UNTUK INDONESIA
Merajut Toleransi Saat Pandemi Covid-19 di Indonesia
Masa pandemi Covid-19 saat ini bisa menjadi momen merajut kebersamaan, toleransi, tolong menolong antar umat lintas agama dan kepercayaan.
Ilustrasi keberagaman dan toleransi (Foto: pixabay)

Yogyakarta - Masa pandemi Covid-19 saat ini bisa menjadi momen penting, untuk merajut kebersamaan, toleransi, tolong menolong antar umat lintas agama dan kepercayaan.

Peneliti Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) UGM Samsul Maarif mengungkapkan bahwa masa Pandemi Covid-19 ini banyak drama yang mewarnainya. Meski begitu momen ini juga dapat menjadi peluang untuk merajut keberagaman, dan membangun kemanusiaan lebih baik lagi.

Dia mengatakan pada Drama Covid-19 ini, peran lintas agama menjadi sangat krusial. Isolasi diri, jaga jarak, lockdown, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan berbagai strategi penanganan Covid-19 berpotensi dipahami bertentangan dengan ajaran agama. Faktanya memang demikian.

Menurut dia, strategi penanganan Covid-19 yang telah menjadi kebijakan, wajib mendapatkan dukungan dari pemeluk lintas agama. "Pemeluk agama wajib berdialog dan bersinergi tidak hanya dengan sesama pemeluk agama (dialog antar iman) tetapi juga dengan pengambil kebijakan, keilmuan (medis) dan semua komponen masyarakat," katanya dalam diskusi online Peran Lintas Agama Menghadapi Pandemi Covid-19, yang diselenggarakan Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) UGM, Senin, 4 Mei 2020.

Pria yang akrab disapa Anchu itu ini mengatakan, dalam Drama Covid-19, pemahaman agama tidak lagi tepat dipertentangkan. "Keberadaannya tidak harus diintegrasikan, tetapi penting didialogkan,” ujarnya.

Beribadah di rumah tidak mengurangi nilai dan pahala ibadah. Sikap tersebut tentu akan menggiring Drama Covid-19 pada ujungnya.

Anchu mengatakan tidak semua, tetapi banyak tokoh lintas agama telah memainkan peran dialogis dan kolaborasi tersebut. Mereka tampil meyakinkan dalam menjelaskan dukungan pada kebijakan penanganan Covid-19 sebagai bagian dari sikap keberagamaan, atau paling tidak, tidak bertentangan dengan ajaran agama.

“Beribadah di rumah tidak mengurangi nilai dan pahala ibadah. Sikap tersebut tentu akan menggiring Drama Covid-19 pada ujungnya. Semoga,” ucapnya.

Ia juga melihat bagaimana peran lintas agama ini telah bermunculan dan saling tolong menolong. Meski di sisi lain di masa pandemi Covid-19 ini, memungkinkan kelompok minoritas dapat semakin termarjinalkan.

Anchu mengatakan, situasi tersebut perlu diantisipasi. "Antisipasinya harus dimulai dari perspektif bahwa kita semua setara. Setiap warga memiliki hak yang sama. Perspektif tersebut harus menjadi basis sikap yang bentuknya toleransi,” katanya.

Diharapkan peran lintas agama dapat menjangkau kelompok-kelompok minoritas yang rentan. Menurutnya sebagai individu mereka juga berhak mendapatkan layanan dan bantuan. Dengan menggandeng kelompok minoritas tersebut dapat semakin meringankan beban menghadapi Covid-19 ini.

Pembicara lainnya, Aktivis Sekolah Kebhinekaan Gunungkidul, FX Endro Tri Guntoro mengatakan selama ini Sekolah Kebhinekaan telah berusaha membangun simpul-simpul keberagaman. “Kami mulai sudah sejak 2017, tanpa kelas-kelas formal ruang kami mencoba membangun toleransi,” ujar Endro.

Menurutnya jika toleransi itu telah terbangun, di masa pandemi Covid-19 ini kerja-kerja kelompok lintas iman ini akan sangat bermanfaat. Sekolah Kebhinekaan Gunungkidul telah menjadi media belajar merefleksikan diri membentuk kemanusiaan. Hasil dari hal tersebut juga sudah terlihat saat ini.

“Rekan-rekan alumni sudah banyak yang aktif untuk membangun kemanusiaan, toleransi itu. Tidak hanya di DIY, tetapi juga di luar DIY. Meski kita tidak memungkiri masih ada kelompok-kelompok yang belum bisa bergabung, tetapi kami upayakan terus,” ucapnya. []

Baca Juga:

Berita terkait
Heboh Pembagian Uang Saat Wabah Corona di Yogyakarta
Bagi-bagi uang saat pandemi Covid-19 di Yogyakarta bikin heboh dan viral.
RS Akademi UGM Bakal Jadi Rujukan Covid-19 di Yogyakarta
Progres mencapai 30 %, RS Akademi UGM ditargetkan selesai akhir Mei 2020 dan digunakan sebagai RS Rujukan Covid-19 di Yogyakarta.
Catatan PAN soal Penanganan Covid-19 di Yogyakarta
DPW PAN menilai Pemda DIY dalam menangani pandemi dan dampak Covid-19 di Yogyakarta masih amburadul.
0
Merajut Toleransi Saat Pandemi Covid-19 di Indonesia
Masa pandemi Covid-19 saat ini bisa menjadi momen merajut kebersamaan, toleransi, tolong menolong antar umat lintas agama dan kepercayaan.