UNTUK INDONESIA

Myanmar Memanas WNI Nonesensial di Myanmar Segera Pulang

KBRI Yangon, Myanmar, menetapkan kondisi keamanan Siaga II, WNI nonesensial diminta segera pulang ke Tanah Air
Aksi unjuk rasa di depan KBRI di Yangon, Myanmar, 23 Februari 2021 (Foto: Dok/voaindonesia.com/AP).

Jakarta – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Myanmar di Yangon, Myanmar, Jumat dini hari, 5 Maret 2021, menetapkan status Siaga II seiring meningkatnya aksi kekerasan di Myanmar. Warga Negara Indonesia (WNI) diminta tenang, sementara mereka yang tidak memiliki keperluan esensial di negara Pagoda Emas itu, diminta mempertimbangkan untuk kembali ke Tanah Air terlebih dahulu.

Dalam keterangan tertulis yang diterima VOA, Kementerian Luar Negeri RI mengatakan “memperhatikan perkembangan situasi terakhir dan sesuai rencana kontijensi, saat ini KBRI Yangon menetapkan status Siaga II.”

warga myanmarWarga Myanmar turun jalan mengutuk kudeta atas Aung San Suu Kyi, 7 Februari 2021. (Foto: VOA)

Ditambahkan, “Warga Negara Indonesia (WNI) diimbau untuk 'tetap tenang dan berdiam diri di kediaman masing-masing, menghindari bepergian, termasuk ke tempat kerja jika tidak ada keperluan sangat mendesak'. Sementara WNI beserta keluarga yang tidak memiliki keperluan yang esensial, dapat mempertimbangkan untuk kembali ke Indonesia dengan memanfaatkan penerbangan komersial yang saat ini masih tersedia.”

Kementerian Luar Negeri dan KBRI Yangon menggarisbawahi akan terus memantau perkembangan situasi di Myanmar dan menilai “belum mendesak untuk melakukan evakuasi WNI.”

anti kudeta myanmarPengunjuk rasa kudeta anti-militer melarikan diri dari gas air mata yang ditembakkan oleh polisi dan tentara di Mandalay, Myanmar, 3 Maret 2021 (Foto: voaindonesia.com/AP)

Sedikitnya 38 orang tewas hari Kamis, 4 Maret 2021, setelah pasukan bersenjata Myanmar melepaskan tembakan terhadap para demonstran di beberapa kota. Hampir setiap hari ribuan demonstran telah turun ke jalan, menentang kudeta militer 1 Februari 2021 lalu.

Beberapa hari terakhir ini, aparat keamanan meningkatkan tanggapan mereka dengan menggunakan gas air mata, granat kejut, flash bangs atau granat yang mengeluarkan suara dan cahaya sangat terang yang dapat mengacaukan orientasi orang yang ditarget, hingga peluru karet dan peluru tajam.

PBB mengatakan jumlah korban tewas sejak kudeta terjadi sudah mencapai 50 orang, meskipun para aktivis memperkirakan jumlah sesungguhnya jauh lebih besar.

demo kbri yangoonAksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Indonesia di Yangon, Myanmar, 23 Februari 2021. (Foto: voaindonesia.com - VOA Biro Yangon/Myanmar).

Ada 500 orang WNI di Myanmar yang sebagian besar bekerja di sektor migas, pabrik, industri garmen dan menjadi anak buah kapal.

KBRI Yangon meminta WNI yang memerlukan informasi dan bantuan perlindungan untuk segera menghubungi telepon hotline Hotline KBRI Yangon: +95 9 503 7055 atau Hotline Perlindungan WNI Kemlu: +62 812-9007-0027 (em/jm)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Indonesia Kecam Kekerasan Terhadap Demonstran di Myanmar
Pemerintah Indonesia mengatakan "sangat prihatin" dengan meningkatnya kekerasan di Myanmar dan serukan aparat keamanan menahan diri
Aung San Suu Kyi Tampil Pertama Kali di Pengadilan Myanmar
Aung San Suu Kyi, pimpinan sipil de facto Myanmar tampil pertama di depan umum dejak kudeta militer 1 Februari 2021
Dubes Myanmar untuk PBB Minta Dunia Tolak Kudeta Militer
Dubes Myanmar untuk PBB imbau komunitas internasional untuk menolak kudeta militer di Myanmar dan gunakan segala cara untuk melindungi rakyat