UNTUK INDONESIA
Menunggu Pagi di Kebun Tembakau Posong Temanggung
Kawasan perkebunan tembakau di Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, memiliki pemandangan yang eksotis, khususnya saat matahari terbit.
Perkebunan tembakau di kawasan Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Temanggung – Pagi masih berselimut dingin, azan Subuh pun belum juga berkumandang, namun belasan bahkan puluhan orang sudah berdiri menunggu pagi di kawasan perkebunan tembakau di Posong, Kecamatan Kledung, Temanggung, Jawa Tengah.

Arak-arakan awan hitam yang melayang di langit sesekali menutupi bayangan hitam Gunung Sumbing di kejauhan, sementara di bagian belakang, Gunung Sindoro tak kalah garang berdiri. Keduanya mengapit Posong yang berada di ketinggian sekitar 2 ribu meter dari permukaan laut (Mdpl).

Di sekeliling tempat itu dipenuhi oleh tanaman tembakau milik warga, yang juga tampak hitam dari kejauhan. Bahkan di kiri dan kanan jalan yang menuju ke Posong, sepanjang kurang lebih 3,5 kilometer hanya ada kebun tembakau.

Jam belum juga menunjukkan pukul 05.00 ketika rombongan pemudi tiba di tempat itu. Jalanan menanjak, curam, dan berbatu, sepanjang 3,5 kilometer tidak menyurutkan niat mereka untuk menuju tempat itu.

Mereka bercanda di situ, saling memotret, berswafoto, lalu kembali diam dan menunggu matahari pagi tiba. Mereka cukup sabar menunggu pagi tiba, walau mungkin tak sebanding dengan kesabaran mereka menanti kehadiran sang kekasih hati.

Cerita Kebun Tembakau Posong (2)Sejumlah pengunjung berpose di kawasan perkebunan tembakau Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Minggu, 13 September 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Waktu terus berlalu. Menit demi menit berganti, hingga akhirnya awan-awan hitam yang tadi berarak perlahan menghilang, berganti dengan pendar putih tipis kabut yang melayang-layang.

Langit yang kelam pun sedikit demi sedikit mulai membiru, berpadu dengan munculnya cahaya keemasan dari sebelah timur, tepat di sebelah utara puncak Gunung Sumbing.

Pucuk-pucuk daun tembakau yang beberapa saat lalu hanya tampak hitam, kini terlihat hijau dan berkilauan tertimpa sinar matahari pagi yang muncul perlahan.

Penantian mereka tidak sia-sia. Rombongan demi rombongan, orang per orang kembali mengambil posisi untuk saling memotret dengan latar belakang matahari terbit dan puncak Gunung Sumbing. Dari kejauhan, tubuh mereka tampak berbentuk siluet.

Jalur Ekstrem Berbatu

Seorang gadis berbibir mungil dan hidung tidak terlalu mancung, yang mengaku bernama Rere, 22 tahun, mengatakan, dia datang bersama teman-temannya. Mereka berangkat sebelum pukul 04.00 WIB dari rumah rekannya di kawasan Kecamatan Parakan, Temanggung.

Gadis asal Semarang ini mengatakakan sejak beberapa waktu lalu dia mendengar tentang keindahan sunrise atau matahari terbit di kawasan Posong itu, tapi baru hari itu, Minggu, 13 September 2020, dia bisa mewujudkan keinginannya menyaksikan sunrise dari kawasan perkebunan tembakau tersebut.

Sebenernya udah sejak tiga bulan lalu mau ke sini, tapi nggak sempat-sempat. Ini kebetulan pas ke rumah teman di Parakan, jadi sekalian aja langsung ke sini,” kata dia.

Rere mengaku sering mengejar sunrise, tapi matahari terbit di Posong menjadi sesuatu yang berbeda, sebab selain menyaksikan matahari terbit dengan pemandangan gunung di sekelilingnya, hijaunya perkebunan tembakau menjadi keindahan tersendiri.

Cerita Kebun Tembakau Posong (3)Pengunjung berpose dengan latar belakang Guunung Sumbing, di kawasan kebun tembakau di Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Minggu, 13 September 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Hanya saja dia mengeluhkan akses jalan menuju Posong yang berbatu dan terjal. Menurutnya itu sangat mengganggu dan cukup berbahaya, khususnya untuk orang-orang yang tidak terbiasa mengendarai sepeda motor di jalur ekstrem seperti itu.

Menurut aku sih cukup berbahaya, Mas. Untungnya aku terbiasa bawa motor di medan yang lumayan ekstrem.

Ruas jalan menuju Posong memang cukup curam, sehingga saat turun dari puncak pengendara sepeda motor harus rajin menekan tuas rem, khususnya untuk sepeda motor jenis matik. Risiko yang bisa terjadi adalah rem menjadi blong akibat terlalu panas, khususnya rem jenis cakram yang menggunakan minyak rem sebagai penekan.

Hal itu rupanya disadari oleh warga setempat. Mereka mendirikan semacam pos di salah satu titik, yang dinilai sebagai jalur paling curam, dan menyiramkan air dingin ke cakram rem sepeda motor pengunjung agar menjadi lebih dingin.

“Kalau nggak disiram biasanya remnya ngeblong. Sebaiknya berhenti dulu sampai remnya kembali dingin,” kata seorang warga menggunakan bahasa Jawa, seusai menyiramkan air.

