UNTUK INDONESIA
Nasib Kuliner Ekstrem Gunungkidul Saat Wabah Corona
Pedagang kuliner ekstrem di Gunungkidul berupa belalang goreng sepi pembeli saat pandemi Corona.
Pedagang makanan ekstrim Gunungkidul di Jalan Wonosari-Yogyakarta yang tetap membuka lapaknya di tengah pandemi Corona.(Foto: Tagar/Hidayat)

Gunungkidul – Para pedagang makanan ekstrem di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta mengalami penurunan omzet secara drastis akibat pandemi Covid-19. Meski sepi konsumen, mereka tetap memasarkan dagangannya agar ada sedikit pemasukan ekonomi.

Seperti yang dilakukan oleh Sukir, 55 tahun dan juga Suliyanti, 54 tahun. Pasangan suami istri ini sudah sekitar satu bulan terakhir tidak membuka lapak dagangannya. “Baru hari ini mulai buka lagi,” kata Sukir ditemui di lapak dagangannya di Jalan Wonosari-Yogyakarta kawasan Hutan Wanagama, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul pada Kamis 7 Mei 2020.

Sukir mengatakan sejak akhir Maret lalu penjualan sudah sepi. Dagangannya berupa belalang goreng tak laku lebih dari 10 toples yang setiap toplesnya seberat satu ons. “Hari ini baru laku empat toples,” katanya.

Sukir mengatakan sepinya pembeli ini karena seluruh objek wisata tutup. Sebab lapak dagangnnya berada di salah satu jalur masuk ke Gunungkidul, dan mayoritas pelanggannya merupakan orang luar daerah yang datang berwisata.

Sukir menyebut tetap nekat membuka dagangannya ini agar uang modalnya bisa sedikit diputar. Sebab dirinya sudah stok belalang sebanyak 3 kuintal di rumahnya. “Sebelum ada Covid-19 ini, saya sudah stok belalang 3 kuintal. Sekitar Februari lalu, yang sengaja untuk memanfaat momen libur Lebaran nanti,” katanya.

Sebanyak 3 kuintal belalang itu didapatkan dari berbagai daerah, seperti Pacitan, dan Kulon Progo. Belalang tersebut dalam kondisi sudah mati dan bersih. Kemudian ia bekukan di dalam freezer. “Habis Rp 20 juta saya stok belalang sebanyak 3 kuintal itu,” katanya.

Sekitar Februari lalu, yang sengaja untuk memanfaat momen libur Lebaran nanti.

Sukir mengatakan dirinya hanya berharap agar pandemi Covid-19 segera berakhir. Agar aktivitas ekonomi bisa kembali pulih. “Kalau harapannya, ya Corona ini berakhir,” katanya.

Sedangkan untuk bantuan dari pemerintah, ia berkata sampai kini belum didapatkan. Meski juga mengalami dampaknya. “Belum ada bantuan,” katanya yang sudah berjualan belalang sejak tiga tahun terakhir ini.

Sama halnya dengan Sukir, pedagang makanan ekstrem Gunungkidul, Sri Hawa, 35 tahun dari Kecamatan Ngawen, Gunungkidul juga tetap membuka dagangannya meski sepi konsumen. Ia memasarkannya melalui media sosial Facebook, maupun komunitas perantau di WhatsApp Grup (WAG) yang diikutinya.

Sri mengatakan biasanya satu minggu ia bisa menjual sampai 20 toples belalang goreng. Namun saat ini ia hampir tidak ada pembelinya.

Sri mengaku beruntung saat ini masih ada order masakan bekicot dari para perantau asli Gunungkidul di Jakarta. Setidaknya satu hingga dua kilogram bekicot masak ia kirim setiap hari ke ibukota.

“Karena tidak bisa mudik, mereka memesannya untuk dikirim ke tempat perantauannya. Biasanya mereka datang langsung ke rumah untuk membeli ketika lebaran,” katanya.

Ia tetap membuka orderan dan konsumen bisa memesannya melalui nomor WhatsApp 087785539856. Supaya bisa tetap mendapatkan pemasukan di tengah pandemi Corona ini. “Bantuan sampai saat ini belum dapat,” ucapnya. []

Baca Juga:

Berita terkait
Alasan 23 Pemakaman Protokol Covid-19 di Gunungkidul
Sampai Rabu 6 Mei ada 23 pemakaman jenazah menggunakan protokol Covid-19 di Gunungkidul, Yogyakarta. Ini alasannya.
Corona dan Kartu Prakerja Pelaku Wisata Gunungkidul
Sektor wisata Gunungkidul terpuruk akibat pandemi Covid-19. PAD dipastikan tidak tercapai. Pelaku wisata kini diarahkan dapat Kartu Prakerja.
Cara Warga Gunungkidul Menghadapi Pagebluk Covid-19
Kearifan lokal warga Gunungkidul dalam menghadapi pandemi Covid-19 dengan menampung bahan makanan di lumbung desa.
0
Nasib Kuliner Ekstrem Gunungkidul Saat Wabah Corona
Pedagang kuliner ekstrem di Gunungkidul berupa belalang goreng sepi pembeli saat pandemi Corona.