UNTUK INDONESIA
Mengusir Buta Aksara di Pesisir Utara Tangerang
Seorang pemuda Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, di sebelah utara Kabupaten Tangerang mendirikan taman baca di pinggir laut di kampungnya.
Gelaran buku dari TBM Samudera Baca Di bibir laut Surya Bahari. (Foto: Tagar/Mauladi Fachrian/ Dok TBM Samudera Baca).

Tangerang – Aroma amis khas daerah pesisir tercium di sekitar dermaga Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, di sebelah utara Kabupaten Tangerang. Angin yang bertiup cukup kencang sesekali mengusir aroma itu.

Cuaca sore itu, Jumat, 4 September 2020 cukup cerah. Pauan warna langit Nampak serasi dengan birunya laut, menemani beberapa perahu nelayan yang tertambat di sekitar dermaga. Ombak cukup tenang dan bersahabat.

Sejumlah nelayan dan beberapa warga terlihat beraktivitas, layaknya perkampungan di kawasan pesisir, beberapa dari mereka mengandalkan laut sebagai tempat mencari nafkah.

Pasar pelelangan ikan yang terletak tidak jauh dari lokasi itu juga terlihat cukup ramai. Nelayan yang sehari-harinya bergelut dengan ombak dan tak jarang bertaruh nyawa di lautan lepas, menjual hasil tangkapan mereka di tempat pelelangan tersebut.

Angin nakal kembali berembus, meniup rambut seorang pemuda gondrong yang sedang asyik memainkan ponselnya. Rambutnya yang terkibas oleh embus angin laut seperti tak dihiraukan.

Pemuda itu duduk di belakang puluhan buku yang digelar dan tertata rapi, hanya beberapa puluh sentimeter dari bibir dermaga.

Taman Baca di Pinggir Laut

Pemuda dan beberapa rekannya tersebut adalah warga desa setempat. Mereka merupakan pegiat literasi yang terpanggil untuk turut meningkatkan kualitas pendidikan di desanya, dengan mendirikan Taman Baca Masyarakat (TBM) Samudera Baca Surya Bahari.

Cerita Taman Baca di Pesisir Tangerang 2Antusias warga menyambangi TBM Samudera Baca di tepi laut Surya Bahari. (Foto: Tagar/Mauladi Fachrian/Dok TBM Samudera Baca).

Renaldiansyah, pencetus taman baca tersebut mengatakan, di desanya sudah ada beberapa sekolah yang berdiri. Namun itu belum mampu menjamin masyarakat di desanya bebas dari buta aksara. Melalui TBM, Renal dan rekan coba melakukan perubahan.

"Di negeri ini, semangat digitalisasi terus dikampanyekan. Tapi di sini, untuk membaca saja masih sangat minim, kualitasnya rendah" ujar Renal kepada Tagar, Jumat 4 September 2020.

Meski demikian, dia mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Tangerang yang mampu memberikan pendidikan sampai ke desanya yang terbilang jauh dari hingar bingar perkotaan.

Tapi sayangnya, fasilitas pendidikan itu tidak menjamin kualitas baca pada anak-anak, khususnya di tingkat Sekolah Dasar (SD). Bangku sekolah, kata dia, tidak cukup untuk anak-anak.

Idealnya, menurut Renal, anak-anak harus memiliki waktu belajar kembali di rumahnya. Tapi sayangnya, ketika di rumah, sebagian besar orang tua mereka yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan, tidak mampu mengajari anaknya untuk membaca.

Bagaimana mau mengajarkan membaca, maaf, rata-rata orang tua di sini juga minim kualitas membacanya. Tapi kiranya engga ada yang bisa disalahkan selain menutupi kekurangan para orang tua di sini.

Renal menambahkan, menurutnya kualitas dan minat baca yang rendah bukan hanya terjadi di desanya saja. Tapi juga Indonesia.

"Menurut data koordinator bidang pembangunan dan kebudayaan, rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku sebanyak tiga sampai empat kali selama seminggu, dengan menghabiskan waktu 30-60 menit per hari. jumlah buku yang ditamatkan pun hanya 5 sampai 9 buku per tahun. Ini sangat rendah," kata dia lagi.

Minat baca tersebut, menurut Renal sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Hidup di lingkungan yang mayoritas tidak suka membaca, akan membuat anak-anak terpengaruh. Mereka seperti terhalang tembok yang tinggi untuk membiasakan diri membaca.

"Tapi jika sebaliknya, bisa jadi para nelayan di masa depan dahaganya tidak akan hilang sebelum membaca buku setelah pulang berlayar," ujarnya.

