Solok - Sekilas, perawakan lelaki beranak tiga itu tak seperti seorang seniman. Namun, ketika melongok ke dalam kedai kecilnya, barulah hati berdecak kagum. Puluhan saluang, bansi, dan pupuik tanduk yang sudah terukir indah berjejer rapi dalam etalase kaca.

"Selain ke sawah, inilah kerja saya, membuat alat musik tradisional saban hari," kata Junaidi, pekan lalu.

Saluang dan bansi adalah dua alat musik tradisional identitas masyarakat Minangkabau ketika menggelar perhelatan akbar. Alat musik tiup pengiring dendang (nyanyian Minang) dan ratok (ratap) ini kerap menjadi alunan pemancing kerinduan perantau untuk pulang kampung.

Seiring perkembangan zaman, keberadaan saluang dan bansi kian sulit dijumpai, termasuk susah mencari yang piawai meniup, apalagi membuatnya. Tak jarang, untuk menawar rindu, masyarakat hanya bisa mendengarkan saluang dan bansi melalui rekaman lagu Minang. Sesekali, bisa menikmati pertunjukan tari diiringi bansi dalam kegiatan Alek Nagari atau pertunjukan penyambutan tamu istimewa pemerintahan.

Junaidi adalah satu dari sedikit orang di Sumatera Barat (Sumbar) yang tetap melestarikan musik tradisional itu. Selain bertani, warga Jorong Batusangka, Nagari Dilam, Kecamatan Bukitsundi, Kabupaten Solok itu mampu mencari tambahan rupiah dengan menjual saluang dan bansi.

Lelaki berusia 49 tahun bergelar Rajo Biso itu mengisahkan, kepiawaiannya membuat saluang dan bansi berawal dari pengajaran sang kakak yang juga pelaku seni tradisi di Kabupaten Solok. Setidaknya, sudah lebih 27 tahun lamanya ia membuat alat musik yang terbuat dari buluh atau bambu (talang) itu.

"Saya sudah membuat saluang sekaligus menjualnya sejak tahun 90-an," kata sarjana karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang itu.

Selain ke sawah, inilah kerja saya, membuat alat musik tradisional saban hari.

JunaidiJunaidi memamerkan alat tradisi talempong yang terbuat dari bambu

Membuat Saluang

Siang itu, Junaidi Rajo Biso tengah sibuk menyelesaikan pembuatan saluang. Puluhan bambu ukuran kecil yang telah dipotong-potong dengan panjang sekitar 75 cm lebih berjejer di atas meja depan kedai rumahnya. Berbekal pisau dan amplas, dengan telaten Junaidi mengolah bambu seukuran pipa 1,5 inci itu.

Sisi bambu yang lebih besar dibuat miring ke dalam, dan sisi kecil, dengan diameter dipotong rata. Setelah dipotong, tangan Junaidi pun meliuk-liukkan ujung pisau untuk membuat lubang nada.

Biasanya, satu saluang hingga ukiran ini bisa selesai dalam waktu 35 hingga 45 menit. Tergantung kerumitan motif dan ukirannya. Kalau fokus, dalam sehari saya bisa menyelesaikan 20 hingga 30 unit alat musik.

Agar nadanya pas, lubang paling ujung berjarak satu kali diameter bambu. Setelah kelima lubang selesai, dibersihkan dengan kayu khusus yang juga terbuat dari bambu, lalu diamplas lagi. "Kalau untuk sekadar bermain saluang, segini juga bisa," kata Junaidi usai menyiapkan satu saluang dalam tempo tak sampai 15 menit.

Ketika nadanya sudah sesuai, lanjut lelaki yang juga piawai meniup bansi itu, saluang akan kembali diamplas lebih halus. Hal ini dilakukan untuk pembuatan ukiran Minangkabau di batang saluang, bansi, maupun pupuik sarunai atau pupuik tanduak.

Pola pembuatan ukiran yang dilakukan Junaidi juga menggunakan alat tradisional. Ia mengukir saluang dan bansi dengan bara api tempurung kelapa. Motif yang dibuat pun beragam. Mulai dari motif rumah gadang Minangkabau, saik wajik dan motif Minang lainnya.

"Biasanya, satu saluang hingga ukiran ini bisa selesai dalam waktu 35 hingga 45 menit. Tergantung kerumitan motif dan ukirannya. Kalau fokus, dalam sehari saya bisa menyelesaikan 20 hingga 30 unit alat musik," kata lelaki yang karib disapa Rajo Biso itu.

Berkat kepandaian membuat saluang dan bansi ini juga Junaidi bisa mencari tambahan biaya kuliah di tahun 1994 silam. "Dulu, saluang dijadikan sebuah media pembawa pesan untuk memikat hati seorang gadis, mistiklah. Tapi sekarang tidak lagi. Sekarang alunan saluang dan bansi lebih kepada penyeru perantau untuk tidak melupakan kampung halaman," katanya.

Selain menyalurkan hobi sebagai pelaku seni di Kabupaten Solok, Junaidi juga telah memasarkan hasil karyanya ke berbagai daerah di Sumbar. Daerah yang menjadi langganannya adalah Kota Bukittinggi, Tanah Datar dan Kota Padang. Terkadang juga ada pesanan dari Pekanbaru dan beberapa daerah lain.

Untuk satu unit saluang, bansi maupun pupuik sarunai yang terbuat dari tanduk kerbau dan bambu dipatok seharga Rp 100 ribu. "Rata-rata pembelinya perorangan, ada juga kelompok," katanya.

Dulunya, terang putra kedua dari lima bersaudara itu, penjualan saluangnya rutin selama 10 tahun ke Malaysia. Kondisi itu terjadi di tahun 1997 hingga 2007. Peminatnya di sana tidak saja orang Minang yang berada Negeri Jiran, namun juga turis-turis asal Jerman, Jepang, Belanda. Namun karena terputus jaringan, bisnisnya ke Malaysia kandas.

Saat ini, Junaidi hanya berharap agar Pemerintah setempat dapat memberikan dukungan untuk memajukan seni tradisi yang sudah dikembangkan sejak puluhan tahun silam. "Saya punya mimpi, Nagari Dilam bisa menjadi salah satu pusat wisata seni tradisi dan budaya di Kabupaten Solok dan Sumbar," ujarnya. []

Tulisan feature lain: