UNTUK INDONESIA
Untuk Indonesia
Menyiasati 75 Persen Golput di Pilkada Medan 2020
Pada Pilkada Kota Medan 2015, tercatat, warga yang tidak menggunakan hak pilihnya mencapai 1.477.745 atau 74,44%.
Foto: Istimewa

Oleh: *Ingot Simangunsong

Pada Pilkada Kota Medan 2015, tercatat, warga yang tidak menggunakan hak pilihnya mencapai 1.477.745 atau 74,44%.

Persentase itu dihitung dari jumlah pemilih yang terdaftar sebesar 1.985.096 orang. Prakiraan pertambahan jumlah pemilih di Pilkada Kota Medan 2020, tidak akan bergeser jauh. Boleh jadi, di kisaran 10 persen.

Dan, persentase "suara golput" yang disebut-sebut sebagai kaum golongan putih (golput), boleh jadi di kisaran 75 persen. Dengan jumlah pemilih mencapai 25 persen atau sekitar 600 ribuan lebih suara.

Ketika digelar Pilkada Kota Medan 2015, pasangan Dzulmi Eldin - Akhyar Nasution memperoleh 346.406 suara atau 71,72% dari 483.014 suara sah. Sementara, pasangan Ramadhan Pohan - Eddie Kusuma, hanya 136.608 suara, atau 28,28%.

Pendulangan suara itu, mereka dapatkan dari jumlah pemilih yang hanya mencapai 507.351 suara, dengan 24.336 suara tidak sah atau sekitar 5,04%.

Mengelola Suara Golput

Besarnya suara kaum golput di Pilkada Kota Medan, menjadikan pertarungan para calon wali kota, tidak kelihatan seru.

Jika para calon hanya memperebutkan 25 persen suara, apakah yang terpilih layak sebagai pemimpin pilihan rakyat? Bukankah hal itu merupakan gambaran bahwa si calon terpilih, dalam tahapan demi tahapan pelaksana pemilihan, bersama tim pemenangannya, tidak memiliki kemampuan menggiring kaum golput untuk datang ke TPS?

Artinya, para calon pemimpin atau kepala daerah, diharapkan tidak hanya sekadar mengejar target untuk meraih kursi kekuasaan.

Yang lebih penting, bagaimana si calon bersama tim pemenangannya dapat menyajikan formula dalam menyiasati dan mengelola suara golput agar melek politik dan bersedia datang ke TPS.

Membangkitkan kesadaran berpolitik kaum golput, tentu saja bukan pekerjaan gampang. Figur calon, menjadi penentu utama apakah layak saji atau hanya sekadar ingin meramaikan Pilkada saja.

Tentu saja, bibit, bebet dan bobot si calon sangat menentukan. Kemudian, yang tidak kalah penting, adalah bersih diri dan lingkungannya. Selanjutnya, adalah bertarung dengan gagasan dan ide dalam memajukan Kota Medan.

Kondisi Kota Medan

Pertarungan pasangan calon di Pilkada 2020, boleh jadi hanya berkutat di 25 persen jumlah pemilih.

Kenapa demikian? Karena, saat ini, disadari atau tidak, pembangunan infrastruktur, khususnya jalan, sangat memprihatinkan. Jalanan kota, banyak yang rusak karena berbagai galian yang dilakukan. Konyolnya, tidak ada upaya perbaikan, mengembalikan ke kondisi semula.

Kemudian, masalah drainase yang tak becus, mengakibatkan genangan air yang melimpah di jalanan. Hal ini, sangat mengganggu kelancaran berkendaraan.

Masalah lain, terkait penanganan sampah rumah tangga yang tidak maksimal. Sampah berserakan di pinggiran jalan, karena tidak tersedianya tempat pembuangan sampah sementara. Mirisnya, berhari-hari, sampah dibiarkan dan tidak terangkut.

Kondisi ini berdampak pada munculnya sikap skeptis bahwa siapapun pemimpin terpilih, tidak akan melakukan perubahan apapun.

Kemudian, sikap apatis lainnya, adalah terkait dua wali kota yang terjerat kasus korupsi, yakni Rahudman Harahap dan Abdillah.

Kesemuanya, menjadi tantangan bagi calon wali kota di Pilkada Kota Medan 2020. Jangan hanya sebatas ingin meraih kursi Medan 1. Tetapi, yang lebih urgen, bagaimana membangkitkan kesadaran berpolitik warga di ranah kaum golput, agar tidak skeptis dan apatis, serta bersedia datang ke TPS untuk Kota Medan yang maju.

Semoga figur itu, muncul dari jutaan putra-putri Kota Medan. Kalau pun sudah ada yang merasa siap, bertarunglah sembari membangkitkan kesadaran berpolitik anak Medan.

*Ingot Simangunsong, Penulis senior GDD Sumut, Gerakan Daulat Desa

Berita terkait
Jalan ke Rumah Pimpinan KPK di Medan Mendadak Mulus
Jalan menuju rumah Lili mendadak mulus di Jalan Garu VI, Kelurahan Harjosari I, Kecamatan Medan Amplas, Medan, Sumatera Utara.
Ombus-Ombus dan Empat Jajanan Tradisional Khas Medan
Sejumlah cemilan tradisional khas Medan tak kalah enaknya dengan yang ada di daerah lain, salah satunya adalah ombus-ombus.
Kaum Marginal Dukung Pria Ini Menuju Wali Kota Medan
Bagi kelompok tani ini, Sutrisno tak ubahnya sebagai malaikat bagi rakyat petani.
0
Pengamat Sebut Gerindra Bisa Jadi Koalisi-Kritis
Apabila Gerindra bergabung ke pemerintahan Jokowi, partai tersebut bisa berperan menjadi koalisi-kritis.