Oleh: Denny Siregar*

Namanya Tengku Zulkarnain.

Saya risih memanggil dia dengan gelar ustaz. Karena ustaz itu berarti pendidik. Sedangkan Tengku Zulkarnain jauh dari kriteria agung itu.

Kita mengenal Tengku Zul karena twitnya dia di setiap waktu. Banyak twitnya yang bernada kasar dan provokatif. Apalagi pada masa Ahok menjadi Gubernur, ia semakin menggila dengan banyaknya umpatan yang rasis.

Dan apa yang dia lakukan berbuah penolakan, terutama pada tahun 2016 ketika ia datang ke Sintang, Kalimantan Barat. Sejumlah orang yang mengatasnamakan Dewan Adat Dayak menolaknya menginjakkan kaki di bumi Kalimantan. Akhirnya, si Tengku Zul tidak berani keluar dari pesawat karena gemetaran. Ia akhirnya kembali ke Pontianak dengan pesawat yang sama.

Tengku Zul juga pernah menyebar hoaks masalah 7 kontainer surat suara yang sudah dicoblos. Seharusnya ia sudah memenuhi delik karena ikut menyebarkan berita bohong. Ia juga sudah dilaporkan karena cuitan itu. Tapi entah bagaimana ia masih bebas dan belum tersentuh hukum. Mungkin belum ada pasal yang "mematikan" yang bisa membuat ia dipenjara langsung.

Dan baru saja beredar video dimana Tengku Zul kembali membuat hoaks dengan mengatakan bahwa pemerintahan Jokowi sedang mengajukan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Dalam rancangan itu menurutnya, pemerintah akan menyediakan kondom untuk anak-anak muda berzina.

Hoaks ini dibantah Ace Hasan Syadzili, politisi Golkar di sebuah televisi swasta. Tengku Zul tentu tidak bisa membantah ucapan Ace karena memang apa yang dia katakan hoaks belaka.

Sedihnya, dalam hoaks RUU PKS itu, Tengku Zul membawa-bawa nama Majelis Ulama Indonesia. Ya, dia memang Wasekjen di MUI, sebuah lembaga yang berisi ulama-ulama yang biasanya merumuskan banyak fatwa untuk umat Islam seIndonesia.

Saya sendiri heran dengan lembaga MUI ini....

Kenapa orang selevel Tengku Zul tetap dipertahankan di lembaga ini? Tengku Zul jelas merusak nama "ulama" yang melekat di lembaga Islam tersebut. Dan rusaknya nama ulama, akan berdampak terhadap rusaknya kredibilitas agama. Orang akan melecehkan gelar ulama yang biasanya sakral karena berkonotasi orang berilmu dan mengerti agama.

Seharusnya sejak lama Tengku Zul dipecat, karena ia terang-terangan merusak nama lembaga sejak lama. Tapi ia tetap dipertahankan di posisinya entah dengan alasan apa. Ilmu agamanya dangkal dan rendah, kerjaannya hanya mencaci-maki saja, ceramahnya tidak bermutu dan penuh amarah. Apa yang bisa membuat ia tetap mendapat label besar "ulama"??

Sudah waktunya negeri ini bersih-bersih dari orang-orang seperti Tengku Zul yang kerjaannya memprovokasi dengan baju Islami. Baju gamis putih yang dia pakai sehari-hari seolah menandakan dia adalah makhluk suci bersih. Dia lebih mirip penduduk Arab daripada penduduk bumi pertiwi.

Majelis Ulama Indonesia seharusnya berbenah. Jadilah pribadi yang baru daripada memelihara orang seperti ini. Islam tidak akan rusak oleh agama lain, justru dirusak oleh pengikutnya sendiri. Termasuk pengikut yang hanya berdiam diri melihat agama ini dirusak setiap hari.

Atau mungkin di MUI sendiri banyak orang-orang seperti Tengku Zul jadi mereka saling melindungi??

Entahlah. Mari kita tanyakan pada secangkir kopi.

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: