UNTUK INDONESIA
Mantan Nakhoda Ubah Sekapuk Jadi Desa Miliarder (3)
Pemerintah Desa Sekapuk, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik menggunakan mobil mewah sebagai kendaraan operasional.
Salah satu candi yang ada di kawasan wisata Desa Sekapuk, Gresik, Jawa Timur, Selo Tirto Giri. (Foto: Tagar/Dok Desa Sekapuk)

Jakarta – Puncak salah satu candi di taman wisata alam buatan di Desa Sekapuk, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, terlihat gagah menjulang. Sekilas sangat mirip dengan candi-candi kuno yang ada di Jawa Timur.

Suasana temaram membuat candi itu terlihat semakin eksotis. Awan-awan yang beriringan di atasnya menjadi hiasan tambahan di lokasi tersebut.

Candi itu hanya satu dari sekian banyak obyek yang bisa dinikmati di kawasan wisata Selo Tirto Giri (Setigi), Desa Sekapuk. Obyek wisata itu dulunya hanya merupakan lokasi tambang batu kapur, yang kemudian dijadikan tempat pembuangan sampah.

Tangan dingin dan inovasi sang kepala desa, Abdul Halim, mengubahnya menjadi lokasi wisata, yang seluruhnya merupakan buatan, mulai dari hutan wisata berisi ratusan pohon bunga, patung, candi, hingga miniatur Masjid Persia.

“Ada patung Gupala, Nogogiri Pancoran, itu menjelaskan bahwa sebelum Indonesia ada sebuah kerajaan yang jaya. Ada miniatur Masjid Persia untuk mengingatkan kebangkitan Indonesia dulu melawan setelah ada dukungan dari pedagang-pedagang Persia,” kata Abdul Halim saat diwawancara secara daring oleh Fetra Tumanggor, Pemimpin Redaksi Tagar.

Abdul Halim menjelaskan, pihaknya membuat 67 topeng candi dari 34 provindi di Indonesia. Seluruhnya terbuat dari pahatan batu kapur yang ditata sedemikian rupa. Dia menyebut candi-candi itu sebagai candi termuda di dunia, yang saat ini progres pengerjaannya baru mencapai 80 persen.

Di lokasi itu juga dibangun danau buatan di bekas tempat pembuangan sampah. Di atasnya ada jembatan berkapasitas enam ton, yang tidak akan roboh meski ada 200 orang di atasnya.

Tujuannya agar pengunjung bisa selfie bersama, meskipun 200 orang tetap kuat, tidak ambruk. Di situ juga ada rumah apung, rumah adat, taman dan air terjun, permainan wahana air.

Berdayakan Semua Sektor

Abdul Halim menuturkan, pada awal dirinya berniat membangun kawasan wisata, tidak semua warga setuju. Sebab warga Desa Sekapuk memiliki profesi yang beragam, termasuk peternak dan petani atau pekebun.

Cerita Desa Sekapuk (2)Suasana di salah satu candi yang berada di obyek wisata Selo Tirto Giri, Desa Sekapuk, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. (Foto: Tagar/Dok Desa Sekapuk)

Olehnya itu, selain wisata buatan tersebut, Abdul Hakim sudah merancang hal-hal yang akan dilakukan untuk warganya. Tapi, semua sektor akan bermuara pada bidang pariwisata.

Untuk sektor pertanian, misalnya, pihak pemerintah desa telah menyiapkan lahan seluas 2,3 hektar yang akan dijadikan agrowisata. Sifatnya memberi edukasi pertanian modern, edukasi peternakan, sekaligus untuk penggemukan.

“Jadi ada perikanan air tawar, kita buatkan kolam pemancingan dan sungai buatan. Edukasi peternakan, di situ nanti sekaligus penggemukan sapi dan kambing. Kemudian edukasi perkebunan, sudah kami tanam 500 lebih durian, 200 lebih manggis, serta beberapa jenis tanaman produktif lainnya,” kata Abdul Halim.

