UNTUK INDONESIA
Menyesap Bir Jawa, Minuman Priyayi Keraton
Di satu sudut Pasar Kangen Jogja, penjaja bir Jawa sibuk meladeni puluhan pengunjung yang mengular.
Seorang pengunjung mengabadikan minuman bir Jawa dalam kamera ponselnya. Bir Jawa dengan logo mirip merek bir ternama menjadi daya tarik pengunjung untuk memotretnya. (Foto: Tagar/ Andreas Imung)

Yogyakarta - Bir identik dengan minuman beralkohol. Namun beda dengan bir yang satu ini. Terbuat dari aneka rempah- rempah Nusantara, bir ini hasilkan ramuan yang tak kalah menggoda dan bahkan menyehatkan tubuh. Apalagi kalau bukan bir Jawa.

Di satu sudut Pasar Kangen Jogja, penjaja bir Jawa sibuk meladeni puluhan pengunjung yang mengular di stan-nya hampir tanpa jeda. Selayaknya bartender, ia mengocok ramuan rempah dalam shaker bergantian dengan temannya. Perasan jeruk nipis dan bongkahan es batu dalam shaker tak luput ia masukan.

Sejurus kemudian, ia mengangkat shaker setinggi- tingginya dan menuangkan hasil kocokannya ke dalam gelas. Buih air pun muncul dalam permukaan. Yah, bir Jawa pun siap disajikan.

Namun jangan salah, bir satu ini tak memabukan, karena tak mengandung alkohol sedikit pun. Bir ini berbahan dasar jahe, sere, secang, cengkeh, kayu manis, dan kapulogo.

Bir JawaRizki Fauzi, 25 tahun, penjual bir Jawa saat mengocok shaker berisi ramuan rempah-rempah Nusantara. Bir Jawa menjadi salah satu minuman tradisional favorit di Pasar Kangen Jogja. (Foto: Tagar/Andreas Imung)

"Kocokan es dan tambahan jeruk nipis ini yang menghasilkan buih. Kalau air hangat malah enggak bisa keluar buih," ujar Rizki Fauzi, penjual bir Jawa tersebut kepada Tagar, Jumat 19 Juli 2019.

Bir Jawa ini pertama kali muncul pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Hamengku Buwono VIII. Menurut Rizki, minuman ini dikreasikan sendiri oleh Sultan karena melihat tentara Belanda yang gemar meminum bir untuk menghangatkan badan.

Kala Kraton terikat politik dengan Pemerintah Hindia Belanda, bir Jawa menjadi suguhan yang tak tergantikan. "Politik Hindia Belanda masuk, sementara Kraton adalah kerajaan Islam. Sultan yang nonalkohol tetap ingin menghargai Belanda, karenanya ia membuat resep menyerupai bir. Tidak beralkohol tapi tetap menghangatkan," jelasnya.

Rizki mengungkapkan, dalam membuat bir Jawa ia bersama teman lamanya Dimas Putra masih mempertahankan resep asli dari Kraton. Beraneka macam rempah bahan dasar bir Jawa direbus menggunakan anglo, tungku kecil berbahan bakar arang.

Rasa manis yang dihasilkan bukanlah dari gula pasir, namun gula batu. Khusus jahe ditumbuk dan dibakar terlebih dahulu sebelum direbus. Ini dilakukan agar aroma rempahnya lebih terasa.

Bir Jawa ini menjadi salah satu stan favorit di Pasar Kangen Jogja yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta sejak Jumat pekan lalu hingga Sabtu 20 Juli 2019 malam.

Enak. Rasanya manis, rempah jahenya terasa. Dan diminumnya selagi dingin, meski begitu di badan kemudian terasa hangat

Berjualan dari pukul 15.00 WIB, bir Jawa yang dijual Rp 8.000 per gelasnya ludes dalam sekejap. Dari 10 jumbo air berukuran 10 liter, penjual hanya butuh waktu dua jam untuk menghabiskannya.

Fani Nursaaada, salah seorang pengunjung mengaku sudah berulang kali ke Pasar Kangen, namun tak pernah bosan untuk menikmati minuman ala priyayi Keraton tersebut. Apalagi minuman tersebut hanya ada setiap setahun kali kala Pasar Kangen digelar.

SonggobuwonoSonggobuwono makanan yang dikenal dengan burger Jawa. Terlihat telur rebus yang disiram saus mayones sebagai isian. Menu ini tiap isianya memiliki makna filosofi kehidupan. (Foto: Tagar/Andreas Imung)

"Enak. Rasanya manis, rempah jahenya terasa. Dan diminumnya selagi dingin, meski begitu di badan kemudian terasa hangat," ungkap perempuan berusia 24 tahun ini.

Selain bir Jawa, di stand ini juga sajikan jajanan priyayi lainnya yang tak kalah unik, yakni burger Jawa atau yang disebut Songgo Buwono seharga Rp 10.000. Ini juga merupakan menu hasil akulturasi budaya Jawa dan Eropa di masa Sultan HB VII bertahta.

Bentuknya menyerupai burger, namun Songgo Buwono terbuat dari roti sus yang berisikan selada dan rogut ayam bercampur wortel. Ada juga telur yang atasnya kemudian disiram saus mayones dan acar. Rasanya burger Jawa ini cenderung manis.

Bukan sembarang nama. Songgo Buwono memiliki makna filosofi harmonisasi kehidupan. Roti sus melambangkan bumi, sementara selada sebagai tumbuhan penyangannya. Adapun rogut dagingnya adalah masyarakat, dan saus mayones adalah langit. Kehidupan kian harmonis dengan taburan acar sebagai simbol bintang.[]

Baca juga:

Berita terkait
0
Mercedes-Benz Terbaru Rakitan Bogor Mengaspal 2020
PT Mercedes-Benz Indonesia segera meluncurkan dua model SUV terbarunya, yakni New Mercedes-Benz GLC dan GLE.