Makassar, (Tagar 9/3/2019) - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menyebutkan kenaikan harga suatu komoditas pangan di suatu wilayah kemudian dibenarkan hingga seluruh pasar di Indonesia merupakan pernyataan yang tidak terukur.

Menurut Amran, patokan harga tidak mewakili seluruh pasar. "Jangan begini, menggunakan perasaan, kalau 5 kilogram mahal, kemudian langsung mewakili seluruh Indonesia. Ini yang tidak adil," jelas Amran dalam kunjungan kerjanya di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (9/3).

Amran melanjutkan, ukuran harga naik-turun atau stabil suatu barang adalah inflasi. Jika inflasi aman, Amran menilai harga komoditas ikut aman.

"Sekarang cabai selesai, bawang merah selesai. Insyallah beras aman kemudian jagung juga sudah kita ekspor dan kemudian juga kambing, domba kita sudah ekspor ke Malaysia. Kita menggantikan posisi Australia," ungkap Amran.

Amran mengimbau kepada masyarakat agar tidak terlalu mencemaskan suplai beragam kebutuhan pokok di pasar-pasar jelang Ramadan 2019. Amran menegaskan stok pangan dipastikan aman menyambut bulan puasa."Insyallah aman. Kita sudah dua tahun ini aman. Dan itu terukur," urainya.

Pemeritah Provinsi Sulsel sendiri awalnya menargetkan, pangan khususnya beras dapat terserap naik oleh Bulog. Dari yang awalnya hanya 10 persen menjadi di atas 15 persen.

Sejauh ini, Sulsel menyuplai kebutuhan beras di 27 provinsi di Indonesia. Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengaku, akan terus mendorong serapan Bulog menjadi lebih besar.

"Untuk Sulsel juga akan melakukan upaya mengadakan stok periode Februari sampai dengan Mei ada 500 ribu hektare, akan dipanen 1 juta ton," pungkas Nurdin beberapa waktu lalu.

Baca juga: Komite Pedagang Pasar: Jokowi Stabilkan Harga dan Bangkitkan Kedaulatan Pangan