Cerita Taman Baca di Pesisir TangerangTBM Samudera Baca saat menggelar aktivitas di sekitaran rumah warga Desa Surya Bahari. (Foto: Tagar/Mauladi Fachrian/TBM Samudera Baca).

Renal termasuk salah satu orang yang beruntung di desanya. Renal lahir dari kalangan keluarga yang cukup mampu. Hal itu membuat pemuda bertubuh kurus ini bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Tangerang.

Namun sebagai putra daerah, Renal ingin melakukan perubahan di desanya. Dia ingin Surya Bahari tidak hanya dikenal dengan pelelangan ikannya atau airnya yang asin tanpa dibubuhi garam.

Ia punya harapan panjang agar para tunas bangsa di pesisir surya bahari punya pendidikan yang layak.

"Saat ini kami punya kekayaan laut yang diolah dari hulu sampai hilirnya. Tapi generasi selanjutnya harus lebih pandai agar SDM di Surya Bahari bisa mumpuni di segala bidang, sehingga bisa masuk dalam sektor-sektor yang lainnya," ucapnya penuh harap.

Renal bukan hanya sekadar berharap. Dia mencoba mewujudkan harapannya dengan membentuk TBM Samudera Baca Surya Bahari.

Lokasi taman baca yang ada di pesisir laut, menjadi keunggulan tersendiri, sebab anak-anak merasa seru saat belajar di situ. "Hal ini benar-benar diterima. Kata mereka (anak-anak), belajar di tepi laut seru dan menyenangkan," ujar Renal lagi.

Beragam Kegiatan

Selain mengajar anak-anak untuk bisa membaca dan menulis, taman baca yang didirikannya juga melaksanakan beberapa kegiatan lain. Mereka mencoba memperluas wawasan dengan kemasan menarik, kreatif, dan menyenangkan.

Cerita Taman Baca di Pesisir Tangerang 4Penggiat TBM Samudera Baca Surya Bahari berpose seusai melakukan kegiatan belajar mengajar. (Foto: Tagar/Mauladi Fachrian).

"Di dalamnya terdapat beberapa kegiatan untuk menstimulus kreativitas, dan inisiatif masyarakat, tidak hanya sebagai perpustakaan konvensional pada umumnya," ujarnya.

TBM Surya Bahari juga mempunyai program untuk memberikan sarana terbaik bagi masyarakat dalam belajar di luar ruang lingkup sekolah.

Selanjutnya, lanjut Renal, TBM ini juga sebagai dukungan terhadap program sustainable development goals atau tujuan pembangunan yang berkelanjutan yang keempat, tentang pedidikan yang berkualitas.

Secara kultur, kata dia, TBM Samudera Baca Desa Surya Bahari akan memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mempengaruhi minat baca di daerah dan memberikan lingkungan serta sarana yang kondusif.

"Kita lihat dari masing-masing kekurangan anak. Kalau memang perlu dari mengenal huruf, ya itu wajib kita lakukan," kata Renal.

Dengan TBM Samudera Baca, Renal ingin mengajak anak-anak dan warga lainnya untuk gemar membaca, agar informasi dan edukasi, semakin mudah tersampaikan. 

Sehingga mereka mampu meningkatkan kreativitas dan pengetahuan, termasuk membebaskan mereka dari jerat tengkulak. Untuk itu dia menyiapkan puluhan judul buku untuk mereka.

"Jika itu sudah digenggam, untuk menyentuh sektor penghidupan dalam dunia bisnis, dari permodalan sampai keuntungan tidak lagi terikat dalam ikatan para tengkulak yang selama ini mengeksploitasi tenaga nelayan disini," kata Renal sedikit kesal.

Setiap pekan, yakni pada hari Sabtu dan Minggu, TBM Samudera Baca menggelar perpustakaan gratis sebanyak dua kali, yakni pada pagi dan sore hari sebelum matahari terbenam.

"Allhamdulillah, kami bisa berproduktif. Anak-anak juga senang dan semakin rajin membaca," kata Renal lagi. []

Berita terkait
Sekerat Rindu dalam Sebait Nandong Simeulue Aceh
Teriakan mereka terasa mengusik, sesekali lelaki itu menggerutu karena dongkol.
Menghitung Jejak Kaki Singa yang Tersisa di Afrika
Sejumlah peneliti berusaha mencari metode yang tepat untuk menghitung jumlah singa di Afrika secara akurat.
Ikan-ikan Berekor Genit Pembawa Rezeki di Gowa
Seorang mahasiswa di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan mampu meraup omzet jutaan rupiah per bulan dari budidaya ikan hias.
0
Mengusir Buta Aksara di Pesisir Utara Tangerang
Seorang pemuda Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, di sebelah utara Kabupaten Tangerang mendirikan taman baca di pinggir laut di kampungnya.