Di situ juga ada budidaya tanaman liar seperti ceplukan dan bunga telang. Bunga telang ini, lanjut Halim, nantinya akan dijadikan minuman. Semua kekayaan alam dan kegiatan ini sudah dilakukan oleh orang-orang tua dulu, jauh sebelum dirinya menjabat sebagai kepala desa.

“Kalau menggembala kambing, ceplukan dimakan supaya tenggorokan tidak kering. Makan ceplukan sambil menggembala kambing. Kami dulu begitu.”

Begitu juga dengan bunga telang. Biasanya digunakan sebagai pewarna makanan, atau dijadikan minuman.

PIhaknya juga akan memberikan pembinaan pada pelaku sektor pertanian dan perkebunan. Sebab tanah di situ tidak produktif, yakni tanah tadah hujan. Para petani mengandalkan hujan sebagai sumber air. Tapi, dulu, di sisi lain, warga sedih saat musim hujan karena menjadi langganan banjir.

“Banjirnya kenapa? Karena tanah sudah dipaving, diplester pakai semen, sehingga poripori tanah tertutup semua. Ketika hujan, airnya lari kencang, tidak diserap oleh tanah. Hal-hal itu kita tuntaskan di tahun pertama. Saya bikin 1.200 biopori, saya bikin sumur inject untuk menginject bawah tanah,” ujar Halim yang mengaku pernah bekerja sebagai anak buah kapal di Dafao, Filipina Selatan.

Rencananya ke depan semua potensi desa akan digali, selama berpotensi menjadi mesin pencetak uang. Salah satunya adalah peluncuran kolam renang dan pemandian hijaber pada tahun 2021.

Selanjutnya peluncuran agrowisata kebun di Painggi pada tahun 2022. Juga pembangunan sumber daya manusia (SDM). Sebab sekaya apa pun desa jika SDM tidak mumpuni, maka akan merusak kejayaan. Salah satu pembangunan SDM yang sudah berjalan adalah beasiswa untuk anak yatim dan penghapal Quran.

Cerita Desa Sekapuk Greik (1)Abdul Halim, Kepala Desa Sekapuk, Gresik, Jawa Timur. (Foto: Tagar)

“Jadi kita yang penting KTP Sekapuk dulu kita tuntaskan. Jadi nanti 2021 saya buka wahana kolam renang hijaber, kita butuh lapangan kerja, kalau anak sma ini kuliah semua, otomatis kita akan buka untuk wilayah sekecamatan dengan kami. Kita amankan dulu di sekitar kita, supaya semuanya mendapatkan manfaat dari perubahan kondisi ini.”

Mobil Mewah untuk Operasional

Itu semua bisa terwujud bukan tanpa perjuangan. Abdul Halim menegaskan bahwa sejak awal menjabat hingga saat ini, dirinya dan perangkat desa bisa dibilang tidak pernah libur. Yang ada hanya waktu senggang, yakni pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis. “Senin padat, Jumat, Sabtu, Minggu, lebih-lebih.”

Kerja keras mereka dinilai sangat pantas untuk diapresiasi, termasuk dengan memberikan kendaraan dinas. Saat ini, Badan Usaha Milik Desa (bumdes) diberi kendaraan dinas jenis Expander. Sebab, kata Halim, mereka mengurusi banyak hal.

“Kemudian PKK punya Nissan matic, layak. Karena PKK juga punya uang. PKK menghasilkan Rp 1,9 miliar, itu tidak sedikit. Sekelas mainan tepung dan gula dipakai membuat kue setiap hari, mereka menghasilkan Rp 160 juta per bulan. Rp 1,9 miliar per tahun. Kenapa mereka nggak punya hak untuk sekelas Nissan? Itu bukan untuk pribadi mereka tetapi untuk organisasi.”

Begitu juga dengan pemerintah desa, yang mendapatkan mobil dinas berupa Toyota Alphard. Dia menganalogikan hal itu dengan penangkapan perampok besar oleh polisi.

Setelah penangkapan, biasanya polisi melakukan gelar perkara sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kerja keras mereka mengintai dan melakukan penangkapan tersebut.

