UNTUK INDONESIA
Menikmati Wisata Air Goa Sigalapang di Sudut Tobasa
Aliran sungai yang tenang dan gelap ini juga sangat panjang, sekitar 100 sampai 150 meter hingga lokasi ini menyerupai gua.
Pengunjung di lokasi wisata Goa Sigalapang, Tobasa, Sumatera Utara. (Foto: Tagar/Alex)

Tobasa - Lokasinya berdekatan dengan perbatasan tiga kabupaten sekaligus, Kabupaten Tobasa, Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labuhan Batu Utara, Sumatera Utara.

Dibuka untuk umum sejak Hari Raya Idul Fitri lalu, sehari-hari lokasi ini ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.

Sebut saja Kisaran, Pematangsiantar, Tebingtinggi hingga Medan. Hanya sebatas sungai dengan volume air yang cukup besar, namun di sungai ini terdapat dua spot green canyon yang sangat menarik.

Dari arah hulu, aliran sungai ini mengalir sangat tenang dengan kedalaman lima hingga tujuh meter. Lebarnya bervariasi, ada yang dua meter, di beberapa titik ada juga sampai empat meter.

Di samping kiri dan kanan, terdapat dinding batu berlumut dan nyaris berwarna hitam hingga setinggi belasan meter, dan di bagian atas ditumbuhi pepohonan yang membuat aliran sungai ini tampak gelap dan hanya disinari terik saat pukul 12 siang. 

Aliran sungai yang tenang dan gelap ini juga sangat panjang, sekitar 100 sampai 150 meter hingga lokasi ini menyerupai gua.

Di bagian bawah, aliran sungai mulai melebar hingga seperti telaga dan dangkal. Pengelola membuat titik itu menjadi arena bermain air untuk anak-anak dengan berbagai variasi pelampung. Titik itu juga menjadi pintu masuk bagi para pengunjung yang ingin menelusuri aliran sungai ke bagian hulu.

Dengan menggunakan rakit yang terbuat dari bambu dan disokong oleh ban mobil berukuran besar sebagai pelampung rakit, serta perahu karet yang disediakan oleh pengelola, para pengunjung cukup membayar Rp 10.000 per orang untuk menyewa jasa guide dan juga sewa rakit yang tersedia. Biasanya, setiap guide mampu membawa lima hingga tujuh pengunjung sekaligus.

Goa SigalapangPengunjung di lokasi wisata Goa Sigalapang, Tobasa, Sumatera Utara. (Foto: Tagar/Alex)

Meski harus merogoh kocek 'semahal' itu, para pengunjung selalu bermurah hati memberi dan tidak merasa kecewa, sebab tidak hanya menyusuri sungai dengan rakit, namun di hulu sungai juga terdapat air terjun yang sangat eksotis. Inilah yang menjadi 'buruan' utama para pengunjung datang ke lokasi ini.

Jatuh dari tepi sungai berdinding batu dengan ketinggian 10 meter, air terjun ini persis membelah aliran sungai. Debit airnya tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil. 

Biasanya, para guide yang membawa pengunjung menyusuri sungai dengan rakit selalu menjadikan air terjun ini sebagai puncak perjalanan wisata para pengunjung.

Perahu karet atau rakit bambu yang didayung oleh guide akan melewati deburan air terjun ini, bahkan jika pengunjung tidak terlalu membeludak, para guide selalu berbaik hati untuk menghentikan rakitnya persis di bawah deburan air terjun hingga para pengunjung berteriak histeris untuk memuaskan klimaks perjalanannya.

"Keren sekali, enggak usah 10 ribu, 20 ribu pun saya enggak akan nyesal. Karena memang sangat-sangat luar biasa. Saya belum pernah menemukan yang seperti ini di Sumatera Utara, baru kali ini. Padahal saya termasuk orang yang suka menjelajah alam sejak mahasiswa," ujar Andika Butarbutar, pria berusia 29 tahun, yang mengaku baru pertama kali mengunjungi lokasi ini, Kamis 5 September 2019 lalu.

"Airnya bersih, tenang, dalam. Aliran sungai yang dihiasi green canyon-nya juga sangat panjang. Enggak nyesallah jauh-jauh datang ke sini," lanjut Andika yang mengaku datang dari Porsea, sekitar dua jam jarak tempuh dari lokasi ini.

Kepuasan menikmati wisata alam tersembunyi ini juga disampaikan oleh Rifandy Lubis, rekan Andika Butarbutar. Menurut Rifandy, lokasi tersebut sangat luar biasa. 

"Enggak tahu mau bilang apa. Luar biasa. Keselamatan pengunjung juga terjamin dengan ketersediaan life jacket kepada setiap pengunjung," sebutnya, menggambarkan lokasi tersebut.

Robinson Sarumpaet, 36 tahun, salah seorang pengelola mengatakan, konsep wisata yang mereka tawarkan adalah wisata alam, khususnya wisata air.

"Jadi yang kita tawarkan kepada pengunjung adalah green canyon dan air terjunnya. Bukan sekadar berswafoto," ujarnya.

Menurut Robinson, pengelolaan wisata di tempat ini sepenuhnya dipegang oleh masyarakat sekitar dalam bentuk kelompok. 

