UNTUK INDONESIA
Laki-laki yang Kunikahi Ternyata Perempuan
Memakai jas hitam, peci menutupi rambut cepaknya, dia tampak gagah layaknya pria tangguh. Hingga kemudian rahasianya terungkap. Dia perempuan.
MTR (kiri) dan MT, menghebohkan Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Mereka menikah, MTR mempelai laki-laki ternyata seorang perempuan. (Foto: Dok Keluarga/Tagar/Lodi Aprianto)

Soppeng, Sulawesi Selatan - Usianya 28 tahun dan tampak keren. Mengenakan jas hitam dan peci, ia bagaikan pria tangguh. Ia biasa disapa Labba oleh teman-temannya, nama aslinya berinisial MTR. Pada usia terbilang dewasa itu, Labba memantapkan hati untuk menjalankan satu di antara sunah Nabi Muhammad SAW, yaitu menikah. Ia menikahi pujaan hati, seorang wanita berinisial MT. Usai melangsungkan ijab kabul dan resepsi, rahasia Labba terkuak. Dia ternyata perempuan.

MTR atau biasa disapa Labba ini tercatat sebagai warga Desa Pesse, Kecamatan Donri-donri, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Pekerjaannya buruh harian, serabutan, tidak menentu, kadang ada kadang tidak. Meski pekerjaan tak menentu, tak membuat dirinya gagal penampilan. Dengan kulit kuning langsat dan rambut cepak, ia mampu mengelabui MT.

Di sekitar tempat tinggalnya, Labba tak banyak bergaul dengan anak remaja lainnya. Mungkin saja dia risih, ataukah dia tidak ingin dianggap atau disamakan dengan perempuan lainnya. Tapi dengan memanfaatkan teknologi, Labba dengan telepon seluler itu aktif menggunakan media sosial, Facebook dan Instagram. Sehingga ia dapat berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain yang bukan dari kampungnya tersebut.

Di media sosial inilah, Labba kenal dengan MT, gadis mungil dan cantik yang masih berusia 21 tahun. Perkenalan di media sosial ini terus berlanjut. Mereka berdua kerap kirim pesan satu sama lain melalui aplikasi Messanger, hingga akhirnya bertukar nomor handphone.

"Saya kenal dengan MT, Pak, melalui sosmed," kata MTR di hadapan polisi saat dilakukan pemeriksaan di Markas Kepolisian Sektor Donri-donri, Sabtu, 13 Juni 2020.

MT adalah seorang gadis, tinggal di Desa Baringeng, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. MTR yang berpenampilan dan berwatak pria itu tak pernah memberitahukan kepada MT, bahwa dirinya perempuan.

Dan pada akhir tahun 2019, Labba mencoba merayu MT dengan mengajaknya bertemu. MT yang polos tak kuasa menolak. Ia mengiyakan keinginan MTR. Sehingga mereka pun mengatur waktu pertemuan.

Saat pertemuan pertama, MT tidak curiga. Ia menganggap MTR itu seorang pria. Mereka akrab, meski ada sedikit rasa malu-malu. Wajar saja karena baru pertemuan pertama. Setelah berbincang banyak, mereka kemudian saling pamit untuk pulang. MTR berusaha menunjukkan perhatian lebih kepada MT dengan menawarkan untuk mengantar MT pulang ke rumahnya di Desa Baringeng. MT mau. Maka MTR pun dengan motornya membonceng MT.

Awalnya MT tidak tahu kalau saya perempuan juga. Dia baru tahu setelah lima bulan pacaran. Sempat dia kecewa, tapi karena kami saling sayang, sehingga tetap pacaran.

MT dan MTRMTR (kanan) dan MT, menghebohkan Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Mereka menikah, MTR berperan sebagai mempelai laki-laki ternyata adalah seorang perempuan. (Foto: Dok Keluarga/Tagar/Lodi Aprianto)

Sejak pertemuan itu, komunikasi mereka makin intens. Mereka saling memberikan perhatian lebih hingga MTR mengajak MT untuk pacaran. MT lagi-lagi tak bisa menolak ajakan untuk menjalin hubungan dan mereka pun pacaran.