“Sama juga yang saya lakukan di sesa. Selama 2,5 tahun kerja keras, saya nggak kenal libur, desa ini tertinggal, dari yang tidak punya tunjangan sampai punya tunjangan, saya membawahi bumdes dari gaji Rp 400 ribu bisa menjadi Rp 4,2 juta. Kemudian PKK yang dulu tidak ada hitungan angkanya sekarang bergaji Rp 700 ribu, kemudian karyawan-karyawan yang di bumdes awalnya hanya swadaya sekarang bergaji Rp 2,5 juta,” kata pria yang mengaku pernah jadi nakhoda di kapal penumpang selama 7 tahun 5 bulan.

Mobil dinas yang digunakan sebagai kendaraan operasional itu juga merupakan upaya Halim membantu pemerintah provinsi, khususnya dalam penerimaan pajak.

Pria yang mengaku pernah menjadi pedagang ini menambahkan, pembelian mobil Alphard sebagai kendaraan dinas sekaligus untuk penyemangat desa lain. Apalagi selama ini kendaraan dinas untuk kepala desa adalah sepeda motor tua, yang jika itu adalah manusia, sudah bisa dinikahkan.

Desa SekapukSuasana Desa Sekapuk di Kabupaten Gerik yang dulunya dipandang sebelah mata oleh pemerintah, kini justru menjadi desa mandiri. (Foto: Dok. Kepala Desa Abdul Halim)

“Kalau dihitung-hitung sudah terlalu tua. Seandainya manusia sudah layak dinikahkan atau sudah punya anak. Jadi teman-teman kepala desa tidak usah berkecil hati. Kita bisa mengubah, jangankan roda empat biasa, sekelas Alphard saja kita bisa.”

Saat ditanya tentang teguran bupati terkait kendaraan operasionalnya, Abdul Halim mengatakkan dirinya berharap bupati sudah tahu bahwa pemerintah desanya menggunakan mobil mewah sebagai kendaraan operasional.

“Belum ada teguran (dari bupati). Justru kalau ada teguran itu perlu dipertanyakan, perlu diperdebatkan. Kenapa? Sumber dananya itu apa dulu? Kalau memang sumber dananya cari sendiri, kenapa salah? Seorang individu di Indonesia saja punya hak beli Ferrari. Ini individu. Kenapa? Karena dia membeli sendiri, dan desa itu lembaga terkecil pemerintah, harusnya menjadi penyemangat,” ucapnya.

Sebagai lembaga pemerintahan, lanjut Halim, semuanya sudah tertata, termasuk anggaran. Apalagi semua alokasi anggaran sudah dirapatkan dalam musyawarah desa, yang di dalamnya ada unsur tokoh masyarakat, pemuda, dan beberapa unsur lain.

“Yang dilakukan Sekapuk sesuai regulasi. Saya belanja dengan uang PADes bukan melalui APBD dan DD (dana desa). Jadi semua itu saya rasa tidak ada masalah justru menjadi penyemangat seandainya kepala daerah tahu hal ini. Saya berharap sudah tahu. Paling tidak mereka mengimbau silakan desa lain studi banding ke Sekapuk. Daerah akan kuat kalau desanya kuat. BUMD juga begitu, akan kuat ketika bumdesnya kuat.” (Selesai) []

Berita terkait
Mantan Nakhoda Ubah Sekapuk Jadi Desa Miliarder (2)
Tidak mudah bagi Abdul Halim, seorang mantan nakhoda kapal yang menjabat sebagai Kepala Desa Sekapuk, Gresik, untuk mewujudkan impiannya.
Mantan Nakhoda Ubah Sekapuk Jadi Desa Miliarder (1)
Abdul Halim, seorang mantan nakhoda kapal yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Sekapuk, Gresik, berhasil mengubah wajah desanya.
Cara ASN DPRD Bantaeng Menambah Penghasilan
Seorang aparatur sipil negara di Kantor Sekretariat DPRD Bantaeng membuka usaha samppingan sebagai pedagang arloji dan parfum.
0
Mantan Nakhoda Ubah Sekapuk Jadi Desa Miliarder (3)
Pemerintah Desa Sekapuk, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik menggunakan mobil mewah sebagai kendaraan operasional.