebih odheng," paparnya.

Filosofi Odheng Bermakna Kehidupan

Odheng yang diproduksi Gafir, motif bentuknya tidak asal dibuat. Jika merakit odheng bisa dipelajari secara otodidak, namun untuk mengetahui makna dan filosofi odheng harus belajar kepada orang tertentu yang paham sejarah.

Awal mula membangun bisnis ini, Gafir sebagai perajin odheng merasakan imajinasinya hidup di dunia seni. Sebab ia harus memahami satu persatu motif bentuk odheng garapannya.

"Kami pernah berkonsultasi langsung ke salah satu penjaga Museum Mandilaras menanyakan seputar historis odheng. Alhamdulillah sejarah tentang odheng ini kami peroleh," tutur Gafir.

Secara umum, kata dia, odheng Madura pertama kali dirintis oleh seseorang semasa kejayaan Kerajaan Majapahit. Madura menjadi bagian wilayah yang dipimpin Majapahit.

Gafir mempelajari filosofi tiga odheng. Di antaranya, odheng bangsawan, rakyat, dan tongkos. Ke tiga odheng ini sudah jadi kerajinannya. Untuk membuat odheng model lain, terlebih dahulu ia harus memahami filosofinya.

Pertama, odheng bangsawan. Odheng ini berbahan batik setorjo. Bentuknya jika odheng ini dipakai akan menutupi kepala. Ada bentuk-bentuk siku tertentu pada odheng ini. Misalnya di sebelah kanan lipatan odheng lebih tinggi ketimbang sebelah kiri.

"Tingginya lipatan odheng di sebelah kanan namanya 'gunungan'. Artinya pemakai odheng ini dulu, derajatnya lebih tinggi dari orang biasa," ucap Gafir.

Biasanya odheng ini lumrah dipesan dan dipakai pejabat birokrasi pemerintahan. Kalangan tertentu bisa tokoh masyarakat, dan tokoh yang memiliki pengaruh.

Di odheng ini juga ada siku kecil di belakang layaknya bulu ayam. Filosofinya, siku berdiri tegak dipakai untuk anak usia 25 tahun ke bawah. Siku yang melengkung dan menunduk dipakai untuk usia 25 tahun ke atas.

"Siku kecil de depan odheng yang mencolok ke bawah, menandakan bahwa orang harus selalu rendah hati," ungkap dia.

Kemudian odheng rakyat. Odheng ini sedikit berbeda dengan odheng bangsawan. Odheng ini hanya lipatan kain tanpa ada penutup kepala.

Ada dua siku odheng yang disebut 'Totkala' yang berarti buntut kala jengking, dan kelopak odheng yang mencolok ke bawah layaknya odheng bangsawan. Totkala memiliki filosofi meski kecil derajatnya tidak bisa diremehkan. Ia memiliki pengaruh besar.

"Cuma cara pakainya ini beda dengan odheng bangsawan. Kelopak kecil mencolok harus berada di pososi kiri," terangnya.

Kelopak kecil tersebut bisa dipakai berbalik. Namun ada aturannya. Bagi yang berusia 25 tahun ke bawah, siku posisi odheng ini harus berada di atas. Sehingga berdiri tegak. Bagi yang berumur 25 tahun ke atas, siku ini harus berada di bawah. Artinya rendah diri.

Odheng versi Sejarah

Ada versi menyebut iket (odheng) telah ada dalam legenda Aji Saka, pencipta tahun Saka atau tahun Jawa, sekitar 20 abad yang lalu. Diceritakan Aji Saka berhasil mengalahkan Dewata Cengkar dalam peperangan hanya dengan menggelar kain penutup kepala yang kemudian dapat menutupi seluruh tanah Jawa.

Versi lain menyatakan iket merupakan pengaruh budaya Hindu dan Islam. Para pedagang dari Gujarat keturunan Arab selalu mengenakan sorban, kain panjang yang kemudian dililitkan di kepala, lalu orang Jawa terinspirasi memakai ikat kepala serupa mereka.

Ada pula versi yang mengatakan, di satu waktu akibat peperangan kain menjadi barang yang sulit didapat sehingga petinggi keraton meminta seniman untuk menciptakan ikat kepala yang lebih efisien yaitu udeng. [] 

Tulisan feature lain:

Berita terkait
0
Galian C Ilegal, Pengundang Bencana di Bumi Rencong
Galian C ilegal marak di Aceh. Walhi mendesak Pemerintah Daerah Aceh menertibkan penggalian yang bisa mendatangkan bencana itu.