"Saya pacaran dengan MT, Pak. Suka sama suka," kata MTR saat diinterogasi polisi.

MTR dan MT menjalani pacaran, sama seperti pasangan kekasih lain. Nongkrong dan jalan bareng, foto bersama dan bahkan aksi MTR, nekat ke rumah MT, bertamu. Seketika MT kagum dengan keberanian MTR, yang manyambangi langsung rumahnya dan ketemu dengan kedua orang tua MT. Selain itu, MTR ini juga sangat perhatian dan romantis. Dengan alasan inilah, MT sangat sayang dengan MTR.

Setelah lima bulan memadu kasih, MT akhirnya mengetahui MTR ini perempuan. Meski agak kecewa, tapi ia terlanjur suka dan sayang, sehingga MT tetap melanjutkan hubungan pacaran, menerima MTR apa adanya. Seketika kala itu, hubungan mereka ini makin serius dan karena MTR sudah kerap kali ke rumah MT, sehingga kedua orang tuanya sedikit risih dan tak ingin dicerita oleh tetangga atau menghindari aib, sehingga orang tua meminta agar mereka ini menikah.

"Awalnya MT tidak tahu kalau saya perempuan juga. Dia baru tahu setelah lima bulan pacaran. Sempat dia kecewa, tapi karena kami saling sayang, sehingga tetap pacaran," kata MTR.

Menikah dengan Adat Bugis-Makassar

Permintaan dari orang tua MT untuk segera menikah, membuat MTR berpikir keras. Selain karena modal yang belum cukup, MTR juga harus meyakinkan mertuanya itu bahwa ia adalah seorang pria. Sehingga MTR saat itu cepat-cepat mengurus beberapa berkas identitas dirinya dan memalsukan jenis kelamin jadi pria.

Selasa, 9 Juni 2020, MTR pun bersiap diri untuk melangsungkan pernikahan di rumah MT di Desa Baringeng, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng. Dengan mengenakan jas hitam, pinggang dibalut kain sarung, dan peci di kepala, MTR siap menjalani akad nikah. Penghulu dan saksi-saksi serta warga sekitar telah hadir untuk menyaksikan pernikahan mereka. Dengan mengucapkan "Bismillahi rahmani rahim" mereka pun dinikahkan.

Usai melaksanakan akad, mempelai wanita dan 'pria' ini kemudian ganti kostum, mengenakan pakaian adat Bugis-Makassar. Tamu undangan yang hadir, memberikan ucapan selamat, bersalaman dengan kedua mempelai. Tapi, tiba-tiba saja ada warga yang curiga dengan perwatakan dari mempelai 'pria' tersebut, karena kulit tangan begitu halus dan lembek. Sehingga, pernikahan sesama jenis kelamin ini terbongkar dan hebohlah Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Kepala Desa Baringen, Andi Aris, membenarkan adanya pernikahan sama jenis di daerahnya. Ia mengaku mengetahui kejadian tersebut saat warga sekitar memberitahunya. Dan juga informasi itu diperkuat pernyataan Kepala Desa Pising yang menghubunginya, bahwa pengantin 'laki-laki' tersebut adalah wanita.

"Ia ada kejadian seperti itu, saya ini dihubungi salah satu teman kepala desa. Katanya, mantan warganya menikah di desa saya, terus dia bilang itu bukan laki-laki, tapi itu perempuan" ucapnya.

Dalam pernikahan itu, kata Andi Aris, tidak sah atau dibenarkan menurut undang-undang atau hukum. Karena mereka telah melangsungkan pernikahan tanpa memberitahukan kantor KUA dan pemerintah, khususnya kepala desa. Dengan terselenggaranya resepsi pernikahan ini, Andi Aris merasa kecolongan.