Berdayakan Warga

Posong mulai banyak dikunjungi sebagai obyek wisata di Temanggung sejak tahun 2011, tapi waktu itu belum ada fasilitas yang bisa dinikmati oleh pengunjung. Mereka datang hanya sekadar menikmati matahari terbit.

Seorang warga setempat, Haryanto, 45 tahun, yang juga merupakan salah satu pengelola obyek wisata Posong, menjelaskan, keindahan tempat di lereng Gunung Sindoro itu bukan hanya pada matahari terbitnya saja, tetapi juga alam sekitarnya.

Cerita Kebun Tembakau Posong (4)Warung milik warga di kawasan perkebunan tembakau Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Minggu, 13 September 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“ Itu pertama sunrise, ketika saya lihat di ereng-ereng (lereng) Gunung Sindoro, tepatnya di Posong itu ada sesuatu yang sangat luar biasa. Banyak orang yang berkunjung ke posong saat itu, tapi belum ada fasilitas untuk tamu agar bisa bersantai,” kata dia.

Menyadari adanya potensi yang bisa dikelola, Haryanto kemudian mengadakan rapat dengan pemuda setempat. Mereka meminta izin pada pemerintah desa dan pemerintah daerah setempat untuk mengembangkan Posong menjadi obyek wisata.

“Kami buat pengembangan obyek wisata yang ada di Posong, yaitu Taman Posong yang kita kelola mulai tahun 2017.”

Haryanto mengakui, akses jalan yang masih terdiri dari tanah berbatu merupakan salah satu kendala terbesar. Menurutnya jalan itu sebetulnya merupakan jalur usaha tani (JUT), yang dimanfaatkan untuk jalur akses menuju Posong.

Meski menjadi kendala terbesar, tapi warga dan pengelola belum berniat untuk merenovasi atau membuat jalur akses baru menuju Posong. Hal itu sesuai dengan arahan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo yang berkunjung ke Posong beberapa waktu lalu.

“Ada masukan dari Pak Ganjar selaku Gubernur Jawa Tengah, bagusnya tetap pakai jalan batu karena dengan batuan itu penyerapan airnya masih bagus. Di sini kan warga adalah petani, ketika penyerapan air kurang, itu akan berdampak pada petani juga,” kata Haryanto menegaskan.

Saat ini warga mematok tiket masuk ke Taman Posong dan Posong seharga Rp 20 ribu per orang, sementara tarif parkir sepeda motor sebesar Rp 3 ribu per unit, dan tarif parkir mobil sebesar Rp 5 ribu.

Saat ini pengendara mobil tidak diperkenankan mengendarai mobilnya hingga ke puncak, sebab sudah memasuki musim panen tembakau, dan sebagai JUT, jalur itu lebih diutamakan untuk para petani tembakau.

“Saat ini musim panen, dengan kendala akses, jadi mobil kita sarankan parkir di bawah dan naiknya pakai ojek. Untuk ojek naik Rp 20 ribu, turunnya Rp 15 ribu. Jadi kalau PP Rp35 ribu,” ucapnya.

Cerita Kebun Tembakau Posong (5)Matahari terbit saat dilihat dari kawasan perkebunan tembakau Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Minggu, 13 September 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Untuk memudahkan pengunjung yang merasa lapar atau ingin ngemil, pengelola memberdayakan warga sekitar, khususnya kaum wanita untuk membuka warung di kawasan Posong.

Di Taman Posong ada sekitar 10 warung, demikian pula dengan di Posong, sehingga totalnya ada sekitar 20 warung milik warga setempat.

Pengelola juga menyiapkan lokasi berkemah atau camping ground. Mereka memiliki beberapa paket camping untuk pengunjung, mulai dari paket biasa hingga paket full service.

“Ada beberapa paket, minimal 10 orang. Untuk paket biasa Rp 600 ribu, kadang tenda mereka bawa sendiri, kita hanya kasih fasilitas tempat untuk segala sesuatunya dari kami. Paket ekonomi kami siapkan tenda, kasur, sleeping bag, satu orangya 80 ribu atau satu paket Rp 800 ribu. Tetap minimal 10 orang, kalau datang 8 orang tetap bayarnya Rp800 ribu, sudah include tiket masuk dll,” ujarnya.

Sedangkan untuk paket full service, per paketnya dibanderol dengan harga Rp1,5 juta. Di dalamnya sudah termasuk makan, minum, snack, api unggun yang disiapkan oleh pengelola, hingga bakar jagung. []

Berita terkait
Kapal Rp 2 Miliar dan Ritual Pembuatnya di Bulukumba
Warga Kelurahan Tanah Beru, Kecamatan Bontobahari, Bulukumba, dikenal sebagai pembuat pinisi. Ada ritual khusus yang dilakukan dalam prosesnya.
Mantan Nakhoda Ubah Sekapuk Jadi Desa Miliarder (3)
Pemerintah Desa Sekapuk, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik menggunakan mobil mewah sebagai kendaraan operasional.
Suara Misterius di Jalur Gunung Lompo Battang Gowa
Seorang anggota Polres Bantaeng mengisahkan pengalaman pertamanya mendaki Gunung Lompo Battang, Kabupaten Gowa. Dia mengalami kejadian aneh.
0
Cuti Bersama, Protokol Kesehatan di Bukittinggi Makin Ketat
Kota Bukittinggi sebagai daerah tujuan wisata utama di Sumatera Barat akan berlakukan protokol kesehatan ketat di objek wisata.