Jadi lokasi green canyon ada dua, satu di bagian hulu dan yang satu di bagian hilir

"Jadi kita bentuk kelompok, para anggota kelompok kita bagi pekerjaan mulai dari parkir, jualan, sewa pelampung hingga menjadi guide bagi pengunjung menuju air terjun di hulu sungai," kata Robinson.

Masuk ke lokasi ini para pengunjung harus membayar karcis masuk sebesar Rp 5.000 per orang tanpa membayar biaya parkir tambahan.

"Sumber penghasilan anggota kelompok hanya uang masuk, sewa pelampung, jasa guide dan jualan," lanjutnya sembari menambahkan jika mereka juga menyediakan toilet bagi para pengunjung.

Goa SigalapangPengunjung di lokasi wisata Goa Sigalapang, Tobasa, Sumatera Utara. (Foto: Tagar/Alex)

Selain green canyon di bagian hulu sungai, pengelola juga membuka bagian hilir sungai yang juga dihiasi green canyon yang lebih eksotis. Aliran sungainya tidak begitu dalam namun lebih lebar dari lokasi yang berada di hulu sungai.

Namun, di bagian hilir sungai ini tidak terdapat air terjun seperti yang ada di bagian hulu sungai. 

"Jadi lokasi green canyon ada dua, satu di bagian hulu dan yang satu di bagian hilir. Tapi di bagian hilir tidak ada air terjun, tapi alirannya lebih panjang lagi," ujar Robinson.

Oleh pengelola, lokasi wisata ini dinamai Goa Sigalapang. Sigalapang adalah nama lokasi tersebut, sementara nama Goa diambil karena aliran sungai menyerupai gua. 

"Inikan seperti gua, makanya kita sebut Goa Sigalapang," sebut Robinson menambah asal muasal nama tempat wisata itu.

Menurut Robinson, lokasi pemandian ini sebenarnya cukup dekat dengan pemukiman masyarakat, namun selama ini masyarakat sekitar tidak menyadari jika lokasi itu bisa menarik wisatawan dan meningkatkan perekonomian.

Hingga pada suatu saat beberapa teman memintanya untuk menjadikan itu sebagai lokasi wisata. 

"Awalnya terlihat seram. Tapi kawan-kawan menawarkan agar ini kita buka, akhirnya kita kerjakan dengan membentuk kelompok," sebutnya.

Butuh waktu hingga dua minggu untuk mereka membersihkan lokasi itu. Mulai dari perbaikan jalan, pembersihan lokasi hingga mendirikan toilet dan beberapa warung untuk berjualan. 

Awalnya masyarakat tidak mengira jika kunjungan wisatawan ke lokasi itu akan membeludak, sebab lokasi itu terbilang jauh dari keramaian. Belum lagi beberapa titik jalan menuju lokasi masih berbatu dan cukup rusak.

Namun saat ini penghasilan masyarakat dari lokasi itu sudah terbilang lumayan, sebab jika akhir pekan pengunjung bisa ramai hingga 1.500 orang per hari. Terkadang para pengunjung bahkan tidak kebagian waktu untuk mengunjungi air terjun yang ada di lokasi.

"Kita registrasi dulu pengunjung yang mau ke atas untuk melihat air terjun, kadang kalau akhir pekan atau hari libur, giude kita enggak sanggup membawa pengunjung ke atas," sebut Robinson menambahkan situasi lokasi jika hari libur.

"Ya mereka kadang kecewa, tapi mau bagaimana lagi," ujarnya.

Lokasi wisata ini berada di Desa Meranti Timur, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara, Goa Sigalapang dapat ditempuh dari dua pintu masuk berbeda. 

Pintu masuk pertama bagi pengunjung yang berasal dari Tapanuli dapat dilalui dari Kota Porsea, Kabupaten Tobasa melalui PLTA Inalum di Siguragura,

Sementara pintu masuk bagi pengunjung yang berasal dari Kabupaten Asahan atau Kabupaten Labuhan Batu dapat ditempuh melalui rute lain, yakni lewat Simpang Pabrik Kelapa Sawit di Pulo Raja, Kabupaten Asahan.

Sayangnya, tidak ada kendaraan umum menuju lokasi pemandian Goa Sigalapang. Butuh waktu dua jam menuju lokasi ini jika ditempuh dari Kota Porsea dengan kendaraan pribadi, atau tiga jam dari Bandara Internasional Silangit. 

Sementara jika ditempuh dari Kota Kisaran juga butuh waktu hingga tiga jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi, atau sekitar dua jam perjalanan dari Aek Kanopan, ibu kota Kabupaten Labuhan Batu Utara.[]

Berita terkait
Menelusuri Panorama Gua Sarang di Sabang
Pulau yang letaknya di paling ujung barat Indonesia, pulau Sabang, benar-benar surganya destinasi wisata, salah satunya gua Sarang.
Desainer Wignyo Rahadi Kembangkan Ulos Harungguan
Ulos Harungguan disebut sebagai "Raja Ulos" di Tanah Tapanuli, karena di masa lampau hanya dipakai oleh Raja dan kalangan terpandang.
Penyadapan Pinus di Tobasa Ancam Ekosistem Danau Toba
Dolok Tolong adalah hutan pinus yang selama ini menjadi salah satu daerah tangkapan air Danau Toba.
0
Bunuh Sales, Pasutri di Surabaya Diancam Hukuman Mati
Pasutri dan tiga rekannya terancam hukuman penjara seumur hidup dan hukuman mati setelah melakukan pembunuhan berencana.