"Saya kecolangan karena pernikahannya tidak dilaporkan ke desa dan KUA, artinya dia nikah siri," tuturnya.

MT dan MTRMTR (kanan) dan MT menjalani pemeriksaan di Markas Kepolisian Sektor Donri-donri, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Sabtu, 13 Juni 2020. (Foto: Tagar/Lodi Aprianto)

Dijemput Polisi

Jajaran kepolisian Polsek Donri-Donri, Polres Soppeng, langsung melakukan penyelidikan terkait adanya informasi pernikahan sesama jenis kelamin perempuan, MT, 21 tahun dan MTR, 28 tahun, di Kabupaten Soppeng, Sulsel.

Kamis malam, 11 Juni 2020, Polisi bergerak ke rumah yang melangsungkan acara pernikahan tersebut. Dan malam itu juga, MT dan MTR ini dibawa ke Mapolsek Donri-donri untuk diinterogasi.

Kasat Reskrim Polres Soppeng AKP Amri mengatakan MT dan MTR mengakui bahwa mereka telah menikah atas dasar suka sama suka.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan, mereka ini memang pacaran. Menikah pun atas dasar suka sama suka," kata Amri kepada Tagar, Sabtu, 13 Juni 2020.

Amri mengatakan keluarga MT mengetahui menantunya itu seorang wanita, setelah kedua mempelai dijemput polisi. Dalam pemeriksaan di kantor polisi, MTR dicek polisi wanita, dan memang benar MRT berjenis kelamin perempuan.

"Mereka telah kita amankan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," kata Amri.

Tanggapan Psikolog

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar Widyastuti mengatakan tidak ada undang-undang di Indonesia yang mengatur pernikahan sesama jenis. Tindakan menikah sesama jenis adalah penyimpangan, menyalahi kodrat.

Kasus MT dan MTR, kata Widyawati, jalan ceritanya adalah mempelai 'pria' merupakan pencinta sesama jenis dan si wanita terjebak dalam zona nyaman.

"MTR menjebak dulu. Karena secara logika, kalau MT tahu sejak awal, pasti MT tidak mau. MT berpikir MTR laki-laki pada awalnya. Setelah MT merasa nyaman, MTR berani mengajaknya bertemu. MT akhirnya tahu dia laki-laki, tapi dia sudah terlanjur nyaman dan sayang, sehingga tidak mau lepas lagi, tidak apa-apa ternyata MTR perempuan," tutur Widyawati.

Kadang-kadang, kata Widyawati, wanita merasa tidak akan mendapat orang lebih baik dari pasangan sebelumnya yang telah memberikan rasa aman. "Sehingga apa pun itu, dia terima. Kayak MT ini, dia merasa MTR yang dapat mengerti dia dan bahkan menjaga dia. Dia tidak memandang dari materi saja. Sehingga dia menerima MTR apa adanya." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Achmad Agun, Anak Yatim Piatu Kreatif di Bantaeng
Achmad Agun, anak yatim piatu di Bantaeng, kepahitan hidup membuatnya terpacu cepat mandiri, usia 19 tahun sudah bikin kedai minuman kekinian.
Tingkah Aneh Pecandu Drakor di Bantaeng Sulawesi Selatan
Orang-orang kok suka banget nonton drakor. Gue jadi penasaran. Nontonnya di mana deh ya. Kisah perempuan-perempuan di Bantaeng tergila-gila drakor.
Letusan Gunung Tambora yang Mengubah Wajah Dunia
Letusan Gunung Tambora mengubah pola musim di Eropa, biasanya Mei-Agustus panas tiba-tiba tidak panas sama sekali, tertutup awan bak guguran salju.
0
Hindia Sumbang Konsep di Konser Daring Here Comes The Sun
Solois Hindia menjadi salah satu pengonsep acara di festival musik Here Comes The Sun virtual Edition.